
Pagi ini Farhan memilih untuk sarapan di sebuah restoran langganannya, dia memesan roti sandwich dan segelas kopi tanpa gula.
Sambil menunggu pesanannya datang, Farhan membuka ponsel yang baru saja berbunyi. Sebuah notifikasi pesan dari Jelita. Langsung saja Farhan menggeser tombol hijau tanpa membaca terlebih dulu isi pesan tersebut.
"Jelita ..." panggil Farhan.
"Iya, Pak Farhan. Saya Jelita," jawabnya.
"Kenapa, semalam tidak balas pesan saya?"
"Semalam saya capek, Pak. Begitu masuk kamar langsung terlelap, maaf ya?"
"Kamu dimana sekarang, saya mau ketemu,"
Jelita tidak langsung membalas pertanyaan Farhan, di seberang sana dia mulai tersenyum sendiri dengan loncat-loncat kegirangan. Misinya mendapatkan Farhan segera terlaksana.
"Lilit, kok diem?"
"Siapa Lilit itu Pak?" Jelita heran dengan panggilan yang diucapkan oleh Farhan.
"Lilit, panggilan sayang aku untuk kamu,"
Mendengar hal itu Jelita makin besar kepala, dia tersenyum lebar persis orang gila.
"Ya ampun, Pak. Gemes sekali sih, sampai panggil aku Lilit segala?" Mereka tertawa bersama.
"Cepat katakan kamu sekarang dimana, aku mau ketemu?"
Jelita segera mengatakan dimana alamat rumahnya sekarang, sedangkan Farhan segera pergi dari restoran tersebut. Bahkan, dia belum sempat menyentuh pesanannya tadi. Dia hanya meninggalkan selembar uang lima puluh ribuan diatas meja.
Perjalanan empat puluh lima menit, bukanlah waktu yang lama untuk seorang Farhan Handoko. Apalagi waktu masih begitu pagi, jalanan belum begitu padat.
Farhan berhenti di sebuah rumah kecil, yang mempunyai pagar tanaman peniti sebagai penyekat antara halaman dan jalan. Disana sedang duduk seorang wanita paruh baya, umurnya hampir tua sedikit dari Farhan.
Wanita itu nampak, tersenyum ketika Farhan turun dari mobilnya. Dengan ragu, dia melangkahkan kakinya dan menemui penghuni rumah tersebut.
"Apa benar ini rumah Jelita, Bu?" Tanya Farhan dengan sopan.
"Iya, betul. Apa ini, Nak Farhan?" Tanya Bu Emi kembali.
__ADS_1
"Iya, Bu. Apa Jelita ada?"
"Duduklah, Ibu akan panggil Jelita keluar,"
Farhan mengangguk sopan, lalu duduk di sebelah tempat duduk Emi tadi. Farhan melihat sekitar rumah Jelita yang nampak masih asri dan tenang, khas rumah di perkampungan.
Masih banyak tanaman mangga dan beberapa pohon pisang di halaman rumah warga. Rumah tetangga juga berderet rapi, Farhan masih bisa melihat kebiasaan ibu-ibu bila sedang berkumpul. Mereka yang kepo dengan kedatangan Farhan merapat di salah satu rumah warga, lalu berpura-pura mencari kutu sampai berbaris-baris.
Bibir dan matanya siap menjadi juru warta desa. Memang aneh, tapi itulah kebiasaan mereka.
Tak lama Jelita keluar dengan pakaian tertutup bahkan, berhijab pula. Seketika Farhan tertegun, dia menatap Jelita dalam-dalam karena tidak mau salah mengenali orang.
"Pak Farhan ..." panggil Jelita.
"Kamu benar-benar Jelita?" Farhan masih memandang Jelita dengan takjub. Karena semalam dia masih memakai pakaian terbuka tapi sekarang berbeda terbalik.
"Iya, ini saya. Hem, Bapak pasti heran melihat cara berpakaian saya ya? Beginilah saya selama dirumah bila sedang bekerja beda lagi,"
"Kamu cantik memakai hijab seperti ini, kenapa kamu membuka auratmu bila bekerja? Farhan memegang ujung jilbab yang dikenakan oleh Jelita.
"Itu karna saya membutuhkan uang, Pak. Kami hanya hidup berdua, dan Ibu juga sudah tua mana mungkin saya membiarkan Ibu bekerja," ucapnya dengan mimik muka yang dibuat semelas mungkin.
"Maaf, aku tidak tau. Kalau keadaannya seperti ini, aku minta maaf. Bisakah kita mengenal lebih jauh Lilit?" Farhan sengaja memanggil Jelita dengan panggilan sayang, supaya perempuan itu menerima keinginannya.
Merasa dilihat banyak Ibu-ibu tetangga, Jelita meminta Farhan untuk masuk ke dalam rumah. Dia tidak mau urusannya diketahui banyak orang, dia hanya berpura-pura bahwa, Farhan menemuinya karena memang menyukainya bukan, karena dia memasang sebuah pengasihan atau guna-guna.
Walaupun memang semua itu benar adanya. Yang pasti dia ingin terlihat sebagai perempuan baik-baik, bukan perusak rumah tangga seseorang.
Tanpa terasa, Farhan berada dirumah Jelita begitu cukup lama. Bahkan, kini mereka berdua sedang berada disebuah mall untuk membelikan Jelita sebuah baju gamis baru, lengkap dengan tas mewah dan juga sepatu.
Tak lupa Farhan juga membeli satu set perhiasan emas, sebagai tanda sayangnya terhadap Jelita. Entah mengapa Farhan begitu royal saat Jelita meminta ini dan itu.
---
Karena tadi pagi Farhan tidak sarapan di rumah, maka Marisa berinisiatif untuk membawakan makan siang untuk Farhan, sekaligus untuk meminta maaf kepada lelaki yang dia sayangi itu.
Namun, Marisa terkejut karena suaminya itu tidak berada di kantor. Dia sengaja menyuruh sekretaris Farhan yang bernama Maulana, untuk menemaninya di ruangan selama suaminya itu tidak berada disana.
Sekitar pukul satu siang, Farhan baru ke kantor. Dia terkejut, karena sang istri dan anak bungsunya berada di ruangannya sedang tertidur di sofa.
__ADS_1
Farhan kembali ke luar untuk menemui sekretarisnya. "Maulana, sejak kapan istri saya di sini?"
"Sejak jam sebelas tadi siang, Pak. Beliau membawa makanan untuk Bapak, katanya tadi pagi Bapak tidak sempat sarapan dirumah."
Bukannya menjawab, Farhan malah pergi dan kembali ke ruangannya. Farhan merasa istrinya itu sudah tidak menarik, bahkan mukanya terlihat tua dan keriput persis nenek-nenek. Jangankan ingin mengajaknya bercinta, hanya sekedar menciumnya saja dia jijik.
Dia memilih untuk sibuk di depan laptopnya, tanpa sadar Marisa kini telah terbangun, dan memperhatikannya dari jauh. "Pa ..." panggil Marisa.
"Hm," ujarnya tanpa menoleh.
"Dari mana?" Tanya Marisa sambil berjalan ke arah suaminya.
"Apa urusan kamu tanya-tanya? Aku ini sedang bekerja, seharian ini aku sibuk menemui investor asing, mereka ingin bekerja sama dengan perusahan ku."
Marisa hanya diam, tanpa memperlebar pertanyaannya. Mungkin apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar, tapi pertanyaannya kenapa Maulana tidak ikut rapat, dia kan sekretarisnya?
Marisa mencoba berfikir secara logika, dia menepis semua prasangka buruknya terhadap suaminya. Mungkin saja Maulana sibuk, jadi semua urusan di handle oleh suaminya sendiri.
Marisa membuka makanan yang tadi dibawanya, tapi Farhan hanya melirik kegiatan sang istri tanpa ingin mengatakan apapun terhadapnya.
Marisa mendekat ke arah sang suami yang sedang memeriksa dokumen yang berada diatas meja.
"Makan dulu yuk, tadi aku masakin makanan kesukaan Papa. Tapi Papa malah pergi duluan ke kantor," ucap Marisa, sambil mengarahkan makanan ke arah sang suami. Biasanya saat suaminya itu sibuk, dirinyalah yang menyuapi-nya. Dia tidak mau suaminya itu jatuh sakit.
Namun, apa yang terjadi? Farhan sengaja menyenggol makanan yang dibawa oleh Marisa, alhasil lantainya lah yang menikmati makanan tersebut.
"Astaga, kenapa kamu ceroboh? Jadi kotor kan lantainya? Farhan membentak sang istri.
"Kok aku yang disalahkan, Papa sendiri yang menyenggol makanan itu," entah mengapa Marisa malah tersulut emosi, padahal sejak pagi dia sudah berusaha untuk sabar dan berpikir positif.
"Kamu berani berkata tinggi ke aku?" Farhan kembali meninggikan suaranya.
"Pa, kenapa kamu berubah dalam semalam? Apa yang sedang terjadi kepadamu, katakan kepadaku?" Tanyanya tak kalah sengit.
Membuat karyawan yang berlalu lalang di depan ruangan sang CEO, mendengar pertengkaran suami istri itu. Padahal, biasanya kedua pasangan itu adalah pasangan yang serasi.
Tidak pernah ada cek cok atau pertengkaran yang terjadi diantara mereka, seperti sekarang ini. Membuat semua orang yang mendengarnya terkejut.
"Kamu yang aneh, orang aku gak kenapa-napa kamu saja yang aneh!"
__ADS_1
Merasa hatinya tidak baik-baik saja, Marisa memilih untuk menggendong Alvin yang tiba-tiba menangis mungkin dia paham mengenai pertengkaran antara papa dan mamanya saat ini.
Setelah semuanya beres, Marisa memilih meninggalkan ruangan suaminya dengan air mata yang berderai.