
Kini mereka berlima telah sampai dirumah, setelah menidurkan Alfian, Marisa mengecek kamar Alvin dan Alya. Setelah memastikan ketiga anaknya sudah tidur, barulah dia menaiki ranjang dan bersiap untuk tidur.
Disana sudah ada sang suami yang sudah merebahkan dirinya terlebih dulu. Rupanya dia sudah begitu lelah, sehingga baru saja merebahkan badan, matanya sudah terlelap saja.
Dalam mimpi, dia sedang bertemu dengan Jelita. Mereka nampak, duduk berdua di sebuah tempat yang tidak begitu ramai. Tak ada rasa sungkan dalam pertemuan kali itu, karena Jelita lebih dominan bercerita.
Karena merasa gemas saat melihat Jelita berbicara, akhirnya satu kecupan dipipi mewakili perasaan hatinya. Kemudian dilanjutkan dengan saling bercumbu satu sama lain.
---
Sedangkan ditempat lain, Jelita sedang sibuk merapal doa dengan selembar foto ditangannya. Ada asap menyan mengepul dibawahnya, "jabang bayine Farhan seng ono ning foto iki, gendengo kowe karo aku Jelita. Sak sobo paranmu, elengo terus karo aku gendeng, gendeng, gendeng!"
Bersamaan dengan itu, mata Farhan yang tadinya terpejam, kini telah terbangun. Dia segera mengusap mukanya dengan kasar, lalu menoleh pada sang istri yang sudah terlelap.
Farhan menuruni anak tangga, lalu menuju taman dibelakang rumah. Menatap layar handphone yang tengah menyala. Dengan cepat dia mencari nomor Jelita disana. Setelah ketemu, dia segera menggeser tombol hijau.
Terdengar suara panggilan telpon dari ponsel Jelita. Dia tau, pasti itu adalah Farhan. Lelaki yang sudah lama menjadi incaran nya. Berkat bantuan Nadim, tetangga rumahnya, dia berhasil mendapatkan informasi tentang seorang Farhan Handoko. Lelaki kaya raya, pemilik perusahaan Handoko Corporation.
Jelita, sengaja tidak langsung menerima panggilan tersebut, dia ingin tau betapa tersiksa nya lelaki itu bila keinginannya tidak langsung terpenuhi.
Lama tak ada sahutan, membuat Farhan merasa jengkel terhadapnya. Dengan cepat dia mengetik pesan singkat, supaya dapat dibaca Jelita nanti, saat dia membuka pesannya.
("Selamat malam cantik, entah mengapa saat pertemuan pertama kita tadi, membuat aku tidak bisa melupakanmu, bisakah besok kita bertemu? Aku rindu.")
Send
Dan terkirim.
Jelita tersenyum senang, akhirnya mangsa nya kena juga. Lagi-lagi, Jelita tidak membuka pesan tersebut pastinya dengan alasan yang sama. Ingin melihat Farhan menggila i dirinya.
__ADS_1
Farhan yang frustasi karena pesannya belum dibaca, membuat dirinya mengumpat kesal. "Awas kalau ketemu, tidak akan ku biarkan kamu pergi dariku."
Marisa yang sedang terlelap tiba-tiba terbangun, mimpi tentang tali sendal terputus membuatnya tidak bisa memejamkan matanya kembali.
Marisa menyeka keringat yang membasahi tubuhnya, lalu menoleh ke arah tempat sang suami terlelap. Dia baru sadar bahwa, suaminya tidak ada disampingnya. Karena haus, Marisa menuju dapur. Namun, dia tak menduga bahwa suaminya sedang berada diteras rumah seorang diri.
Dia mendekati sang suami, yang saat itu sedang mengumpat kesal. "Sedang marah sama siapa, Pa?"
Farhan terkejut, lalu menoleh ke arah sumber suara. "Sedang apa, apa Mama kemari?"
"Seharusnya, Mama yang tanya. Kenapa Papa disini, marah-marah lagi?" Marisa menyodorkan air putih kepada suaminya.
"Aku sedang gerah saja dikamar, iseng-iseng buka hape ternyata ada masalah dikantor. Sedangkan orang yang menanganinya aku hubungi tidak bisa terus," ucapnya berbohong, dia tidak mau istrinya itu curiga. Untuk menutupi kegugupannya, dia segera meminum air putih yang barusan diberikan oleh sang istri.
"Ya udah besok saja di obrolin lagi, sekarang sudah malam ayo tidur." Ajak Marisa, dengan menggandeng lengan suaminya. Tapi sayang, Farhan memilih mendahului langkahnya dan satu langkah lebih cepat dari istrinya.
Marisa, menggeleng lemah melihat tingkah Farhan, dia merasa kini sang suami sedang marah jadi masih emosi. Marisa tidak tau saja, bahwa kini sang suami pikirannya sedang tidak bersamanya, melainkan bersama orang lain.
"Iya, Papa istirahat Mama gak akan ganggu," jawabnya dengan menarik selimut dan bergerak mendekat ke arah suaminya.
Tanpa Marisa duga suaminya itu bangkit dari tidurnya, lalu berkata "mau ngapain?"
Mendengar hal itu, mata Marisa berkaca-kaca. "Kamu kenapa sih Pa, sebelumnya kamu gak pernah seperti ini?"
"Jangan cerewet, aku mau tidur di kamar tamu saja." Farhan langsung meninggalkan istrinya yang kini diliputi tanda tanya besar.
"Ya, Allah kenapa suamiku, kenapa dia seperti ini?" Gumam Marisa pelan.
Marisa yang terkejut dengan perilakunya suaminya menangis tersedu, dia tak percaya dengan sikap suaminya kali ini. Untuk menenangkan hatinya, Marisa memilih untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajjud. Dia ingin berdoa agar suaminya kembali seperti dulu. Dan tak terasa pagi pun menjelang.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Marisa dibuat terkejut kembali oleh perilaku suaminya. Farhan sudah rapi menggunakan pakaian kantornya, dengan parfum yang begitu menyengat hidung.
Marisa menyuguhkan segelas kopi, di hadapannya. "Wangi banget Pa, ma..." belum selesai berbicara, Farhan kembali melotot ke arah sang istri.
"Jangan cerewet!" Usai berkata, Farhan langsung pergi menyambar jas yang ada di kursi. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Farhan sama sekali tak melihat kini sang istri yang sedang menahan tangisnya.
"Pa, gak sarapan dulu? Aku sudah siapkan." Teriaknya, tapi lagi-lagi ucapannya itu sama sekali tidak digubris oleh suaminya.
"Ya Allah, kenapa suamiku itu?" Gumamnya tapi masih bisa didengar oleh orang lain.
Kedua anak laki-laki dan perempuannya, baru saja duduk di meja makan, mereka berdua bingung melihat sang mama menunjukkan rasa sedihnya.
"Mama kenapa?" Tanya Alya, sambil meminum susu yang baru saja diberikan oleh asisten rumah tangganya.
"Gak papa, Mama hanya kelilipan sayang. Ayo cepat makannya, Pak Guntur sudah siap dari tadi." Marisa memilih untuk pergi ke kamarnya, dia tidak mau kesedihannya dilihat oleh kedua anaknya.
Di dalam kamar, Marisa memilih untuk pergi ke kamar mandi, dengan menyalakan keran air. Dia melampiaskan kekesalannya dengan menangis di bawah guyuran air shower.
Hampir sepuluh menit kegiatan itu berlangsung, sampai kedua anaknya mencarinya ke kamar untuk meminta ijin untuk pergi ke sekolah.
"Ma, kami mau berangkat," ujar Alvin sambil mengetuk pintu kamar mandi. Karena dia mendengar suara air, yang memenuhi ruangan.
Karena tidak mau membuat kedua buah hatinya melihat matanya yang sembab, Marisa melepas semua pakaiannya dan berganti dengan handuk piyama.
"Maaf ya sayang, Mama baru saja selesai mandi," ucapnya dengan mengeringkan rambutnya yang basah.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Kalau begitu kami berangkat," ucap kedua buah hatinya bersamaan.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Jawab Marisa.
Setelah keduanya pergi, Marisa terduduk di ranjang miliknya. Memikirkan tentang perilaku suaminya, yang berubah dalam semalam.