
Sedangkan ditempat lain Jelita dan Ibunya sedang bersuka cita, karena mereka berhasil mendapatkan hati seorang Farhan lelaki kaya raya di Kotanya.
"Bagaimana pendapat Ibu, aku keren kan?" Ucap Jelita jumawa.
"Gak salah Ibu, turunkan ilmu lintrik itu kepadamu. Setelah berhasil, Ibu akan turunkan lagi ilmu pelet yang lainnya,"
"Wah, Ibu keren. Memangnya dulu Ibu belajar ilmu itu dimana?"
"Dari seorang perempuan tua, teman Nenek waktu masih muda,"
"Berarti, Ibu menikah sama Ayah juga dari pelet itu juga?" Tanya Jelita penasaran.
"Ya, enggaklah. Mana ada, Ibu dan Ayahmu itu cinta pada pandangan pertama. Bukan cinta karena ada apanya," Emi memukul kepala sang putri.
Peletak ...
"Auw, sakit Bu." Cicitnya sambil terus mengusap kepalanya.
Emi meninggalkan Jelita yang sedang kesakitan karena ulahnya. Dia pergi ke kamarnya untuk istirahat, sudah beberapa hari ini dia merasa sakit di belakang kepalanya.
Sedangkan Jelita sibuk berselancar dengan Farhan di dunia maya.
---
Sudah hampir dua minggu lebih, sifat Farhan semakin aneh. Dia jarang sekali pulang ke rumah bahkan waktunya, banyak dihabiskan di kantor.
Marisa juga tidak pernah menanyakan dimana suaminya beberapa hari ini tinggal, percuma saja ditanyakan jawabannya pasti akan berakhir dengan pertengkaran.
Suatu ketika, Maya-keponakan Farhan datang berkunjung bersama suaminya. Sejak acara ulang tahun tersebut, keluarga Om-nya itu tidak berkabar dengan keluarga yang lainnya. Membuat Maya ingin sekali mengunjungi keluarga nya itu.
Mereka disambut hangat oleh asisten rumah tangga Farhan dan Marisa. "Silahkan masuk, Mbak Maya dan Mas Azis,"
"Mana Tante, Mbok?" Tanya Maya, sambil mendudukkan tubuhnya disofa ruang tamu."
"Em, Nyonya... Nyonya, ada Mbak. Tapi badannya lagi kurang sehat," jawabnya tergagap.
"Loh, jadi Tante sakit? Sakit apa Mbok? Lalu Om, kemana?" Maya celingukan.
"Tuan, sekarang jarang pulang. Nyonya sakit saja, Tuan sepertinya gak tau Mbak," terang Mbok Arum.
__ADS_1
Mbok Arum memilih untuk pergi ke dapur, dia tidak mau Maya mengintrogasinya lebih dalam.
"Saya buatin minum dulu ya, Mbak?"
Maya dan Azis saling pandang, mereka berdua seakan berbicara dari gerakan mata. Tak lama, Maya mulai berjalan ke taman depan rumah entah apa yang sedang dilakukannya?
Merasa semuanya aman, Maya pergi ke dapur untuk menemui Mbok Arum. Melihat Maya berjalan ke arahnya, membuat Mbok Arum sedikit waspada, dia tidak mau orang lain mengetahui masalah yang terjadi dalam keluarga sang majikan. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri, tugasnya sendiri hanya bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya.
"Maaf ya, Mbok. Aku masuk ke dapur, boleh gak aku ke kamar Tante?"
Walaupun keluarga dekat, Maya tidak mau seenaknya keluar masuk rumah orang tanpa permisi.
Mbok Arum, bernafas lega. Hampir saja dia berprasangka buruk terhadap Maya, dia ingat bahwa keponakan Farhan ini adalah orang yang paling menjunjung kesopanan.
"Eh, iya Non. Silahkan, pasti Nyonya senang kalian datang."
Dengan cepat, Maya menaiki tangga menuju kamar Tantenya. Di saat akan sampai di depan pintu kamar, kamar Marisa sudah terbuka. "Astaga, Maya! Tante, terkejut. Hampir saja Tante jantungan," ucapnya sambil mengelus dada.
"Maaf, Tan. Katanya Tante sakit, kok keluar kamar?"
"Tante mau ambil air panas, untuk bikin susunya Alvian. Tante gak papa, sempat pusing sih, tapi sudah baikan,"
Maya yang merasa ada yang janggal dengan tingkah sang tante, memberanikan diri untuk menanyakan kemana perginya Omnya itu.
"Ada apa, Tan?" Tanya Maya membuka percakapan diantara keduanya.
"Begini, May. Sebenarnya tidak baik, membuka aib suami Tante sendiri di depan orang lain. Tapi berhubung kamu masih saudara dekat Mas Farhan, jadi aku beranikan diri untuk bertanya kepadamu,"
"Apa itu, Tan?" Sebenarnya, Maya sudah merasa ada sesuatu yang terjadi dengan rumah tangga sang Om. Tapi dia tidak mau mendahului untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Tantenya tersebut.
"Mas Farhan sudah dua minggu lebih, jarang sekali pulang ke rumah May. Setiap aku tanya, dia selalu marah dan langsung pergi. Aku bingung dengan sikapnya," terangnya dengan menahan getaran dalam dada.
"Apa, Tante ada masalah sebelumnya?"
"Tidak, Maya. Kamu tahu sendiri bagaimana perangai Mas Farhan terhadap keluarganya. Tapi, semenjak acara ulang tahunnya kemarin semuanya jadi seperti ini. Mas Farhan berubah dalam semalam," kali ini air matanya menganak sungai. Bahkan isakkannya mampu menggetarkan seluruh badannya.
"Sebelumnya, Maya mau mengatakan sesuatu yang bisa membuat, Tante tidak akan percaya. Karena, Maya melihat mahluk lain dalam diri Tante. Dan auranya begitu gelap," sambil memegang kedua tangan Marisa untuk menguatkan hatinya.
"Astaghfirllah, apa itu May?" Tubuh Marisa seketika bergidik ngeri, dia merasa ketakutan.
__ADS_1
Maya yang melihat, tantenya ketakutan segera merengkuh nya. "Jangan takut, sosok itu tidak akan menyakiti Tante. Dia hanya diperintah oleh seseorang untuk, menutup mata Om Farhan. Setiap kali melihat Tante, dia akan melihat sosok kera yang wajahnya rusak dan menjijikkan."
Marisa mencengkeram ujung bajunya, dia begitu marah. Siapakah orang yang telah berani menghancurkan kehidupan rumah tangganya, yang sudah dibangunnya sejak sepuluh tahun yang lalu bersama Farhan.
Pantas saja, tatapannya begitu aneh saat melihat dirinya. Bahkan, setiap kali Marisa bersuara memanggil namanya pun dia seakan tidak mau menerima panggilan darinya pula.
Kali ini tangisannya mereda, dia bertekad untuk menyembuhkan suaminya itu dari gangguan seseorang yang dianggapnya telah merusak rumah tangganya.
"Maya, bisakah kamu membantu Tante untuk kembali menyadarkan Om kamu?" Pinta Marisa mengiba.
Melihat penderitaan yang sedang dialami oleh sang tante, Maya pun mengangguk menyanggupi keinginan tantenya itu. Dia juga tidak rela, bila omnya jatuh ke tangan perempuan yang jahat.
"Apa yang akan kamu lakukan, May?"
"Pertama, Tante harus berdoa kepada Allah agar Om ingat kepada Tante lagi. Lakukan sholat tahhajud untuk meminta petunjuk Allah. Saya akan menyuruh Azis untuk pergi ke kantor, Om Farhan mencari tahu siapa sosok perempuan yang mengganggu rumah tangga Om dan Tante."
Setelah selesai berbincang, keduanya memutuskan untuk turun ke bawah. Marisa menemui Aziz untuk membantunya pergi ke kantor suaminya. Biasanya Farhan akan lebih terbuka, bila sedang mengobrol dengan Aziz.
Kesempatan itu tidak boleh disia-siakan, akhirnya Maya dan Azis memutuskan untuk pulang. Mereka berdua berjanji, untuk segera mengabarkan apapun yang menyangkut kabar mengenai omnya tersebut.
Azis juga akan berusaha untuk membawa kembali omnya itu untuk kembali pulang ke rumah.
---
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Biasanya Omnya itu akan keluar ke restoran terdekat untuk makan siang. Kesempatan itulah yang akan digunakan oleh Azis untuk, menemui omnya.
Azis, tiba dikantor Farhan dengan meminta ijin bertemu dengan sekretarisnya, "bisa saya bertemu Om Farhan?"
"Oh, Pak Azis. Bisa Pak, tapi beliau sedang ada tamu," ucapnya sopan.
"Tamu, klien maksutnya? Atau orang lain?" Mendengar hal itu, sang sekretaris langsung menunduk.
"Ada apa?" Tanya Azis kembali.
"Em, sebenarnya tamu Pak Farhan itu seorang perempuan. Menurut informasi, dia adalah saudara jauh beliau. Setiap makan siang, dia selalu datang membawa makanan untuk Pak Farhan,"
Azis semakin penasaran, tanpa menunggu persetujuan dari sekretaris tersebut dia langsung menuju ke ruangan Farhan. Walaupun sekretaris tersebut berteriak memanggil namanya, lelaki itu tetap saja berjalan dan kini kakinya hampir menggapai pintu ruangan Farhan.
Pintu dua kali diketok dan membuka. Terlihat kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu, sedang menikmati makan siang berdua.
__ADS_1
"Kamu?!" Tanya Farhan.