
Mega hanya anak seorang gadis pemilik cafe di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Usianya masih 16 tahun dan kini dia menginjak pendidikan menengah akhir.
Sebagai seorang anak pemilik cafe tentu tak banyak waktu bebas untuknya bersenang-senang menikmati masa mudanya. Pagi sekali dia harus sudah bangun untuk menyiapkan beberapa perlengkapan untuk cafe yang akan dijaga orang tuanya. Selesai mempersiapkan semua ia berangkat ke sekolah yang memang tak jauh dari rumahnya.
Berjalan kaki, sambil merasakan Sepoi angin yang bertiup menggoyangkan rambutnya yang terurai. Sampai pada gang menuju sekolah, teringat wajah laki-laki yang setiap hari di antar sang ibu.
" aahh.. andaikan aku lebih cepat menyadari perasaan ku. Apa mungkin kehilangan mu tak pernah terjadi?" batin Mega.
Tak pernah sekalipun Mega mendapat kabar dari laki-laki yang singgah di hati sejak kepergiannya. Memang tak ada hubungan antara mereka, bahkan hanya untuk bertegur sapa. Louis, cinta monyet Mega yang sekarang entah dimana ia menapak.
Ditempat biasa teman Mega berkumpul untuk menunggunya bersama masuk ke sekolah. persahabatan yang terjalin sejak SMP tetap kuat walaupun kini mereka sudah berbeda jurusan.
"berangkat sekarang?" tanya Mega
"iya.. udah telat nih!" jawab Alin
"aku juga ada piket, tumben banget nelat hari ini?" ujar Eria.
"sorry sorry.. tadi keenakan nikmatin angin" jawab Mega
Mereka berempat pun menuju kelas masing-masing. Mega dan Kamil yang satu kelas langsung menuju bangku kelas IPA 1 di lantai 3.
Hari itu seperti biasa, Mega selalu semangat dengan materi yang disampaikan oleh guru. Mengerjakan tugas dengan cepat dan diam. Ya, diam. Hanya itu yang dilakukan Mega di sekolah. Berangkat, mendengar penjelasan, mengerjakan soal, diam.
Tak banyak kegiatan yang ingin dilakukan Mega tiap sekolah. Karena memang dia enggan, lebih suka diam ditempat. Kalau ditanya dengan siapa dia bercengkrama jawabannya pasti hanya bersama Kamil, Alin, dan Eria. Dengan teman sekelas hanya sekedar tanya jawab mengenai pelajaran, bisa dibilang Mega salah satu siswa populer atas kepintaran nya.
"Ga, ini maksudnya gimana?" tanya Adam sambil berjalan menuju bangku Mega.
"yang mana?" ujar Mega sambil melihat buku Adam.
"yang no 4, susah tuh. Habis gue sama in pangkatnya jadi gini" jawab Adam yang kebingungan dengan pertanyaan dari guru.
__ADS_1
Ya. selama ini hanya Adam, siswa putra yang berani bertanya pada Mega dengan santai.
Mega pun menjelaskan dengan detail cara penyelesaian soal yang diberikan guru pada Adam. Tak butuh waktu lama untuk menjelaskan karena memang Adam sangat cocok jika belajar dengan Mega, seakan Mega adalah guru privat nya. Mega sendiri hanya menganggap Adam sebagai teman yang butuh pertolongan nya saja.
"oke thanks Ga, gue masih heran deh kenapa tiap gue belajar sama loe bisa langsung masuk gitu. Tapi sama Ms. Wita gak sama sekali." ujar Adam
"itu sih loe nya aja yang gak mau dengerin. tiap Ms. Wita jelasin loe nya ngorok" jawab Mega sambil memutar mata nya mengejek Adam.
"no no gak gitu juga Ga, suara Ms. Wita merdu banget sih makanya gue ngantuk" elak Adam.
"dasar.. udah sana balik ke bangku. udah selesai kan" kata Mega sambil memukul bahu Adam dengan buku tulis.
"bentar ah.. nunggu sini enak bawah AC. hemm.. enak kali ya tidur disini" tolak Adam sambil berganti duduk di sebelah bangku Mega dan meletakkan kepalanya di atas meja membuat Mega kaget dan kaku sejenak melihat tingkah Adam.
"eh.. apaan sih sana.. ini bangkunya Kamil tau" ujar Mega dengan menggoyangkan tubuh Adam dengan pulpen yang sedari tadi ia pegang.
"huh.. padahal pengen disini aja. " Adam pun berdiri " iya nih gue balik. thanks buat math nya" jawab Adam lemas ambil berjalan menuju tempat duduk nya.
Bel sekolah berbunyi sebagai tanda waktu pulang. Mega segera merapikan peralatan tulis yang ia bawa. guru segera mempersiapkan para siswa untuk berdoa. setelah salam para siswa berhamburan keluar kelas dengan wajah senang karena waktu hang out tiba.
Begitu pula dengan Mega, ia segera keluar kelas dengan Kamil menghampiri Eria dan Alin yang ternyata sudah ada di lantai dasar.
Seperti biasa mereka menuju tempat parkir kemudian saling mengucap perpisahan.
"gue duluan ya guys" kata Eria
"oke bye, Mega mau bareng gak..?" tanya Kamil
"gak ah loe duluan aja, gue pengen jalan sekalian mampir toko depan, mau cari sampo" jawab Mega "loe duluan juga Lin udah di jemput tuh"
"oke kalau gitu, gue duluan ya bye" ujar Alin dan Kamil.
__ADS_1
Mega berjalan menyusuri jalanan berpaving. dirasa ada seseorang menatap dari belakang ia berhenti menepi. Sengaja ia menengok kebelakang dan terlihat laki laki yang terus mengikuti langkahnya.
Adam. Ya, saat ini Adam ada dibelakang Mega ikut berhenti dan tersenyum ketika mata mereka bertemu. Kemudian melangkah kedepan menghampiri Mega.
"Adam, ngapain loe jalan? bukannya tiap hari pake motor?" tanya Mega heran.
"emang kalau gue pake motor gak boleh jalan gitu?" ujar Adam mengejek
"ya gak gitu, cuma aneh aja. tumben banget jalan. lagian rumah loe juga lumayan jauh" kata Mega.
"entahlah dari tadi pagi juga pengen jalan. lagian kalau capek tinggal nongkrong di cafe loe kayak biasanya kan" kata Adam sambil meneruskan langkahnya.
"ya terserah deh, lagian juga bukan urusan loe mau jalan, loncat apa terbang" ujar Mega mengikuti langkah Adam sambil mengangkat bahunya.
"motor nya gue jual" kata Adam, membuat Mega kaget dan berhenti. kemudian menatap Adam bingung. " gue males aja, santai dong liat nya"
"ohh.." jawab Mega lalu memalingkan wajahnya ke jalan dan melanjutkan langkahnya.
" ternyata enak juga ya jalan kaki, apalagi bareng sama cewek gini" kata Adam asal memecah keheningan.
Mega hanya diam kemudian melirik Adam tajam.
"please deh tatapan lho bisa bunuh gue nih. oke oke gue diem" ujar Adam ketakutan melihat reaksi Mega.
Sampai persimpangan Mega berbelok ke arah gang rumahnya. Adam yang harusnya masih harus berjalan lurus malah mengikuti langkah Mega. Mega yang menyadari hal tersebut akhirnya bertanya
"rumah loe kan gak lewat sini Dam, sana....!!" perintah Mega.
"Emang gak boleh kalau gue antar loe pulang dulu?" tanya Adam membuat Mega kaget tentunya.
**bersambung.
__ADS_1