Pembaca Hati

Pembaca Hati
03


__ADS_3

Malam hari, seperti biasa Mega membawa ranselnya yang berisi beberapa buku tugas yang harus ia kerjakan ke cafe barunya. Menggunakan motor ibu nya ia berangkat menyusuri jalan besar.


Tak sampai 10 menit perjalanan matanya sudah melihat beberapa orang antre di dalam. Segera ia memarkirkan motornya bergegas masuk untuk membantu ayahnya melayani para pelanggan.


"malam kak, pesan apa hari ini?" sapa Mega didepan kasir sudah ada dua perempuan yang ingin memesan.


"mocca frape 2 sama mini red Velvet 2 ya"


"iya kak semua, 72 ribu. terimakasih silahkan ditunggu di meja 5 ya"


Semua pelanggan sudah duduk di tempat menunggu pesanan yang akan diantar para pegawai. Sekarang saat nya Mega mengerjakan tugas.


Duduk dibawah lampu penerangan samping taman dengan minuman favoritnya Vanilla smoothie. Dengan fokus Mega mulai mengerjakan beberapa soal, sambil membolak-balikkan halaman buku yang mulai kusut terlalu sering bergerak.


"Fokus banget sih!" suara laki-laki terdengar begitu nyaring dan jelas.


Menengok ke arah sumber suara, didepannya sudah ada laki-laki yang menopang wajahnya dengan kedua tangan sambil tersenyum menatap Mega.


"A-lou! huh bikin kaget aja. Lagi fokus nih!" seru Mega.


"kamu nya aja yang keasikan ngerjain, aku udah 10 menit disini tau!" ucap A-lou mengusap acak rambut Mega.


"kan mulai, berantakan nih rambut ku!" kata Mega sambil merapihkan rambutnya.


"tumben agak malem kesini nya?" imbuh Mega


"kenapa? kangen ya?" goda A-lou


"gak lah cuma penasaran aja, biasanya kan kesini jam 7, tumben banget jam 9 baru dateng" ucap Mega sambil layar ponselnya.


"ada urusan dikit Ga, biasa anak semester akhir!" seru A-lou.


Diluar sekolah Mega memang dekat dengan A-lou, mahasiswa kedokteran semester akhir yang sering nongkrong di cafe milik orang tua Mega. Walaupun beda usia 5 tahun, mereka terlihat akrab satu sama lain.


Mega menganggap A-lou sebagai kakak, begitu pula A-lou yang menganggap Mega seperti adiknya karena memang A-lou kini berjauhan dengan keluarganya. Laki-laki keturunan Malaysia Timor Leste itu sangat bersemangat jika bertemu dengan Mega.


Berkebalikan dengan sifatnya di sekolah, Mega nampak bebas saat bersama dengan A-lou. Bercerita tentang segala hal yang ia rasakan. Bertanya tentang apa yang tidak dia ketahui. Bersyukur Mega bertemu dengan A-lou yang sering membantunya menyelesaikan pr nya.


"Ada jawaban yang belum ketemu sampek bukunya kusut gitu?" tanya A-lou, Mega hanya mengangguk kemudian menunjukkan soal yang belum bisa ia selesaikan.


Menghela nafas, A-lou memakai kacamata khasnya kemudian mengambil pena milik Mega dan mulai menjelaskan.


"haduh, mulai deh pak profesor" gerutu Mega melihat tingkah A-lou yang selalu memakai kacamata tanpa lensanya ketika menjelaskan sesuatu.

__ADS_1


"apa? apa? udah deh ini kan memang style profesor doktor A-lou" ucapnya sambil menjentikkan jari didepan Mega sambil tersenyum.


"udah sini dengerin" imbuhnya


Memutar bola mata jenuh dengan sikap A-lou yang super PD, akhirnya Mega mulai berkonsentrasi mendengarkan penjelasan A-lou.


Hampir satu jam Mega menyelesaikan tugas sambil bercengkrama dengan A-lou. Cafe mulai ramai dengan pelanggan laki-laki, tanda untuk Mega mengakhiri aktivitasnya. Waktunya untuk pulang.


"udah jam 10 aja, padahal baru ngobrol bentar. Gara gara tugas nih susah banget!" gerutu Mega yang belum puas bercerita.


"lanjut besok aja Ga, udah malem. Tuh om Irwan udah manggil.


" iya deh moga aja besok gak ada tugas jadi bisa ngobrol banyak sama A-lou. Banyak banget soalnya yang belum aku cerita in"


" masalah apa sih? cowok?"


"emmhh salah satunya sih itu"


"ya udah besok aja, besok juga kan malem Minggu, bisa ngobrol lama"


Mega pun pamit pulang dengan mengendarai motor di dampingi Papanya.


**


Mengingat pesan Adam, Mega memutar haluan untuk lewat jalan besar. Sedikit memakan waktu memang tapi mau bagaimana lagi, jika harus memilih untuk bertemu pemuda pemuda mabuk lebih baik memutar langkah.


Ujung gang sudah terlihat, langkah Mega terhenti saat sebuah motor mendekat tepat disampingnya.


"nah.. kan lebih aman kalau lewat sini!" celetuk pengemudi motor tersebut.


"dasar tukang ngagetin!!!" teriak Mega sambil memukul helm Adam


"ha ha ha ya udah ayo naik!"


"gak ah.. loe gak inget kemaren anak anak liat kita gimana? gue jalan aja!"


"kayak gitu loe anggep? biasa aja kali!"


"loe nya sih biasa aja, lha gue?"


"makanya di biasa in mulai sekarang, jarang jarang kan bisa nebeng gue?"


"gak Dam, gue jalan aja! loe duluan sana!" ketus Mega sambil melangkahkan kaki nya.

__ADS_1


Adam hanya menghela napas dan mengikuti langkah Mega sambil mendorong motor nya dengan posisi tetap duduk. Melihat tingkah Adam, Mega menghentikan langkahnya menatap Adam.


"ngapain ngikutin gue sih? kan udah gue bilang loe duluan aja Adam!!!" geram Mega


"kan gue juga udah bilang naik aja Mega!!" kata Adam mengikuti gaya bicara Mega


Menghela napas Mega pun segera naik daripada harus berdebat lebih dengan Adam.


" oke oke tapi turunin gue agak jauh dari gerbang, jangan Sampek keliatan anak anak, ntar jadi gosip lagi!" perintah Mega sambil memakai helm.


Tak menghiraukan ucapan Mega, Adam hanya tersenyum dan mulai menarik gas motornya menuju sekolah.


Berbelok ke arah gang sekolah Mega mengingatkan Adam untuk segera menurunkannya. Tapi bukannya berhenti Adam justru menambah kecepatan motornya mengarah ke gerbang. Malu mulai merasuki jiwa Mega. Segera ia menutup kaca helm, sambil memukul pundak Adam Mega terus memarahi Adam karena tak menurunkannya di tempat yang ia minta. Sedangkan Adam hanya tersenyum geli sedikit meringis kesakitan karena pundaknya terus dipukul Mega.


"Dam, loe gila ya? kan udah gue bilang turunin gue di luar sana, ngapain masuk sih??!!"


"..."


"Dam, loe denger gak sih gue ngomong!!"


"awww.. sakit tau Ga, loe kira pundak gue samsak tinju apa?? tenaga loe kuat banget, mantan kuli ya?"


"bukan mantan kuli, tapi mantan atlet angkat besi. puas loe!!"


"hah.. beneran??!!"


"ya gak mungkin lah dodol!!!"


Memasuki gerbang sekolah menuju tempat parkir, setiap pasang mata mulai menarik ke arah Adam yang tengah membonceng Mega.


"lagi..?!"


"mereka beneran pacaran?"


"kebetulan kali barengnya"


"dari kemaren masak kebetulan?"


"ya mana gue tau?!"


Suara bisikan bisikan mulai terdengar lagi hingga Adam dan Mega sampai tempat parkir. Terlihat disana teman Mega dan Adam menunggu. Melihat kearah motor yang mengambil tempat parkir semua mulut menganga.


"Kalian beneran pacaran?" ucap mereka bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2