
"Byurrr" Elina di dorong oleh ibu mertua nya dari atas jembatan, yang membuat tenggelam dan terhanyut terbawa arus.
"Kau tak pantas jadi istri ku!" Samar-samar Elina mendengar suara yang menggema di pikiran nya. "Cuih, dasar menantu sampah. Untuk apa kau menikah dengan anak ku, jika tak bisa hamil." Elina mengingat kenangan-kenangan pahit nya selama ini, di ambang kematian.
3 Tahun kemudian.
"Nona! Apakah perlu saya antarkan?" Tanya seorang gadis yang mengenakan Jaz hitam. "Tak perlu, aku akan masuk sendiri," jawab seorang wanita dari dalam mobil. Lalu keluar dari mobil seraya mengenakan kacamata hitam nya, dan tersenyum.
Dia memandang rumah besar di hadapannya, yang sepertinya tengah mengadakan acara pernikahan. "Huh. Sudah tiga tahun aku tak kemari." Ucap wanita itu, yang ternyata adalah Elina.
Elina tak mati tenggelam, dia hanyut sampai ke markas mafia besar. Dan di selamat kan oleh wanita bos mafia yang ternyata adalah ibu kandungnya. Orang tua yang dulu menjodohkan nya dengan Direktur perusahaan BRC, bukanlah orang tua kandungnya.
Elina masuk dengan sebuah gaun cantik, melangkah dengan anggunnya. "Eh stop! Siapa anda? Tunjukan kartu undangan anda!" Ucap seorang pria penjaga pintu.
"Yuna! Yuni! Bereskan." Ucap Elina memerintahkan anak buahnya. Dan dalam sekejap, penjaga pintu tadi telah di bereskan oleh anak buah Elina.
Saat masuk kedalam rumah besar itu, Elina menatap sekeliling nya. Mencari sosok pria yang telah menikahi nya, namun tak pernah menganggap nya sebagai istri melainkan pembantu. Dia juga sedang mencari ibu mertua nya yang sangat-sangat baik, mendorong nya ke bawah jembatan, hingga bisa bertemu dengan ibu kandungnya.
"Wah....siapa wanita itu? Cantik sekali...."
"Iyyah...dia sangat cantik." Para tamu saling berbisik, memuji kecantikan Elina, yang tiada tara.
"Tuan dan nyonya, terimakasih telah hadir di pernikahan anak saya. Saya sebagai ibu nya, sangat merasa bahagia. Akhirnya anak saya dapat melupakan almarhumah istrinya, dan memilih menikah lagi." Ucap seorang wanita tua, dari atas lantai dua.
"Cih, dasar nenek peyyot. Siapa yang bilang aku telah mati?" Gumam Elina seraya tersenyum miring.
"Baik. Upacara pernikahan telah di mulai." Ucap seorang MC laki-laki.
"Tuan Riot, apakah anda bersedia menikah dengan nona Melina?" Tanya lelaki paruh baya di samping Riot.
"Yah, saya bersedia." Jawab Riot dengan tersenyum bahagia.
"Huh, Melina. Aku tak menyangka, adik yang selama ini aku sayangi. Adalah perusak rumah tangga ku sendiri." Ucap Elina dalam hati, seraya mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Nona Melina, apakah anda juga bersedia menikah dengan tuan Riot?" Tanya lelaki paruh baya itu lagi pada mempelai wanita.
"Yah, saya bersedia." Jawab Melina dengan sungguh-sungguh.
"Tunggu sebentar!" Teriak wanita cantik, yang tak lain adalah Elina.
"Elina?" Riot, Melina, dan ibunya sanga kaget. Melihat sosok wanita yang berjalan ke arah mereka.
"Tunggu sebentar tuan, saya ingin dia menceraikan saya terlebih dahulu. Baru lanjut kan pernikahannya." Ucap Elina, seraya melemparkan surat cerai pada Riot.
"Elina! Kamu jangan kurang aja yah!" Ucap ibu Riot sambil ingin melayangkan tamparan, tetapi di tangkap oleh Elina. "Aku tak kurang ajar, aku hanya ingin dia menceraikan ku saja." Balas Elina, dengan tersenyum miring pada ibu Riot.
"Wah.... bukannya itu istri tuan Riot? Bukankah dia sudah mati?"
"Iyyah, katanya dia kecelakaan, dan jatuh kedalam sungai."
Para tamu saling bergosip membicarakan Elina yang muncul tiba-tiba.
"Sudah diam! Kau ingin aku menceraikan mu? Baiklah, aku akan menceraikan mu!" Riot, mengambil surat cerai itu lalu menandatangani nya.
Pernikahan Riot dan Melina, berlanjut hingga akhir. Dan saat mereka sedang istirahat, tiba-tiba telepon Riot berdering.
"Kring......
"Kringgg...
"Iyyah halo? Ada apa Tio?" Tanya Riot pada seseorang yang menelpon nya, yang merupakan asisten pribadi nya. "Tuan! Perusahaan bangkrut!" Jawab Tio sang asisten.
"Apa? Bagaimana bisa??" Tanya Riot tak percaya. "Semua pemegang saham, menarik sahamnya. Dan juga, pihak bank menyita aset perusahaan. Mereka juga bilang, utang kita masih banyak. Jika belum di lunasi, tuan akan di laporkan pada pihak kepolisian." Jawab Tio menjelaskan.
"Kurang ajar! Beraninya mereka mempermainkan ku." Riot melemparkan hp nya hingga hancur. "Melina!" Teriak Riot.
"Ada apa sayang? Mengapa kau berteriak?" Melina berjalan cepat, ke arah Riot yang tengah di sulut emosi. "Aku bangkrut! Aku butuh dana." Jawab Riot dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Ba-bagaimana bisa?" Tanya Melina tak percaya. "Aku tak tau, kata Tio. Semua pemegang saham menarik sahamnya. Pihak bank juga mendesak kita mengembalikan uang pinjaman. Bahkan mereka juga menyita aset perusahaan, tapi belum cukup." Jawab Riot yang sudah putus asa.
"Melina! Aku ingin menjual villa yang baru kita beli." Ucap Riot, Melina menatap Riot dengan tatapan tajam, dan memukul meja. "Tidak!! Aku belum menempati villa itu. Bagaimana bisa kau mau menjual nya." Ucap Melina tak setuju.
"Aku sudah tak punya pilihan lain, yang kita punya hanya itu." Ucap Riot, lalu menggenggam tangan Melina. "Aku mohon sayang. Aku akan menggantikan nya dengan yang lebih besar ketika perusahaan sudah stabil." Sambung Riot.
"Baiklah." Melina pasrah, dan harus merelakan villa yang baru saja mereka beli.
"Kring.....
"Kring....
"Hp mu berbunyi sayang," ucap Riot yang melihat hp Melina berbunyi di atas meja. Melina mengambil, handphone nya dan mengerutkan keningnya. "Siapa yang menelepon ku?" Gumam Melina, karena yang menelponnya tanpa nama.
"Halo, siapa ini?" Tanya Melina.
"Halo adikku yang cantik, bagaimana dengan kejutan ku? Apakah kalian suka?" Ucap suara wanita di seberang sana yang tak lain adalah Elina.
"Dasar jal*ng! Apakah ini perbuatan mu?" Melina mengepalkan tangannya emosi, ketika mengetahui siapa pelaku yang membuat perusahaan suaminya bangkrut.
"Iyah, ada apa? Apakah kau tak suka?" Ucap Elina seraya tersenyum miring. "Kurang ajar kau! Anj*ng, perempuan rendahan." Melina menutup telepon itu, dan menyumpah serapahi Elina.
"Ada apa sayang? Mengapa kau sangat kesal? Siapa yang menelepon mu?" Tanya Riot heran, melihat istrinya yang benar-benar sangat marah. "Ini semua perbuatan Elina! Aku tak terima dengan semua ini!" Melina benar-benar sangat marah di buat Elina.
"Elina? Tapi bagaimana bisa?" Tanya Riot tak percaya. "Mungkin saja dia tidur dengan om-om lalu menyuruhnya untuk menjatuhkan perusahaan mu." Pikir Elina.
"Mungkin saja, benar-benar wanita kotor." Ucap Riot dengan wajah jijik.
"Mohon maaf tuan, nona struk dan harus di bawah ke rumah sakit." Ucap salah seorang pelayan pada Riot. "Apa! Bagaimana bisa?" Tanya Riot yang benar-benar kaget.
"Tadi ada seorang laki-laki yang mengatakan dia adalah utusan dari bank. Dia ingin menyita rumah ini, karena pinjaman perusahaan yang belum di lunasi. Nyonya yang mendengar itu, kaget dan struk." Jawab pelayan itu.
"Sayang... bagaimana ini?" Ucap Melina yang ketakutan. "Kau tenang saja, aku yakin. Kita akan kembali kaya." Ucap Riot memenangkan istrinya.
__ADS_1
"Nona, semua tugas telah selesai saya jalankan. Apa perlu kita membunuh keluarga itu?" Ucap seorang wanita berjas hitam seraya membungkuk pada Elina.
"Tidak! Aku masih ingin bermain-main dengan mereka." Jawab Elina dengan tersenyum puas.