
"Huh~akhirnya bisa lolos," seru Elina yang telah berhasil kabur dari para pengawal nya. "Tapi, lelaki yang menolong ku tadi benar-benar tampan." Gumam Elina membayangkan, saat dia bertatapan dengan pemuda yang menolongnya tadi. "Hmm sudah lah, mending aku pergi cari makan deh. kebetulan kan, aku pengen makan coklat hehe."Elina berjalan, menuju tempat kue, yang beraneka ragam. Ada tiramisu cake, dan juga ada Corn dog kesukaan Elina.
"Kring....."
"Kring...."
"Hallo?" Ucap seorang pemuda tampan, yang mengikuti Elina dari belakangnya. "Brian... apakah benar Elina bersama mu?" Tanya seseorang dari seberang. "Iyyah Tante, saya sedang bersamanya." Jawab pemuda itu, yang ternyata adalah Brian.
"Ohh, bagus kalo begitu. Kalian bisa mengambil kesempatan ini untuk saling mengenal, dan lebih dekat." Ucap suara wanita, yang tengah telponan dengan Brian. "Iyyah Tante, Tante tenang saja. Saya tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Balas Brian sambil tersenyum menatap Elina dari belakang.
"Yasudah, Tante gak ganggu lagi. Kalian bersenang-senang lah." Ucap Wanita itu lagi, lalu mematikan sambungan telepon nya. "Heh! Aku tak akan membiarkan kelinci kecil ini, menghindari ku lagi." Ucap Brian dalam hati sambil tersenyum miring.
"Itu! Aku ingin yang itu juga, sama yang itu!" Ucap Elina, yang memilih aneka kue yang sangat banyak. "Baik nona," ucap wanita penjaga toko kue itu.
"Permisi! Saya ingin beli ku tiramisu." Ucap seorang pemuda tampan tiba-tiba. Elina berbalik ke arah pemuda itu, dan kaget, karena pemuda tersebut adalah orang yang membantunya tadi.
"Wah... sangat tampan." Gumam Elina, tapi di dengar oleh Brian lagi. Brian hanya tersenyum manis mendengar ucapan Elina. "Eh-eh anu...itu, aku ingin berterimakasih. Kau sudah membantu ku tadi." Ucap Elina berterima kasih.
"Tidak apa, kau cukup mentraktir ku saja." Balas Brian, dengan senyuman manis. "Ah, baiklah." Ucap Elina mengangguk. "Ayo! Aku sudah beli kue yang banyak. Aku juga beli tiramisu cake yang banyak." Ajak Elina, sambil membawa kue-kue nya.
Mereka duduk di sebuah cafe, dekat dengan tempat kue itu. "Silahkan di makan, kau tak perlu sungkan." Ucap Elina mempersilahkan Brian. "Iyyah, terimakasih." Balas Brian lalu tersenyum manis pada Elina.
"Ekhemm-ekhem. Emmmm ngomong-ngomong, nama kamu siapa?" Tanya Elina, agar tak canggung. "Nama ku Ian," jawab Brian yang sengaja tak memberitahukan nama asli. "Ouhh, nama yang bagus." Balas Elina dengan tersenyum pada Brian. "Hmm mengapa aku merasa Familiar dengan nama ini?" Ucap Elina dalam hati.
"Terimakasih. Kalo kamu? Namamu siapa?" Tanya Brian, pura-pura gak tahu. "Nama ku Elina," jawab Elina dengan senyuman. "Oh, nama yang cantik. Sama seperti pemiliknya," ucap Brian menggoda.
"Haha kau bisa saja," balas Elina disertai tawanya. Brian hanya tersenyum melihat Elina yang tertawa. "Kau juga sangat tampan, aku penasaran, siapa wanita yang beruntung bersama dengan mu? Haha," ucap Elina yang hanya ingin basa basi, dan tak bertanya serius.
"Kau!" Balas Brian langsung. Elina berhenti tertawa dan terdiam. "Eh...emm maksud kamu apa? Aku ini tak pantas dengan mu haha." Seru Elina tertawa canggung.
__ADS_1
"Hmm kau sangat pantas," ucap Brian dalam hati sembari tersenyum pada Elina. "Apakah kau sudah menikah?" Tanya Elina. Brian menggeleng, yang berarti tidak/belum. "Ouhh, benar-benar di luar dugaan. Kau sangat tampan, dan berwibawa. Bagaimana bisa tak ada yang menyukai mu?" Seru Elina, sambil memakan kue nya.
"Banyak yang menyukai ku, tapi aku tak menyukai nya. Aku hanya menyukai teman kecil ku saja." Ucap Brian, dengan senyuman masam. "Oh yah? Wow...aku penasaran siapa teman kecil mu itu?" Seru Elina sambil mengunyah.
"Kau akan tau nanti," balas Brian, dengan tersenyum pada nya .
...----------------...
"Wah...ini sangat asyik, aku tak pernah makan bersama seseorang lelaki seumur hidup ku. Dan ini adalah kali pertamanya." Ucap Elina yang sudah kekenyangan, dan keluar dari mall bersama Brian. "Oh yah? Wow, aku tak menyangka." Balas Brian, yang benar-benar terkejut. Padahal Brian sudah tahu, bahwa Elina ini pernah menikah.
"Yah...aku pernah menikah, tapi tak pernah bersentuhan dengan nya. Aku di jodohkan dengan nya, makannya kami tak saling mencintai dan berakhir seperti kaca yang pecah." Ucap Elina dengan wajah agak merasa sedih. Mengingat apa yang telah dia alami, setelah menikah dengan mantan suaminya.
"Jadi? Itu sebabnya kau kabur dari para pengawal mu tadi?" Seru Brian karena tadi Elina sempat menceritakan mengapa dia tadi bersembunyi di balik tubuhnya.
"Hmm, yah. Untung saja mereka tak melihat ku. Tapi... sepertinya aku harus menyiapkan gendang telinga ku, gara tak rusak." Ucap Elina dengan wajah pasrah, karena pasti ibu nya akan memarahinya. Dia gak tau aja, kalo Brian udah kasih tau.
"Kenapa?" Tanya Brian, yang pura-pura gak tau. "Mamah aku bakal marah-marah nanti, dan aku harus siap-siap meladeninya." Jawab Elina dengan wajah sedihnya.
"Ekhemm-ekhem, baiklah. Tapi aku ada satu syarat!" Ucap Elina dengan senyum berarti. "Apa?" Tanya Brian yang melihat senyuman Elina penuh dengan misteri.
"Kau harus bertemu ibu ku, dan pura-pura menjadi pacar ku! Tapi kau tenang saja, aku akan membayar mu kok." Jawam Elina dengan senyum sumringah. "Baiklah," balas Brian dengan sigap. "APA?? Kau setuju?" Ucap Elina tak menyangka.
"Yah..." Balas Brian dengan tersenyum manis. "Yasudah, kali begitu. Ayo kita kerumah ku." Ucap Elina dengan senang, karena dia merasa bisa menghindari perjodohan nya. Namun tak di sangka, pacar bohonganya ada Brian xixi.
"Haha, dasar kelinci putih ini." Ucap Brian dalam hati seraya tertawa kecil.
"Mommy!" Teriak Elina masuk ke dalam rumahnya. "Hmm yah?" Jawab Mondi ibu Elina, yang tengah berbincang dengan sahabat nya, dan tak lain ibu Brian.
Elina menuju ruang tamu, tempat di mana ibu nya tengah berbincang. Dia membungkuk hormat, saat melihat ibu Brian yang tersenyum pada nya. "Wah... apakah inj Elina? Dia sangat cantik," puji ibu Brian. Elina hanya tersenyum malu mendengar nya.
__ADS_1
"Iyyah, dia putri ku satu-satunya." Balas Mondi dengan tersenyum. "Hehe...." Elina hanya tersenyum salah tingkah karena, di puji.
"Mom...aku...mau kenalin seseorang." Seru Elina pada ibunya. "Siapa?" Tanya Mondi penasaran. "Ini dia," ucap Elina, menarik lengan Brian. "Eh itu...." Brian mengedipkan mata, memberi tanda agar tak mengatakan nya.
"Ini pacar baru ku hehe, aku jatuh cinta pandangan pertama." Ucap Elina, dengan berlagak manja pada Brian. Mondi dan ibu Brian, saling menatap dan menahan tawa. "Oh yah? Wow, dia sangat tampan." Seru Mondi pura-pura baru mengenali Brian.
"Hehe iyyah dong." Balas Elina, yang sangat pandai bersandiwara. "Siapa nama nya?" Tanya ibu Brian, yang juga ikut berpartisipasi dalam drama ini.
"Namanya Ian, Tante." Jawab Elina dengan tersenyum manis. "Oh iyah Tante, anak Tante mana yah?" Tanya Elina, yang sengaja bertanya. Agar bisa memamerkan pacar nya pada anak ibu Brian, dan Brian lah yah di maksudnya.
"Dia....." Ibu Brian memutar otak, dan bingung menjawab apa. Dia menatap ke arah Brian, dan Brian hanya memberi kode pesawat menggunakan tangan nya.
"Oh, dia tadi kembali ke Amerika. Katanya ada yang kelupaan." Jawab Ibu Brian. "Ohh gitu..." Seru Elina dengan wajah berseri. "Yaudah, kalo gitu. Aku pergi dulu yah ke depan. Pen ngantar pacar aku, dia mau pulang." Seru Elina yang ingin menarik lengan Brian.
"Eh, tunggu! Kok cepet banget pulangnya? Ngobrol dulu dong." Ucap Mondi menahan, agar Brian tetap di sini. "Tapi...." Elina bingung harus berkata apa. Brian pun menepuk pundak nya dan mengangguk pada Elina.
"Yasudah, kalo gitu." Ucap Elina pasrah. Baru saja dia ingin duduk bersama Brian, ibu nya malah melarang nya. "Ehh...kok duduk? Pergi nyiapin minum dong. Buat pacar kamu," seru Mondi yang sengaja, agar dapat berbicara dengan Brian.
"Iyah deh," ucap Elina pasrah. Dia masuk menuju ruang dapur dengan langkah kaki yang di sentakan. Brian yang melihat hanya tertawa kecil, melihat tingkah Elina.
Saat Elina sudah mulai menjauh, mereka pun mulai berbincang. "Brian...bagaimana bisa, dia menjadikan mu pacar nya?" Tanya Mondi penasaran, dengan alur cerita mereka. Brian pun menjawab, dan menceritakan nya tentang apa yang terjadi tadi.
"Ohhh gitu," seru Mondi, dan ibu Brian, Diana. "Jadi, dia gak tau. Kalo kamu anak mamah?" Tanya Diana, Brian menggeleng yang berarti tidak.
"Bagus dong! Kalian bisa pdkt, lewat hubungan pacar boongan kalian." Seru Mondi, Diana setuju dan mengangguki pernyataan Mondi. "Iyah Tante, itu rencana saya." Ucap Brian dengan tersenyum.
"Minuman datang....." Elina berjalan ke arah mereka dengan membawa nampan berisi teh manis. "Ini," ucap Elina sambil meletakkan teh manis itu. "Kalian lagi ngobrolin apa sih?" Tanya Elina penasaran.
"Bukan apa-apa, hanya bertanya tentang Brian ini. Menurut mamah, dia cukup baik. Kapan rencana kalian akan menikah?" Tanya Mondi yang isengin anaknya. "Mem-menikah? Itu....anu, dia masih belum bisa. Iyyah kan sayang? Hehe." Jawab Elina, yang tak tahu berkata apa lagi.
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa?" Sambung Diana yang tertawa kecil melihat wajah Elina yang kebingungan. "Dia masih kuliah!" Jawab Elina asal-asalan.
"Ouhhh gitu," seru Mondi dan Diana. Brian hanya tertawa kecil, melihat wajah Elina yang pucat pasih.