
Pada altar yang begitu megah di depan sana. Karpet merah yang terbentang indah sampai ke tempat suci itu. Dia gadis yang cantik dengan tinggi semampai dan kulit putihnya khas gadis Amerika.
Bersama sang wali, gadis ini berjalan anggun menuju altar di mana calon suaminya telah menunggu.
Dengan kursi roda yang di tunggangi, dan putranya yang mendampingi.
Alexa, gadis ini mengembangkan senyum dan menerima pernikahannya dengan laki-laki tua itu dengan suka rela.
Acara berlangsung meriah tanpa ada gunjingan sana-sini. Siapa yang berani menggangu singa di rumahnya? Dia yang sudah sepuh itu memiliki benteng bisnis yang gagah perkasa. Satu kali membicarakannya, maka habis lah apa yang orang itu miliki.
***
10 bulan pernikahan, Alexa masih menikmatinya sebagai istri dari Tuan Adijaya. Nyonya Adijaya selalu dia sandang ke mana pun perginya. Tak ada yang tak bisa Alexa dapatkan dengan gelar yang dia miliki.
"Halo ...," sapa Alexa mengangkat panggilan dari putra sambungnya.
"Ya, ada apa, Mahen?" tanyanya setelah mendapatkan jawaban dari suara di seberang sana.
"Hah? Maksud kamu?" Dia diam tak berkutik. Apakah yang dia dengar itu sungguhan? Sayangnya, iya. Kabar duka datang kepadanya. Dia baru saja kehilangan suami yang amat dia cintai (uangnya).
'Bagaimana sekarang?'
Deru napas Alexa naik-turun tak menentu. Memburu membuatnya merasakan sesak tak terkira. Dia sampai tak tahu siapa dan kapan teleponnya dengan Mahen—anak bungsu dari Tuan Adijaya bersama mendiang istrinya itu memutuskan sambungan telepon.
"A–aku ..., aku ...."
Alexa terhuyung dengan kedua tangan menggenggam erat paper bag brand ternama yang baru saja di belinya.
Bruk!
Tak kuat lagi menahan beban diri dengan segala keresahan di hati. Dia terduduk di lantai dingin pusat perbelanjaan itu. Kulit betisnya yang putih bersih bersentuhan langsung dengan lantai. Cairan bening menetes dari sudut kelopak matanya. Dia seperti anak kecil yang kehilangan jejak orang tua.
Kehilangan arah. Tidak ada kekuatan. Tidak ada juga sandaran yang bisa membantunya untuk tetap berjalan.
Salahkan saja dia yang kali ini tidak ingin membawa sopir ataupun pelayan.
__ADS_1
Rasa sesak kian menukik membuat gadis ini ingin menjerit. Dia tak tahu harus bagaimana untuk segera sampai ke tempat di mana ada suaminya. Mungkin saja anak laki-laki itu sedang bercanda dengannya.
"Nona, apa ada masalah dengan kesehatan Anda?" Seorang pria berjongkok seraya bertanya padanya.
Alexa mendongak. Dia yang sedang kalut dengan pikiran semrawut segera menyebutkan nama rumah sakit di mana saat ini suaminya berada.
"Nona mau saya antar kan ke sana?" tanya pria itu lagi.
Alexa mengangguk cepat.
"Baik, Nona," katanya seraya tersenyum. "Mau saya bantu untuk bangun?"
Alexa mengangguk lagi. Ya, hanya gerakan kepala yang bisa wanita itu berikan.
***
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
Di depan peti mati yang siap membawa tubuh sang suami untuk segera di kebumikan, Alexa menatap sendu. Meski tanpa cinta. Dia belum siap menjadi janda.
Apa akan ada laki-laki kaya lagi yang akan menikahinya? Mengingat dirinya sudah tak lagi punya status gadis.
Anggap saja kenyataan tak sesuai ekspektasi. Begitu pengacara suaminya datang ke rumah utama keluarga Adijaya, betapa terkejutnya dia karena tak ada satu rupiah pun yang menjadi miliknya. Semua karena Alexa belum mempunya anak.
Barang-barang branded yang dia beli pun, tak ada yang jadi miliknya selagi itu dengan nama keluarga Adijaya.
Karena kehadirannya tak lagi di butuhkan. Bahkan dianggap hanya jadi penggangu, Alexa di minta pulang tanpa membawa apa-apa, kecuali mobil yang dihadiahkan sang suami saat ulang tahunnya bulan lalu.
"Silahkan kembali ke rumah Anda," kata Mahen, memberikan jalan untuk Alexa keluar dari rumah besar nan megah itu.
"Kamu sungguh mengusir aku, Mahen?" Alexa tak percaya jika laki-laki yang selama ini menghormatinya tega mengusirnya.
Mahen tak bicara lagi. Acuh dan mengabaikan Alexa. Bagi pemuda itu, peran Alexa sebagai ibu tiri telah selesai. Begitu juga dengan perannya sebagai anak.
"Pergi! Kamu hanya akan menghabisi harta Ayah!!" pekik wanita dengan usai 35 tahun, dari dalam rumah itu.
__ADS_1
"Kalian sungguh tega!" kecam Alexa di depan rumah megah 5 lantai.
Alexa pergi, mengemudikan kendaraan roda empat yang menjadi miliknya. Dia tidak tahu harus ke mana lantaran malu jika harus pulang ke rumah. Namun di karenakan tak ada tempat yang bisa jadi sandaran, Alexa tetap mengendarakan mobil itu membawa membelah jalan menuju rumah di mana dirinya bertumbuh dari kecil hingga dewasa.
Kedua orang tua yang menyambutnya dengan riang menghadirkan beban. Tentu saja, pertanyaan pertama yang dilontarkan adalah, Rumah mana yang menjadi warisan untuk Alexa, istri mendiang Tuan Adijaya ini.
Pernyataan tak terima dari keluarga yang memarahinya dengan kata-kata kasar, membuat dia makin kalang kabut.
Gadis dengan usia 20 tahun ini harus menerima banyak gunjingan tetangga saat pertengkaran keluarga mereka terdengar ke mana-mana.
Hanya 1 bulan beberapa hari Alexa bisa bertahan. Dia yang sudah tak sanggup lagi menerima apa kata orang, memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.
Mobilnya yang bertabrakan dengan truk kontainer (dengan) sengaja, membuat dia langsung menemui ajal setelah cahaya menyilaukan dari sorot lampu mobil besar di depannya.
***
Alexa terbangun. Tepat di sebuah kendaraan yang sedang dia naiki.
'Ada apa dengan ini?' batinnya tak mengerti.
Gadis ini menoleh ke sekelilingnya. Hanya ada dia dan beberapa penumpang pada bus yang sedang melaju dengan kecepatan standar itu. Ponsel di tangan segera dia hidupkan layarnya. Di sana tertera tanggal 12 Maret 2022.
'Ini?' Alexa menatap tak percaya.
Matanya membulat sempurna. Lagi, pandangannya menyapu bersih isi bus yang dia naiki. Seperti deja vu. Dia merasa pernah mengalam hal itu.
Detik berikutnya, pandangan Alexa menatap Billboard music yang berada di pinggir jalan yang terlewati busnya.
"Itu ...." Dia sudah tahu di mana dirinya sekarang.
"Jadi, aku? Aku sungguhan?" Dia menatap dirinya. Pakaian yang sedang dia kenakan.
Ya, dia sudah tahu saat ini ke mana tujuannya. Dia ingat jika tanggal 10 Febuari di 2023 adalah kematian Tuan Adijaya.
"Aku akan pergi ke pertemuan dengan Tuan Adijaya dan putranya itu bukan?" Seringai terbit di bibirnya.
__ADS_1
Mengingat Mahen yang begitu congkak saat mengusirnya, terpatri di hatinya untuk mengambil pria itu menjadi target utamanya.
"Salah kan saja kamu yang tidak bisa adil untukku, Tuan Mahen!" gumamnya, masih dengan seringai yang cukup menyeramkan.