Pembalasan Istri Tanpa Waris

Pembalasan Istri Tanpa Waris
1. Bodoh


__ADS_3

Gadis dengan kaos putih lengan pendek dan celana jeans panjang navy datang membungkuk kecil seraya berkata, "Selamat pagi, apa kedatanganku sangat terlambat?"


Seorang pria tua yang duduk di sebelah Mahen hanya tersenyum saat pandangannya dan Alexa bertemu.


"Duduk lah," cakap Mahen memerintah.


Mahendra Adijaya atau yang lebih akrab disapa Mahen adalah pengusaha muda yang akan menikah dengan kekasihnya setelah pernikahan sang ayah. Di dalam ruangan VVIP dengan hanya ada ketiganya, Mahen kembali mengambil peran utama dalam pertemuan kali itu.


"Tanda tangani, maka minggu depan statusmu akan berubah menjadi Nyonya Adijaya."


Seperti yang ada di dalam ingatan Alexa, plotnya tidak berubah. Waktu itu Alexa menerima dengan senang hati. Bahkan tak memperhatikan sekitar bagaimana ekspresi Mahen, atau membaca kembali apa yang ada di kertas yang harus ditandangani. Alexa benar-benar bodoh.


Namun kini tak akan terulang lagi. Alexa berdiri dari duduknya. "Apa aku boleh membaca kembali semua yang ada di perjanjian pra-nikah ini?" tanya Alexa lembut.


"Baca?" Mahen seperti merendahkan Alexa.


"Bukan kah ini yang sudah disepakati bersama?" sambung pria tampan dengan rahang yang sudah mengeras.


"Aku hanya ingin berpikir lebih matang lagi," balas Alexa lugas. "Bagaimana juga pernikahan bukan lah permainan." Dia melirih.


"Baik lah. Silakan baca dan jangan coba-coba mengelak dari perjodohan yang sudah ada." Mahen melembut, namun tidak dengan kalimatnya. Masih ada entakkan di beberapa kata, yang menaikkan degupan jantung Alexa karena terkejut.


'Tidak boleh mengelak, ya?' Alexa membatin seraya berpikir.


Padahal satu menit sebelum Mahen berkata demikian, hadir niat di hati Alexa untuk menghindari pernikahan dengan pria tua itu. Akan lebih bagus jika menikahi Mahen. Pria usia 27 tahun itu adalah satu-satunya penerus bukan?


Mata Alexa tetap mengarah ke huruf-huruf yang sudah mengotori kertas putih itu. Tapi tidak dengan isi pikirannya.


'Bagaimana dengan menunda pernikahan dengan Tuan Adijaya? Setidaknya sampai aku punya rencana yang matang untuk balas dendam ke Mahen."


"Hei!"


"Eh?" Alexa tersentak saat seorang menyentuh pundaknya. Dia Mahen, sudah berdiri di belakang tubuh Alexa.


"Cepat tandatangani! Anda dengan keluarga Anda sudah menerima mahar yang dijanjikan."


Alexa mendesis. Kepalanya mendongak menatap Mahen yang congkak. Senyuman menipis. "Bagaimana jika aku mengajukan satu lagi?"

__ADS_1


Jari telunjuk Alexa terangkat, menegaskan angka satu yang diajukan.


"Kamu ...! Bagaimana bisa begitu tidak tau diri??"


Alexa makin mengembangkan senyumannya. Lantas menunduk lagi dan menatap perjanjian di depannya. Kertas yang akhirnya dia sesali karena pernah menandatangani dengan mudahnya.


Tanpa memikirkan konsekuensinya sama sekali jika dia benar-benar tidak mempunyai waris yang lahir dari rahimnya sebagai keluarga Adijaya.


"Apa kalian keluarga Adijaya tidak bisa memberikan aku harta jika tidak ada anak?" Alexa mengangkat kepalanya kembali untuk menatap mata elang Mahen.


Sorot pandangan tajam itu pernah membuat Alexa jatuh cinta, sebelum akhirnya terbutakan dengan harta. Alexa muda sangat realistis.


Namun, kesempatan yang kembali dia miliki, tidak akan dia sia-siakan begitu saja. Alexa janji akan menjadikan dirinya gadis berkualitas dengan tanpa adanya orang yang bisa menginjak-injak. Bukan karena statusnya Nyonya Adijaya.


"Aku hanya ingin satu rumah sebagai mahar tambahan. Harta yang akan tetap jadi milikku jika Pak tua itu tiba-tiba meninggal." Telunjuk yang sudah diangkat itu diarahkan Alexa ke pria usia tujuh puluhan yang masih tersenyum menatap Alexa.


"Kamu ...!" Mahen seperti kembali menahan kalimatnya.


"Berikan saja," ucap Tuan besar Adijaya.


Alexa tahu pria tua itu baik. Atau hanya baik pada wanita cantik. Selama menjadi suaminya, Tuan Adijaya selalu memberikan apa yang Alexa minta.


"Ya, aku juga tau itu Tuan Mahen!" jawab Alexa tegas.


Seketika Mahen tercengang. 'Alexa bisa meninggikan suaranya?' Pria berusia 25 tahun ini menatap Alexa tak percaya.


"Baik, saya akan tambahkan itu di sini." Mahen menunjuk setelah angka satu. Menandakan jika mahar itu sangat penting nilainya. "Itu sangat penting untuk Anda bukan?"


Alexa mengangguk seraya tersenyum. Detik itu juga Mahen berdecak. "Nyatanya, kamu memang sama saja Alexa," gumam Mahen lalu menutup berkas itu.


"Jam makan siang datang ke kantor saya, akan saya pastikan perjanjian ini sudah seperti yang Anda mau."


"Baik Tuan Mahen, terima kasih." Alexa membungkuk, yang sepertinya menambah kebencian di hati Mahen.


Mereka selesai dengan perbincangan tanpa sarapan. Ya, sarapan bersama itu hanya alasan. Karena pada kenyataannya hanya tersisa Alexa yang makan sendiri, seperti biasanya saat sebelum atau sesudah menjadi Nyonya Adijaya.


"Sepertinya, aku juga sudah terbiasa dengan kesendirian." Alexa duduk kembali.

__ADS_1


Kembali dirinya menikmati hidangan yang ada di atas meja di depannya itu. Tak ada yang menggangu, salah satu alasan yang akhirnya membuat Alexa tetap maju dengan pernikahan yang tidak bisa dihindari.


***


Jam makan siang untuk para pekerja. Namun tidak dengan Alexa yang kerja part time. Belum lagi di restoran tempatnya bekerja, jam makan siang sangat ramai.


Alexa berhasil izin karena kedatangan Mahen ke resto tersebut. Bisa dianggap juga dihitung kerja karena Alexa menemani tamu. Pekerjaan yang biasa dilakukan beberapa pelayan yang seorang gadis muda nan baik rupa.


"Boleh saya bertanya." Mahen memulai percakapan setelah hidangannya selesai dilahap.


"Silakan saja." Alexa menerimanya dengan senang hati. Mulutnya kembali mengunyah sushi yang dipesankan Mahen untuknya.


"Kenapa kamu ajukan tentang mahar rumah, bukannya semua uang yang Ayah kasih sudah lebih dari cukup untuk membeli rumah mewah?"


"Bahkan lebih dari setengah harta itu sudah habis untuk membayar hutang Papah. Apa Anda lupa Tuan Mahen?"


"Maaf, saya pikir kamu bisa egois dengan memiliki semuanya."


Maaf?


Alexa sempat terdiam karena kata pertama yang diucapkan Mahen. Pertama kalinya Alexa mendengar itu. Dan percakapan mereka pun seperti mengalir tanpa adanya emosi yang biasa ada di diri Mahen.


"Ha ha, Anda begitu lucu Tuan muda. Apa selama ini di pandangan Anda saya orang seperti itu?"


"Memangnya apa lagi? Kamu tidak sadar diri??"


Ada secuil hatinya yang tersakiti dengan dua kata terakhir dari Mahen. Namun Alexa pun jadi menertawakan dirinya sendiri. Sangat wajar jika Mahen berpikir demikian.


Selama ini Alexa hanya dekat dengan orang-orang yang bisa bermanfaat untuknya. Apalagi tentang uang. Dengan kecantikan yang dimiliki, Alexa selalu menggaet kekasih yang kaya harta.


Bagi gadis cantik itu, ketampanan adalah nomor sekian.


"Baik lah Tuan muda, saya minta maaf." Alexa berdiri seraya membungkuk.


Duduk kembali setelah Mahen memintanya segera duduk.


"Kamu masih berbakti pada orang tua?" tanya Mahen, yang lagi-lagi perkataannya membuat Alexa tertawa dalam hati. Ya, untuk menertawakan diri sendiri.

__ADS_1


"Bodoh!" umpat Alexa dalam hati.


__ADS_2