
"Tidur saja. Buat dirimu nyaman."
Pria dengan balutan kemeja putih yang kini tampak abs tersimpan di dalamnya itu membuat Alexa mengernyitkan dahi.
"Maksud Tuan, kita tidur bareng?" tanya si gadis bingung.
Hunian dua lantai di mana kini mereka berdua berdiri adalah rumah yang diketahui Alexa milik Mahendra Adijaya. Jadi saat pria itu mengatakan tidur, itu berarti mereka akan tidur bersama 'kan?
"Ha ha ha ...." Si pria tertawa sambil memandang Alexa. "Ada apa Alexa?" tanyanya diakhiri desisan. "Kamu mau jual mahal?"
'Maksudnya?' Alexa membatin.
Wajah gadis yang berada di akhir usai belasan ini makin terlihat keruh. Sepertinya dia tidak senang di bilang begitu. Mahen juga menganggapnya seperti kebanyakan pria yang tidak mengenalnya?
"Apa?" tanya Mahen lagi.
"Tuan Mahen, izinkan saya untuk pulang. Saya punya—"
"Bukannya kamu sudah memutuskan hubungan dengan orang tua yang suka menguras harta itu?" Mahen menyela, menatap tepat ke mata Alexa.
Si gadis yang di tatap hanya bisa terpaku. Selain karena mata tajam Mahen yang pernah membuatnya jatuh suka, perkataan telak dari Mahen bikin Alexa tak bisa mengelak.
"Ta–tapi ..., eum, aku punya kamar untuk malam ini." Alexa menjawab dengan cepat setelah terbata-bata.
"Kamu yakin mau tinggal di sana?" Mahen kembali bertanya.
Pertanyaan meremehkan itu cukup untuk Alexa putar badan dan pergi dari hadapan Mahen.
"Menyebalkan. Memangnya kenapa dengan kamar motel yang menjadi tempat aku istirahat untuk malam ini? Gak ada yang salah dengan kamar itu!" Alexa terus menggerutu.
"Rumah ini ada dengan sertifikat nama kamu Alexa!" teriak Mahen.
"Whaat?" Alexa memekik tanpa sadar. Langkahnya berhenti detik itu juga.
Senyum kesenangan terbit di bibir Mahen. Senyuman yang lebih mirip dengan seringai.
Namun Alexa, meski terkejut dan punya praduga tentang bagaimana rumah itu bisa jadi miliknya, tetap memilih untuk pergi meninggalkan Mahen sendirian.
"Apa itu berarti sudah jadi milikku?" Alexa bergumam, kemudian mengendikkan bahu.
Dengan kaki yang di ayunkan santai pada trotoar jalan menuju penginapannya, Alexa tak bisa membohongi diri jika pikirannya terus saja terpaut pada ucapan tentang rumah Mahen itu.
Alexa menghela napas panjang. Mencoba menikmati udara malam yang begitu dingin nan sepi.
__ADS_1
Tring!
Mau tidak mau membuka hand bag meraih ponselnya. Ada pesan dari Mahen.
"Pria itu! Kenapa dia jadi ..., seperti berubah? Bukannya sejak aku menerima lamaran sikapnya selalu sangat cuek?"
Tanpa diminta, tangannya memberikan balasan untuk pria itu.
"Ingat kalau kamu dan Mahen hanya musuh."
***
"Sudah kubilang aku tidak menerima penolakan Alexa!" teriak menggema pria dengan kemeja putih yang semua kancingnya telah terbuka.
Alexa, gadis dalam kungkungan pria itu merintih. Tangisannya terdengar lirih saat merasakan dingin tubuhnya yang tanpa busana itu merasakan kehangatan dari kulit lawan jenisnya.
"Percaya lah Alexa. Percaya kalau cinta aku ini hanya untuk ka–mu." Napasnya tersengal.
Gerakan dari pinggulnya berhasil memasuki apa yang sudah lama diidamkannya.
"Hh, Alex–a. Bagai ..., bagai–mana bisa ka–mu ...." Jeritan tertahan dengan ******* kenikmatan dari pria itu makin membuat air mata Alexa berlinang.
Gadis dengan tangan dan kaki yang terpas*ng itu seakan ingin mengakhiri hidupnya detik itu juga. terlalu menyakitkan menyadari diri sudah tak suci lagi.
Sudah berapa banyak pria muda nan kaya yang menjadi kekasihnya? Mencicip bibir juga pelukan hangat dari tubuhnya. Namun sebanyak apa pun itu, Alexa belum pernah memberikan seluruh tubuhnya. Terlebih kehormatannya.
Lucu juga dengan dirinya yang hidup bebas, ternyata masih punya pikirin ingin menyimpan surga dunia itu untuk pasangan hidupnya kelak.
Dan kini, sudah terenggut apa yang dia jaga dengan baik.
"A–aku mohon, mo–hon hen–ti–kan, Tuan," pintanya terbata.
Napasnya tersengal. Permohonan itu seakan angin lalu bagi pria yang wajahnya tak ingin Alexa lihat sama sekali. Alexa terengah-engah tiap kali selesai mendapatkan serangan yang bertubi.
Dengan egoisnya pria itu selalu mencumbu bibir Alexa dengan lahap. Memberikan sensasi yang (sebetulnya) tak bisa Alexa tolak. Satu hal yang membuat Alexa makin menyesal akan pertemuannya dengan si pria, adalah karena tubuhnya menikmati tiap sentuhan dari tangan kekar itu.
Sentuhan lembut yang penuh perhatian itu berbeda dengan mantan-mantan Alexa.
"Persetan!" Alexa memaki. Memberanikan diri menatap ke bola mata pria yang saat ini di atas tubuhnya.
Napas Alexa makin memburu. Aliran darahnya mendidih ingin segera menyelesaikan malam panjang itu dengan mengakhiri hidupnya saja. Walau diberi kesempatan kedua, nyatanya Alexa tetap tidak sanggup menahan beban yang menyapanya.
Sejenak kegiatan mereka berhenti. Si pria balas menatap mata gadisnya.
__ADS_1
"Ada apa Alexa?" Tangan kanan yang tadi berada di payud*r* Alexa, beralih menangkup pipi dengan banyak jejak air mata.
"Apa kamu sudah lelah?" tanyanya lagi.
"Lelah?" Alexa membeo. "Persetan dengan semua itu!!" Suaranya naik satu oktaf.
Ada kobaran api amarah dalam mata beningnya. Siapa yang melihatnya tentu tahu jika umpatan Alexa barusan bukan karena ingin melanjutkan kegiatan panas itu.
"Baik lah." Tepukan kecil didapati pipi Alexa.
"Aku akan mandi dulu," lanjutnya. Senyuman tidak luput dari bibir pria itu. "Ingat lah untuk selalu jadi gadis baik, Alexa."
Kecupan singkat menyentuh bibir Alexa. Selanjutnya tubuh pria dengan tanpa sehelai benang itu turun dari ranjang mereka. Meraih handuk di meja yang sudah disiapkan pihak hotel.
Hanya tersisa dadanya yang telanjang, pria itu berjalan kembali mendekati Alexa. Tangannya yang sudah mengambil kunci-kunci kecil segera memberikan akses bebas untuk Alexa.
Pria itu berlalu tanpa bicara. Alexa menatap punggung kuat yang makin menjauh itu dengan tatapan yang tidak mudah di artikan.
"Cih!" Alexa membuang ludahnya ke sembarang.
"Kenapa harus dia? Kenapa harus dia yang jahat??"
Alexa duduk di sisi tempat tidur. Membiarkan saja tubuh tanpa busana ini dengan pendingin ruangan yang terus membuat tubuhnya meradang gemetar.
"Kenapa dia lagi??"
Alexa kembali menangis. Wajah menunduk seraya memejamkan mata.
'Ini pasti mimpi bukan?' gumamnya.
Dia sangat ingat jika sudah berpisah dengan pria itu. Dia ingat jika pesan dari pria itu sudah dia balas. Dia ingat jika tidak ada hutang yang dia punya.
"Bagaimana mungkin selalu dia yang menghancurkan harapanku?" Alexa melirih. Tangisannya mereda.
Dengan tertatih-tatih dia coba berjalan. Menghampiri cermin full body yang ada di pojok kamar. Dia menatap dari atas sampai ujung kaki.
Bibirnya memercikan tawa.
Kedua telapak tangan yang mengepal itu makin gemetar seiring pertemuan gigi atas dan bawahnya yang kian menguat. Napasnya kembali memburu. Amarah meluap menginginkan landasan.
Bugh!
Brak ....
__ADS_1