Pembalasan Istri Tanpa Waris

Pembalasan Istri Tanpa Waris
4. Bukannya Dia ...?


__ADS_3

Ruas jari dari salah satu tangannya mengeluarkan cairan merah. Tawa pedih pun keluar dari bibirnya. Terkekeh kencang sampai pria yang baru saja keluar dari kamar mandi segera berlari menghampiri.


"Alexa ...," panggilnya terdengar khawatir. "Apa itu tidak sakit?"


Kedua tangannya menggenggam pergelangan tangan yang terluka. Bibirnya terbuka kecil meniup-niup luka yang ada, seraya mengelusnya.


Tangan Alexa yang bebas seolah tidak ingin kehilangan kesempatan emas. Langsung terbang dan terjun bebas mengenai pipi berair yang belum sempat dilap, dan ....


Plak!


Suaranya terdengar sangat nyaring.


***


"Hh, hah ..., uuh." Sambil tangan menekan ke bagian dada, dia terus mengatur napas yang begitu terbangun merasakan sesaknya.


Gelas berisi air putih di atas nakas dia raih. Meneguk air itu hingga tersisa setengah gelas.


"Mahen?" Dia bergumam bingung. Namun akhirnya menyeringai.


Tangannya yang masih memegang gelas segera menaruh benda rentan pecah itu ke tempat semulanya. Kemudian mengambil handphone untuk menghubungi pria itu.


[Udah tidur?] katanya memulai percakapan lewat aplikasi hijau.


Tring!


[Ada apa?]


Senyuman Alexa mengembang. Dia memang sangat hafal jadwal pria tangguh yang belum beristri itu. Sekarang waktu di dinding kamarnya baru menunjukkan pukul 1 malam. Pria kaya yang sudah punya status CEO muda itu biasa tidur di jam 3 dini hari.


[Bisa bertemu besok?] balas Alexa lagi.


Kata orang, cinta akan tumbuh karena terbiasa, dan Alexa tahu jelas jika pernikahan dirinya dan Tuan Adijaya diatur oleh Mahen sepenuhnya. Semua karena hanya Mahen yang menjadi kepercayaan Tuan Adijaya.


[Ada apa? Aku akan sangat sibuk.] Balasan dari Mahen datang tanpa selang waktu lama.


Alexa tak banyak ingat tentang kehidupannya yang lalu di hari esok. Dia hanya tahu Mahen pergi bersama Mahen sejak hari tadi sampai ke waktu pernikahannya. Hanya saja, di kehidupan lalunya Alexa tidak sama sekali peduli dengan Mahen. Jadi tidak tahu apa yang sedang dikerjakan pria itu.


[Kalau sibuk, kenapa harus balas pesan ini?] tanya Alexa menyindir. [Apa ada kerjaan yang penting?]


2 pesan itu sama-sama punya gambaran isi pesan seorang gadis pada kekasihnya. Pesan yang ingin di manja juga penuh perhatian.


"Hey, ayok lah!" Alexa berkomentar.


Pesan yang sudah menunjukkan centang dua biru itu belum juga Alexa dapatkan jawabannya.


"Apa Mahen ketiduran?" monolognya. "Itu tidak mungkin!" Alexa mematahkan sendiri dugaannya.


Dua menit.


Tiga menit.


Belum juga ada balasan.

__ADS_1


Sampai pada menit ke dua belas. Alexa menghela napas panjang.


"Baiknya aku ma— eh?" Dia yang bersiap menurunkan kakinya jadi mengurungkan niat. [Tidak ada kepentingan? Baik lah. Tidur Alexa. Mungkin besok akan ada yang jemput untuk fitting baju pengantin.]


"Cukup banyak juga ternyata balasannya," ujar Alexa memberi komentar.


[Ok. Tapi aku akan mengiyakan hanya jika Tuan Mahen yang menjemput.]


Nakal sekali gadis itu!


Alexa akan lebih memperhatikan Mahen dibanding si tuan besar, misi balas dendamnya harus terlaksana dengan baik. Tentang Mahen tidak boleh ada yang terlewat sedikit pun.


[Jangan manja Alexa!!]


"Heh!" Alexa refleks menegakkan punggungnya.


Isi pikirannya malah membayangkan pria itu berkata dengan nada tingginya jika memperingati pegawai atau orang terdekatnya.


[Ya sudah, aku akan pilih untuk terus bekerja!] tandas Alexa tidak ingin kalah.


Kalah? Apa itu? Tidak akan Alexa ulangi apa yang pernah terjadi di kehidupan dia yang sebelumnya. Alexa hanya akan menjadi kuat dan semakin kuat.


[Kamu di mana?] Pria itu tampaknya kembali menjadi si kulkas.


"Terus saja berpura-pura dingin. Entah kenapa aku malah ngerasa kalau Mahen bukan tipe cowok yang dingin."


[Tempat aku tidur,] jawab Alexa, cepat.


[Besok pagi akan ada yang datang untuk memindahkan barang-barangmu ke sini.]


[Maksudnya? Ke rumah kamu, Tuan Mahen?]


"Hehe, mari kita lihat bagaimana Anda akan menjawab ini Tuan Mahen?" Alexa menarik ujung bibirnya lebar-lebar.


"Rumah itu rumah kesayangannya, aku sangat tidak yakin jika sudah ada dengan sertifikat namanya. Sangat aneh."


Tring!


Alexa yang sedang bengong melirikkan matanya menatap ke layar handphone kembali.


[Itu rumah kamu, Alexa!]


"Sungguh rumah aku?" Jari telunjuknya mengarah ke diri sendiri. Decakan yang disambung gelengan kepala, gadis itu lakukan.


[Hey, Tuan muda begitu percaya padaku? Aku saja belum menikah dengan Ayahmu, Tuan,] balas Alexa.


[Hanya tersisa hitungan hari,] jawab Mahen.


Alexa hanya bisa mangut-mangut. Lantas jemarinya mengetik memberikan balasannya, [Ok. Selamat malam (emoji cium love)]


***


Seperti yang dikatakan Mahen jika barang-barang Alexa akan dipindahkan di pagi hari. Gadis itu jadi harus bekerja dengan wajah dipenuhi kantuknya karena kekurangan waktu tidur.

__ADS_1


"Sa, cowok kemarin itu pacar kamu?" Julianne, si gadis cantik yang selalu berhasil memikat para bos untuk ditemaninya.


"Bukan," jawab Alexa datar.


"Baru satu kali aja dapat job gede, langsung belagu," sindir Julianne yang berlalu meninggalkan dapur kotor.


Alexa jadi menoleh dan menatap gadis tinggi semampai dengan badan sekal dan berisi di bagian tertentu.


"Namanya juga manusia, kadang suka iri," balas sindir Alexa, meski yakin tidak akan terdengar oleh Juliane.


"Hi, xi." Gadis di sebelah Alexa terdengar menahan tawanya, membuat Alexa menolehkan wajah.


Batinnya bertanya-tanya tentang siapa gadis itu.


'Ah, ternyata dulu aku secuek itu. Sampai tidak tahu kalau punya teman wanita di satu bidang kerja ini.'


"Eh, hai?" Alexa melambaikan tangannya yang lembab. "Jangan di tahan, tertawa gak dilarang kok," sambungnya.


"Hehe ..., hai Alexa," sapa gadis itu ramah.


"Eum, maaf ya ..., Ha–num." Alexa mengeja name tag yang di pakai gadis di sebelahnya. "Aku engga tau kalau ada cewek juga yang jadi ......


"Itu karena kamu terlalu fokus kerja, Alexa."


"Ya, iya, sih." Alexa nyengir kuda. Mulai menyadari betapa bodohnya terus mengejar harta. Tanpa memedulikan sekitar, dia hanya akan terus bekerja dan bekerja.


"Oh iya Alexa. Kalau bukan pacar kamu, cowok kemarin itu siapa?" Gadis memakai kacamata bernama Hanum ini meneruskan pertanyaan Julianne.


Bibir Alexa yang sebelumnya tersenyum lebar jadi tertutup datar. Apa harus memperkenalkan ke teman kerjanya siapa Mahen itu?


"Eum, itu ...."


Hanum mendekatkan wajahnya ke Alexa, lalu berbisik, "Sugar dady kamu?"


"Astaga!"


Nit, nit ....


Berbarengan terkejutnya Alexa, mesin pencuci piring berbunyi. Alexa segera melanjutkan pekerjaannya terlebih dahulu.


"Bukan juga, Num." Alexa menoleh. Kali ini senyumannya terbingkai cantik seolah tanpa dibuat-buat.


"Dia calon anak aku," sambung Alexa.


Bukan hanya Hanum, ada seorang wanita lainnya yang ikut terkejut dari balik dinding di mana Alexa membawa keranjang berisi piring-piring yang hendak di antar ke para chef.


Alexa lalu meneruskan langkahnya. Kembali ke dapur membawa keranjang yang sudah kosong.


"Hey?"


"Astaga!" Alexa menoleh dan mendapati seorang gadis yang sedang menggigit bibir bawahnya. "Cowok kemarin calon anak kamu, Sa?" bisiknya.


"Julianne!" Seorang gadis dengan seragam yang sama dengan Julianne memangil namanya.

__ADS_1


Alexa ikut mengarahkan wajahnya karena suara gadis itu tampak khawatir. "Bukannya dia ...?" Alexa membulatkan mata detik itu juga.


__ADS_2