Pembalasan Istri Tanpa Waris

Pembalasan Istri Tanpa Waris
2. Tertarik


__ADS_3

"DASAR ANAK TIDAK BERGUNA! MEMALUKAN ORANG TUA!" pekik sang mamah sambil terus melayangkan sapu dan mendaratkannya di tubuh Alexa.


Sedangkan papahnya tak jauh berbeda. Pria yang mabuk judi itu terus menendang tubuh Alexa sampai terhempas beberapa jengkal.


"ANAK MACAM APA KAMU? TIDAK TAHU SOPAN SANTUN SAMA ORANG TUA? HEH? KAYAK ANJ*N* YANG GAK PUNYA PENDIDIKAN!"


Ucapannya langsung menusuk jantung Alexa. Kata-kata kasar yang menohok. Memangnya kenapa kalau tidak tahu sopan santun? Apa mereka (orang tuanya) itu memberikan pendidikan yang layak untuknya?


Haha .... Bagaimana bisa dulu Alexa begitu buta sampai tidak menyadari jika orang tuanya sangat tidak punya arti kasih sayang?


Mereka dengan mudahnya mengeluarkan banyak cacian.


Tiba-tiba Alexa merasa sakit di rambutnya. Ternyata Mamah menarik rambut Alexa sambil menyeretnya keluar. Dia merasakan perih di ujung kepalanya itu.


"Mah, sakit Mah ...." Alexa melirih. Meminta belas kasih wanita yang telah melahirkannya itu.


"Mah ..., sakiiit." Alexa kembali meminta belas kasih sang mamah.


Namun agaknya tak ada yang bisa memberikan perubahan untuk apa yang dia dapatkan. Papahnya di belakang terus saja mengucapkan umpatan-umpatan yang sangat mengganggu di telinga.


"MAKANYA JADI ANAK BAIK! JANGAN MAU SEENAKNYA!"


"KAMU DILAHIRKAN BIAR BISA BAHAGIAN KAMI, BUKAN MALAH NGERUSAK HARGA DIRI KAMI, ALEXA!"


"CARI KERJA YANG BENER, JANGAN CUMA NGABISIN UANG!"


Lalu, bagaimana dengan sang papah yang begitu gampang menghabiskan uang keluarga? Uang yang seharusnya di gunakan untuk keperluan?


Bahkan selama sekolah menengah atas, Alexa selalu mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan uang jajan. Meski tanpa jual diri, sepertinya tak jauh berbeda karena dia mengencani untuk uang si pria saja.


"Mah ..., le–lepasin, Mah ...."


Alexa terus merintih, ucapan papahnya tak lagi dia dengarkan. Cairan bening tanpa dia rasa ikut terjatuh dari sudut matanya.


Bukan melepaskan, kepala Alexa malah didorong sampai dia menubruk ke penyangga rumah. Memar di kening tidak bisa Alexa hindari.


"Diam, Alexa! Kamu harus bertanggungjawab dengan Tuan Adijaya!" Tangan mamahnya masih berada di rambut Alexa.


"Tanggung jawab??" Alexa melepaskan paksa kepalanya dari tangan si mamah. Banyak rambut hitamnya yang tersisa di tangan wanita dengan pakaian modis itu.


"Mamah sama Papah gak peduli sama aku 'kan? Kalian cuma peduli karena aku ngehasilin uang! Iya 'kan??" Alexa berkata sambil melototi kedua orang tua itu.


Sepertinya kedua orang yang lebih tua dari Alexa itu tak menyangka dengan perubahan sikap putrinya. Terhenyak dan seolah terpaku di tempat itu.

__ADS_1


"Aku, Mecca Alexa Jackson memutuskan hubungan dengan kalian!" Tegas dan tanpa penolakan.


Alexa bergegas pergi dengan langkah besarnya. Dengan rambut yang sangat tidak terkontrol, hidung memerah karena menahan tangis dan rasa sakit. Alexa terus berjalan penuh percaya diri.


Panggilan-panggilan dari orang di belakangnya tak dihiraukan.


***


Alexa memercikan tawa mengingat bagaimana tadi dirinya sebelum berangkat kerja. Alexa yang sengaja memancing emosi orang tuanya dengan mengatakan tidak akan menikahi Tuan Adijaya, mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Mungkin tidak lagi," jawab Alexa dalam hati.


Jika tidak mengetahui, orang tuanya hanya peduli karena Alexa bisa menghasilkan money, tentu saja gadis itu tak akan berbakti sampai rela selalu mengirimkan uang yang dipinta orang tuanya di tiap hari. Anggap saja Alexa yang membiayai dua orang tua egois itu.


"Hei, ada apa?"


"Eh?" Alexa menoleh. "Tidak," jawabnya diakhiri senyuman manis dari bibir merah muda alami itu.


"Baik lah, sudah bisa tanda tangani perjanjiannya?"


Mereka kembali ke percakapan seharusnya. Mahen menyodorkan berkas dengan semua isinya sudah seperti yang diinginkan Alexa.


Gadis cantik dengan kucir dua yang menampilkan sisi manisnya itu mengangguk.


"Terima kasih Tuan Mahen," ucap Alexa, mendorong dan memberikan kembali ke Mahen.


"Aku gak perlu terima kasih itu," balas Mahen jutek. Pria itu bangun dari duduknya setelah menaruh perjanjian ke dalam tas yang di bawa. Berlalu pergi meninggalkan Alexa yang mengernyitkan dahi.


"Hampir saja aku tertipu," gumam Alexa. Menghela napas, lantas kembali masuk ke dapur untuk membantu cucian piring.


***


Entah bagaimana kabar orang tuanya. Alexa hanya merasa lebih bahagia dengan keputusan yang diambil. Dia duduk di pinggir kasur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Tring!


Ponselnya berdenting.


"Siapa sih? Apa Papah atau Mamah?" Alexa bangun dari duduknya.


Pergi menaruh handuk terlebih dahulu, lalu duduk di depan meja rias setelah mengambil ponsel dari tasnya.


Tuan Mahen : [Jam 9 gue jumput lo di rumah. Ada acara teman Ayah. Lo harus dampingi Ayah.]

__ADS_1


Ya, Alexa menyadari tugasnya sudah dimulai meski belum menyandang status Nyonya Adijaya.


Begitu menoleh ke jam di dinding kamar kostnya, saat ini sudah jam 7 lewat beberapa menit.


[Siapin bajunya karena gak mungkin aku pergi pakai baju lama,] balas Alexa.


Kemudian bergegas mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


***


Sampai di acara, banyak pasang mata yang menatap ke arah Mahen dan Alexa. Keduanya itu tampak serasi. Mahen dengan tuxedo berwarna abu dengan Alexa di sebelahnya mengenakan gaun panjang seksi yang memperlihatkan kaki jenjangnya, dengan kerah V tanpa lengan berwarna silver.


Bisik-bisik kata iri dari para wanita masuk ke pendengaran Alexa.


"Seriusan itu pasangan Tuan muda Adijaya?"


"Ih, bukannya tuan muda udah punya pacar ya?"


"Tunangan kali. Jadi sangat gak mungkin kalau cewek itu pasangannya tuan muda."


Sampai seseorang mendorong kursi roda di mana tuan besar Adijaya berada. Tatapan kagum dan iri tadi berakhir penuh kebencian. Banyak ucapan menyindir yang menganggap Alexa tak punya malu karena berani menanggalkan masa muda hanya karena mengurusi pria tua yang banyak harta.


Hey, apa mereka jika ditawari akan menolak? Alexa yakin seribu persen jika mereka pun akan mengiyakan.


Alexa santai saja. Mengambil alih kursi roda itu dari asisten sang tuan besar.


"Terima kasih Nyonya," ucap si pria paruh baya dengan pakaian rapi berjas itu.


"Sudah tugas aku, Pak Kasim. Terima kasih kembali," balas Alexa lembut.


Senyuman tipis tidak luntur dari bibirnya. Alexa menemani Tuan Adijaya dengan senang hati. Juga menikmati pestanya tanpa merasa terbebani.


Hingga tiba di satu waktu. Alexa duduk sendiri tanpa teman yang menemani.


"Ternyata kamu bisa ramah juga, ya?" sindir seorang pria yang baru saja tiba.


Alexa menoleh. Matanya menangkap Mahen saat mengambil duduk di sebelahnya sambil membuka pakaian luarnya yang hanya menyisakan kemeja.


Di sebuah sofa dekat dinding. Keduanya duduk berdekatan. Tuan Adijaya ditemani Pak Kasim sedang berbicara tentang bisnis dengan para pengusaha lainnya. Tentu saja Alexa belum mempunyai wewenang untuk mengetahui.


"Kenapa? Apa aku harus tampilkan wajah jutek?" tanya balik Alexa sarkas.


"Tidak perlu," balas Mahen. Wajahnya menoleh menatap Alexa. "Hanya saja kamu semakin membuat orang lain tertarik Alexa."

__ADS_1


__ADS_2