
Sinar mentari semakin tinggi di langit, udara sejuk dari pedesaan begitu terasa meskipun Waktu sudah menunjukan pukul 11 Siang.
Di sebuah rumah berdinding batu-bata, ada sosok tubuh Pria yang tengah terbaring dengan beberapa luka di bagian perut dan lenganya. Sudah hampir 1 minggu Pria yang tidak di ketahui Identitasnya tersebut terbaring lemah di rumah Fitri.
" Nduk, gimana? Apa dia sudah menunjukan tanda-tanda membaik? " tanya Pak Wira, Ayah dari Fitri Hapsari.
" Belum Pak, sepertinya luka nya Pria itu masih belum kunjung sembuh. " jawab Fitri.
Pak Wira membuka tirai di kamar depan, beliau menatap Pria yang ditemukanya 1 minggu lalu tepat di pinggir sungai yang ada di bawah jurang Lambayong.
" Kasian Keluarganya, pasti mereka sibuk nyariin dia. " ucap Pak Wira.
" Iya Pak, kita doakan saja semoga dia cepat sadar ya Pak e. " sambung Fitri, Pak Wira pun mengangguk.
Fitri kembali ke dapur untuk memasak makan Siang, sedangkan Pak Wira pergi ke sungai tempat Pria Asing tersebut di temukan.
" Akhhh. " rintih seseorang, Fitri yang mendengar suara orang kesakitan itu pun segera mematikan kompor nya dan berlari menghampiri asal suara.
" Yaallah Kang, Akang udah sadar? " tanya Fitri sambil membantu Pria yang ditolongnya itu kembali keatas dipan.
" Saya ada di mana? " tanya Pria tersebut.
" Akang ada di rumah Fitri, udah 1 minggu Akang gak sadarkan diri. " jawab Fitri.
Pria itu pun meringis kesakitan sambil memegang perutnya yang terasa perih, dan kepalanya terasa pusing.
" Sender aja dulu Kang, Fitri buatin teh anget ya. " ucap Fitri lalu berlalu meninggalkan Pria tersebut.
__ADS_1
Tak lama kemudian Fitri kembali dengan membawa secangkir teh hangat, dan meminta Pria di hadapanya untuk meminumnya. Pria tersebut meminumnya tanpa banyak bertanya, setelah selesai dan merasa nyeri di lukanya sedikit berkurang. Fitri mulai menanyakan Asal-usul sang Pria.
" Maaf nih Kang, kalau boleh tau. Akang teh berasal dari mana? Namanya siapa? " tanya Fitri.
Pria tersebut memandang Fitri dengan seksama, kemudian dia kembali menatap luka yang ada di tubuhnya.
" Kang? " panggil Fitri.
" Panggil saja saya Bara. " jawab Pria itu, Fitri pun mengangguk.
Tak lama Pak Wira datang dan membawa beberapa ikan hasil tangkapanya, dan juga beberapa daun untuk mengobati luka Bara sebagai Pertolongan Pertama.
" Alhamdulilah, kamu teh sudah sadar pisan. " ucap Pak Wira sambil mengatupkan kedua telapak tanganya ke wajah beliau.
Bara menatap heran, dan kemudian beralih menatap Fitri.
" Gimana Nduk? Apa dia masih bisa mengingat Asal-usulnya? Bapak khawatir kalau sampai dia teh Amnesia. " bisik Pak Wira.
" Tenang sajalah Pak, Akang ini Namanya Bara. " balas Fitri.
" Yasudah, Bapak tinggal mandi dulu ya. Fitri, kamu goreng ikan hasil tangkapan Bapak dan kamu kasih ke Nak Bara ya. Supaya dia cepet pulih. " ucap Pak Wira.
" Iya Pak. " sahut Fitri.
Fitri pun pamit untuk kebelakang, dan Bara menganggukan kepala. Setelah Fitri pergi, Bara berusaha untuk turun dari dipan dan berusaha berdiri.
" Di tempat mana lagi saya ini? " tanya Bara.
__ADS_1
Setelah dirasa Bara sanggup untuk menyeimbangkan tubuhnya berdiri, Bara berusaha untuk melangkah satu persatu. Meskipun dia beberapa kali terjatuh dan merasakan nyeri pada lukanya, namun Bara berhasil menahan rasa nyeri itu dan dia bisa keluar dari kamar tempatnya terbaring.
Bara pun berusaha untuk berjalan keluar rumah, karena dia ingin mengetahui seperti apa lingkungan dia tinggal.
" Nak Bara. " panggil Pak Wira, Bara pun menoleh.
" Hati-hati Nak, kamu masih sakit bukan? Ayo Istirahat lagi ke dalam, biar Bapak bantu. " ucap Pak Wira.
Bara yang hendak menolak pun tak sempat, karena Pak Wira dengan begitu saja membopong Bara dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar.
" Saya tidak mau merepotkan Bapak lebih lama lagi. " ucap Bara saat sampai di atas dipan.
" Siapa yang direpotin? Sudah kewajiban Bapak dan Anak Bapak, menolong sesama Manusia. " sahut Pak Wira diiringi senyum yang tulus.
Hal tersebut sedikit menyentuh hati Bara, dan lambat laun senyum kecil terukir di sudut bibir Bara.
" Pak, ini makanan buat Kang Bara. " ucap Fitri yang tiba-tiba masuk sambil membawa sepiring Nasi dan lauk pauk.
" Kamu bantuin Nak Bara makan ya Nduk, Bapak mau ke rumah Pak Lurah dulu buat laporan. " pamit Pak Wira.
" Hati-hati ya Pak. " jawab Fitri.
" Iya Nduk, Asallamuallaikum. " salam Pak Wira.
" Waallaikumsallam. " sahut Fitri.
Fitri pun menyuapi Bara dengan tanganya sendiri, awalnya Bara menolak. Namun Fitri tetap memaksanya karena kesehatan Bara lebih penting.
__ADS_1