
Bara belum juga bisa tidur, dia terus memikirkan Orang-orangnya yang berada di Kota.
" Alvin, bagaimana keadaanmu saat ini? " tanya Bara dalam hatinya.
Bara pun terbangun dan duduk di atas dipan, dia teringat tentang ucapan Fitri kepada Gilang tadi.
" Apa dia akan beranggapan baik kepada saya, setelah dia tahu siapa saya yang sebenarnya? " tanya Bara lagi.
Malam ini Bara benar-benar Dilema, meskipun dia sering berkelahi dan mengalahkan musuh-musuh di sekitarnya. Bagi Bara, pantang menyakiti seorang Perempuan. Karena dia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh Perempuan yang sangat di cintai.
" Aluna? Iya Aluna. " ucap Bara, tiba-tiba dia teringat bahwa Fitri yang dia rasa pernah bertemu denganya sebelumnya. Ternyata mirip dengan Aluna, mantan Kekasihnya 5 tahun yang lalu.
" Apa mereka ada hubungan? Jika ini sebuah kebetulan, kenapa harus dengan Aluna? " tanya Bara pada dirinya sendiri.
Bara pun bangkit dan keluar kamar, dia kemudian mengedarkan pandanganya ke seluruh ruang tamu. Disana mata Bara tertuju pada sebuah Foto Pak Wira menggendong Fitri.
Bara mendekati dan meraih Foto lama tersebut, wajah Fitri memang Ayu sejak balita. Kedua bola mata bulat, bibir mungil dan tipis, dan juga senyum yang hangat.
Ah, Bara rasa dirinya terpikat oleh senyum yang sama dengan milik Aluna.
__ADS_1
" Tunggu, kenapa Foto ini sepertinya ada yang aneh? " tanya Bara.
Bara kemudian membuka bingkai itu, dan dia menemukan sebuah kertas lagi di baliknya. Saat Bara membuka, dia melihat seorang Wanita dengan Wajah yang mirip sekali dengan Fitri saat ini tengah menggendong seorang balita yang seusia dengan Fitri saat balita.
" Tunggu, kenapa mereka hampir sama? Atau jangan-jangan Fitri mempunyai saudari? Lalu dimana Ibu dan Saudarinya? " kini Bara semakin penasaran dengan kehidupan Fitri, bahkan Foto balita dengan gaun berwarna Biru itupun tidak Asing untuknya.
Bara segera menutup kembali Foto tersebut, dan dia merobek Foto sang Ibu Fitri. Dia merasa bahwa harus mencari tahu mengenai Ibu dan Saudari Calon Istrinya tersebut.
Setelah itu Bara menaruh Foto tersebut di bawah kasur, dan dia mulai memejamkan matanya untuk istirahat.
" Setelah Menikah dengan Fitri, aku harus kembali ke Kota secepatnya. Harus ku urus Biadab itu bersama Anggotanya, dan yang harus ku temui dulu adalah Keluarga Alvin diluar Kota. " batin Bara.
* * *
Mentari yang mulai bersinar menampakan diri, Ayam-ayam tetangga saling bersautan.
Bara terbangun dengan peluh membasahi seluruh dahi dan juga pelipisnya.
" Ya Tuhan, ternyata hanya Mimpi. Tetapi Mimpi itu begitu terasa nyata, kenapa sama dengan Mimpi tentang Aluna dulu? " batin Bara.
__ADS_1
Pak Wira memanggil Bara dari luar kamar, kemudian beliau masuk dan melihat Bara tengah melamun dengan keringat bercucuran.
" Nak Bara? Ada apa? " tanya Pak Wira.
" Eh, Bapak kapan ada disitu? " tanya balik Bara, Pak Wira tersenyum dan kemudian duduk disamping Bara.
" Kamu dari tadi Bapak panggil kok enggak jawab? " tanya Pak Wira.
Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apakah dia harus jujur jika baru saja mimpi hal buruk mengenai Fitri Anaknya?
" Em, saya baru saja mimpi buruk Pak. " jawab Bara.
" Anggap saja itu Kembang tidur, kamu mandi sana gih. Fitri sudah nyiapin Air hangat untukmu. " ucap Pak Wira.
Bara pun mengangguk, dia mulai berjalan menuju kamar mandi. Memang semenjak dia sadar, dia belum pernah mandi selain menggosok gigi dan cuci muka.
" Ini Mas handuknya, Bapak yang beli tadi. " ucap Fitri.
Bara mengangguk dan tersenyum kepadanya, Fitri menjadi salah tingkah mendapati senyum dari Bara. Dia kemudian pergi menuju kamar pribadinya.
__ADS_1