
Pukul 9 malam Pak Wira sampai di rumah, beliau melihat Bra dan Fitri duduk di kursi depan rumah.
" Asallamualaikum. " salam Pak Wira.
" Waallaikumsalam. " sahut Bara dan Fitri bersamaan.
" Wah, kayaknya ada yang lagi saling kenal eu sebelum Menikah. " goda Pak Wira.
Bara hanya tersenyum sekilas, sedangkan Fitri tersipu malu sambil menarik lengan Pak Wira.
" Bapak mah apa-apaan, malu tau sama Mas Bara. " bisik Fitri.
Mendengar Fitri memanggil Bara dengan sebutan Mas, Pak Wira tidak bisa menahan tawanya.
Sedangkan Bara kebingungan.
" Permisi. " suara Gilang muncul dengan tiba-tiba, dia datang dengan 2 orang Anak buahnya.
" Ada apa Nak Gilang? " tanya Pak Wira.
" Pakde, apa Pakde yakin mau Menikahkan Fitri dengan Laki-laki Asing itu? " tanya balik Gilang sambil menujuk Bara.
__ADS_1
Bara yang sudah terbiasa mendapat perlakuan tidak mengenakan tersebut hanya bisa tersenyum meremahkan.
" Mau saya Menikah sama dia atau enggak, itu nggak ada urusanya sama kamu ya Gilang. " ucap Fitri.
" Tapi kita enggak tahu dia itu siapa? Latar belakangnya seperti apa? Kalau dia Orang jahat gimana nyoba? " tanya Gilang.
Pak Wira diam, beliau beralih menatap Bara dan Fitri. Sedangkan Bara menatap Fitri dengan tatapan tajam.
" Saya-saya. " Fitri terbata-bata saat hendak menjawab, sedangkan Gilang tersenyum puas.
Bara yang melihat Gilang tersenyum penuh kemenangan itupun langsung berdiri dan menatap nyalang kepada Gilang.
Gilang seketika diam, dia kemudian tidak lagi tersenyum.
Bara yang melihat mental Gilang belum seberapa itupun merasa senang, karena akhirnya dia bisa menutup mulut Gilang yang sok tersebut.
" Sudah, sudah. Kamu pulang saja Gilang. Mau saya Nikah sama siapapun itu enggak ada urusanya sama kamu, saya mau Nikah sama Mas Bara itu teh karena Mas Bara baik dan sopan sama Bapak saya. Enggak seperti kamu yang begajulan. " ucap Fitri.
Gilang dan ke dua Anak buahnya pergi dengan perasaan kesal, dalam hati Gilang berjanji akan merebut Fitri dari Bara dan menjadikanya Istri Gilang satu-satunya.
" Mbok ya kamu yang sabar Nduk, gak baik kayak gitu sama Gilang. Apa lagi Gilang Sekertarisnya Pak Lurah. " ucap Pak Wira.
__ADS_1
" Sudahlah Pak, biarkan saja. Fitri mau istirahat saja kalau gitu. " sahut Fitri lalu masuk ke dalam rumah.
Bara yang melihat dari tatapan dan cara Fitri berbicara, dia seakan membenci Gilang.
" Gadis polos dan sebaik dia ternyata bisa membenci seseorang? Hm, sepertinya aku harus bisa mendapatkan hatinya. " batin Bara.
Pak Wira pun mengajak Bara masuk kembali ke rumah untuk Istirahat, karena besok Pernikahan Bara dan Fitri akan di majukan sebelum Pukul 11 siang.
* * *
Di sebuah rumah berlantaikan 2, Gilang dan kedua Anak buahnya tengah merencanakan sesuatu.
" Besok malam, kita akan culik Fitri saat dia tertidur. Setelah itu saya akan paksa dia menjadi Istri saya. " ucap Gilang.
" Siap Juragan. " jawab kedua Anak buahnya.
Gilang yang memang sudah gila karena Fitri itupun menjadi lepas kendali, dia tersenyum senang karena sebentar lagi Fitri akan dia miliki. Tak perduli status Fitri Istri orang, Gilang tetap akan merebut Fitri dari Bara.
Dan tanpa sepengetahuan Gilang, bahwa Bara bukanlah pemuda biasa. Soal bertarung dan membunuh, itu adalah hal biasa bagi Bara.
Gilang, oh Gilang. Anda salah lawan.
__ADS_1