
Bara yang merasa dirinya juga masih lemas, akhirnya menurut dan menerima suapan demi suapan dari Fitri.
Tanpa sengaja dia dan Fitri saling bertatapan, Fitri malah menjadi salah tingkah sedangkan Bara masih terus memandangnya.
" Gadis ini? Kenapa saya merasa pernah mengenalnya? " batin Bara.
Tak lamapun, Bara sudah menyelesaikan makananya dengan lahap. Tidak bisa di pungkiri bahwa Fitri memang jago sekali dalam hal memasak.
" Asallamuallaikum. " salam dari Pak Wira.
" Wallaikumsallam. " jawab Fitri dan Bara bersamaan.
Pak Wira kemudian masuk ke dalam kamar tempat Bara beristirahat, dan diikuti 2 Bapak-bapak di belakangnya.
" Permisi Nak Bara, perkenalkan. Saya Lukman Lurah disini dan ini Sekertaris saya Gilang. " ucap Pak Lukman.
Bara hanya mengangguk tanpa tersenyum ataupun bersalaman, Pak Lukman yang merasa kasihan melihat keadaan Bara pun mengerti.
" Baiklah, saya hanya ingin mendata diri Nak Bara saja. Supaya Nak Bara bisa segers bertemu dengan Keluarganya di Kota. " ucap Pak Lukman.
Bara terdiam, dia memandang Fitri dan Pak Wira bergantian. Kemudian dia memandang seluruh luka di tubuhnya yang telah diakibatkan oleh seseorang.
" Maaf Pak, Saya hanya mengingat Nama Bara saja. " balas Bara.
Pak Lukman, Pak Wira, Gilang dan Fitri saling menatap satu sama lain. Pak Wira pun mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak mengerti.
" Saya rasa, Bara ini kehilangan sedikit memori dalam kepalanya. Mungkin karena benturan saat terjatuh dari Jurang yang lalu? " ucap Gilang.
Semua pun mengangguk mengerti, mereka berfikir bahwa Bara mengalami lupa ingatan sementara.
" Yasudah, biar Nak Bara Istirahat terlebih dulu. Kita mari bicara di luar dulu Pak Lurah. " ucap Pak Wira.
__ADS_1
Pak Lukman dan Gilang pun mengangguk, sedangkan Fitri ke dapur untuk membuatkan minuman.
" Jadi bagaimana Pak? Apa kita perlu ke Kantor polisi di Kota? " tanya Pak Lukman.
" Biarkan saja Nak Bara disini Pak, sampai Ingatanya kembali pulih. " jawab Pak Wira.
" Lalu nantinya bagaimana dengan pandangan orang-orang? Kita ini hidup di Desa Pak, dikelilingi Wong Ndeso. " tanya Pak Lukman lagi.
" Bener itu Pakde, apalagi Pakde punya Anak Perempuan. Bisa-bisa Warga ngira kalau mereka kumpul kebo. " imbuh Gilang.
Fitri yang tak sengaja mendengar ucapan itu pun duduk di samping Pak Wira sambil mempersilahkan semuanya minum.
Srup!
" Jadi gimana menurut Sampean-sampean pada? " tanya Pak Wira.
Pak Lukman diam, beliau masih memikirkan sesuatu hal.
Sedangkan Pak Lukman mengangguk, menyetujui ucapan Gilang barusan.
" Bener Pak, kalau Fitri udah Nikah pasti gak akan ada yang mikir aneh-aneh. Wong ada Suaminya iya kan? " tanya Pak Lukman.
" Tapi Pak, Fitri belum siap Menikah. Apa lagi belum pernah ada satupun yang datang melamar Fitri, padahal Usia Fitri sudah 23 tahun. " ucap Fitri.
Pak Wira pun semakin kebingungan, beliau hanya bisa meminum teh buatan sang Putri untuk menutupi ke gundahanya.
" Saya yang akan Menikah dengan Fitri Pak. " ucap Bara tiba-tiba.
" Tapi Kang? Akang saja tidak bisa mengingat Keluarga Akang sendiri. " ucap Fitri.
" Izinkan saya membalas kebaikan Keluarga kamu, Saya yakin suatu saat saya bisa mengingat semuanya dan membawa kamu bertemu Keluarga saya. " balas Bara.
__ADS_1
" Tapi kamukan perlu surat-surat penting Bara? apa ndak sebaiknya kamu Nikah sama Pria di Desa sini saja? " tanya Gilang seakan tidak menerima keputusan Bara.
" Bagaimana Pak? Apa Bapak setuju? " tanya Pak Lukman.
Pak Wira berdiri dan menatap Bara, beliau begitu menatap dengan serius dan tak lama kemudian beliau mengangguk dengan mantap.
" Saya izinkan Fitri menjadi Istri Nak Bara, biarkan sekaligus Fitri yang akan merawat Nak Bara sampai sembuh. " jawab Pak Wira.
" Tapi kan Pak-- " Gilang hendak memprotes keputusan Pak Wira, namun Pak Lukman dengan segera menggelengkan kepala ke arahnya.
" Saya rasa itu juga keputusan yang lebih baik. " imbuh Pak Lukman.
Fitri pun menunduk dan mengangguk pasrah, walau sebenarnya dia terpikat dengan ketampanan Bara saat pertama kali Bara dibawa Warga ke dalam rumahnya.
" Saya akan buatkan surat-surat untuk keperluan kalian, dan besok siang kalian bisa melangsungkan Akad Nikah dahulu. Kami permisi Pak, Fitri, Nak Bara. Asallamualaikum. " ucap Pak Lukman.
" Wallaikumsalam, terimakasih Pak Lurah dan Nak Gilang. " sahut Pak Wira.
Dan mereka bertiga duduk di ruang tamu bersama, selepas kepergian sang Lurah dan Asistenya.
" Bolehkan Bapak menanyai kamu satu hal lagi? " tanya Pak Wira, Bara pun hanya bisa mengangguk.
" Apa kamu yakin dengan keputusan kamu? " tanya Pak Wira, Bara kembali mengangguk.
Meskipun dalam hati ada kebohongan yang tengah dia pendam, dia merasa tidak perlu semua tahu sekarang. siapa sosok Bara yang sesungguhnya.
" Kamu bersedia Menikah dengan Nak Bara? " tanya Pak Wira kepada Fitri.
" Firtri ngikut baiknya Bapak saja, karena Fitri yakin. Bapak tidak akan menyetujui Kang Bara kalau bukan hati Bapak sudah mantep beneran. " jawab Fitri.
Pak Wira pun tersenyum lega, akhirnya sang Putri akan segera menjadi seorang Istri.
__ADS_1