
"Betul-betul anjing budak yang tidak tahu diri!" maki Wan Jia. Dari tadi dia memang sudah marah gara-gara si orang tua yang telah mempermainkan dan setengah menantangnya tadi. Wan Jia kemudian melompat dan melancarkan jurus tendangan yang disertai angin hebat mengarah perut Xiao Xia. Melihat musuh menyerang, Xiao Xia berkelit ke samping dan hantamkan ujung sikunya ke tulang iga lawan. Wan Jia kemudian melompat ke atas dan menggunakan lututnya menyerang ke kepala lawan. Xiao Xia menunduk serta melompat ke samping dan melepaskan pukulan ke punggung lawan tetapi Wan Jia berhasil mengelak.
"Ah, Tuan Muda Xiao Xia, mengapa musti mengotori tangan terhadap budak kesasar ini? Biar aku si tua bangka Jiau An yang kasih sedikit pelajaran sopan santun terhadapnya!" Ternyata yang berkata itu adalah orang tua renta kurus kerempeng yang tadi mencabuti rumput di halaman, yang merupakan pembantu Kepala . Mendengar dirinya dimaki sebagai budak kesasar, marahlah Wan Jia. Dia berbalik dan menyerang orang tua itu dengan satu pukulan jarak jauh yang menimbulkan angin deras. Angin pukulan ini menyerang ke jantung Jiau An. Jiau An tertawa kemudian menggerakkan tangan kanannya yang kurus, setiap angin yang dilancarkan Wan Jia kemudian berbalik menyerang dirinya sendiri. Ditambah dengan dorongan angin pukulan si orang tua maka bertambah kekuatan serangnya! Tubuh Wan Jia terlempar keluar pekarangan rumah sampai tiga tombak dan menggelinding di tanah. Dicobanya untuk bangun kembali. Tapi tubuhnya itu segera rebah lagi setelah terlebih dahulu dari mulut Wan Jia menyembur darah kental dan segar kemudian pingsan!
Tang Fei kaget bukan kepalang, mukanya menjadi merah kemudian menerjang ke depan Jiau An. Terjangan ini disertai dengan bentakan yang keras membuat penopang rumah dan tanah disekitar menjadi bergetar! Jiau An menunduk dengan cepat, namun Gerakannya ini segera disusul dengan cepat oleh Tang Fei. Serangkai angin keras dan dingin menyerang ke seluruh jalan darah di tubuh orang tua itu. Jiau An cepat-cepat mendorongkan tangan kanannya ke muka dan melepaskan pukulan tenaga dalam. Maka dua angin pukulan bertemu di udara menimbulkan suara berdentum keras! Tubuh Jiau An terdesak mundur dua langkah, sedangkan Tang Fei terlempar ke tanah, namun dengan cepat ia bangun lagi. Keringat dingin mengucur di kening anak buah Sheng Duyao ini. Nyalinya sedikit menciut, tak disangka ternyata si orang tua memiliki kehebatan demikian rupa! Tak diduganya sama sekali kalau tenaga dalamnya berada dibawah ketika berhadapan dengan tenaga dalam Jiau An! Tapi karena kalap , marah dan kebencian yang meluap, dia tidak memikirkan lagi bahwa sesungguhnya si orang tua bukanlah tandingannya. Kedua tangannya direntangkan kedepan. Tangan itu kelihatan bergetar. Jiau An dan Xiao Xia memperhatikan gerak geriknya dengan tajam. Kelihatan kini bagaimana sepasang lengan Tang Fei sampai ke jari-jari tangannya berwarna kehitaman.
__ADS_1
"Ha.....ha...." si tua Jiau An tertawa, "Kau hendak pamerkan ilmu Pukulan pasir besi?" Tang Fei Terkejut karena musuh mengetahui ilmu yang paling diandalkannya itu. Tapi ini tidak diperlihatkannya, "Bagus, penglihatanmu masih tajam juga orang tua busuk, huh! Tapi tahukah kau kehebatan ilmu Pukulan pasir besi ini?!"
"Kau tak perlu banyak bacot, Tang Fei, majulah!" Seru Jiau An ketus. Tang Fei menjadi murka, segera diarahkannya ilmu Pukulan jari besi... Angin panas menderu disertai pasir melaju menghantam kearah Jiau an, namun orang tua tersebut berkelit kesamping sehingga pukulan Tang Fei menghantam pohon dibelakang Jiau An. Pohon tersebut berlubang sebesar kepalan tangan dan tampak hitam hangus terbakar.
"Hehehe... Tidak buruk" kata Jiau An terkekeh.
__ADS_1
"Ayo budak busuk kesasar majulah..!" seru Jiau An lantang.
Kedua kaki Tang Fei menjejak tanah dengan kuat, kemudian tubuhnya melesat tajam ke depan. Kaki kiri dan kanan mengirimkan serangan berantai terlebih dahulu kemudian menyusul sepasang lengannya yang menghitam oleh ilmu 'Pukulan pasir besi'. Angin yang ditimbulkan oleh serangan dua lengan ini sangat dahsyat, tajam dan memerihkan mata. Lengan kiri menghantam ke pinggang Jiau An, jika kena pastilah pinggang orang tua itu akan hancur. Lengan kanan menghantam dari atas ke bawah mengincar batok kepala Jiau An. Dapat dibayangkan bagaimana dalam sekejap mata lagi kepala si orang tua akan hancur berantakan!
Jiau An segera menghindar, sepercik api mulai menyala dan terbentuk dengan cepat dikedua telapak tangannya, setelah berhasil menghindar dari serangan Tang Fei, serta merta dilepaskannya pukulan dari kedua telapak tangannya "Api ganas angin naga" Jiau An meneriakan jurusnya sambil megarahkan kedua telapak tangannya ke arah Tang Fei. Karena sambil menyerang, Tang Fei tak bisa lagi berkelit dari serangan dasyat tersebut. Pekikan setinggi langit yang hampir merupakan lolongan serigala haus darah melengking menegakkan bulu roma! Tang Fei telempar dan terguling di tanah. Nafasnya sesak, lidahnya menjulur keluar seperti orang yang tercekik dan matanya melotot. Tubuhnya bergerak-gerak beberapa lamanya kemudian ketika darah menyembur dari mulutnya, tubuh itu pun tak bergerak-gerak lagi! Tang Fei pingsan menyusul Wan Jia, bahkan ia belum sempat mencabut pedang besar dari punggungnya, karena begitu cepat serangan yang dilancarkan si orang tua Jiau An.
__ADS_1
Xiao Xia menghela nafas panjang. Dipandanginya kedua orang yang terbujur di tanah itu. Kemudian dia berpaling pada si orang tua. "Paman Jiau An, kau kenal dengan orang yang bernama Sheng Duyao itu?" Jiau An menggeleng pelan. "Siapa dia tak penting tuan muda. Yang penting ialah mulai saat ini kita harus waspada karena cepat atau lambat manusia itu pasti datang ke sini untuk membuat perhitungan dengan kita!" Xiao Xia mengangguk. "Aku tak ingin melihat kedua orang ini lebih lama di depan rumahku. Bereskan mereka paman." Si orang tua tertawa mengekeh. "Tak usah khawatir...... tak usah khawatir. Aku akan sapu mereka dari depan hidungmu tuan muda." Dua kali kaki kanan Jiau yang kurus kering itu menendang. Tubuh Tang Fei dan Wan Jia terlempar dan jatuh di luar pagar halaman.