Pendekar Pedang Matahari

Pendekar Pedang Matahari
Kedatangan Sheng Duyao


__ADS_3

Sheng Duyao yang sedang menutup mata dalam tidur setengah terjaga, segera bangun ketika mendengar suara derap kaki kuda yang memasuki pekarangan. Dia bangun dan melangkah cepat ke pintu depan. Matanya yang besar itu kini tampak semakin membeliak. Setengah meloncat dia turun ke tanah. "Ada apa dengan kalian?!" tanya Sheng Duyao sedikit berteriak dengan tampang yang menakutkan. Kedua kuda itu berhenti. Penunggangnya, Tang Fei dan Wan Jia turun perlahan-lahan. Pakaian mereka kotor oleh darah dan debu. Muka keduanya pucat pasi. Melihat ini Sheng Duyao segera tahu kalau kedua anak buahnya itu mendapat luka dalam yang parah. Tang Fei berdiri terbungkuk-bungkuk sambil memegang dada, sedangkan Wan Jia begitu menginjakkan kedua kakinya di tanah langsung terjatuh, muntah darah lagi lalu pingsan! Sheng Duyao segera melompat dan cepat menangkap Wan Jia. Dari dalam jubahnya dikeluarkannya sebutir pil dan dimasukkannya ke dalam mulut Wan Jia kemudian mengalirkan tenaga dalam agar Wan Jia dapat mencerna pil tersebut. Sebutir lagi kemudian diberikannya pada Tang Fei. "Telan cepat!," katanya. "Kalau sudah, lekas atur jalan nafas dan darahmu!" Tang Fei menelan pil yang diberikan lalu cepat-cepat duduk bersila di tanah untuk mengatur jalan nafas dan darahnya. Dia mengalirkan tenaga dalamnya ke bagian tubuh yang terkena pukul. Satu jam kemudian raut wajah Tang Fei berangsur cerah, dan luka dalamnya perlahan pulih.

__ADS_1


"Sekarang!" terangkan apa yang terjadi Tang Fei?!" Sheng Duyao memukul meja sambil melotot. Tang Fei menarik nafas panjang. Diurutnya dadanya beberapa kali lalu mulailah dia menjelaskan apa yang terjadi. Muka Sheng Duyao menjadi merah padam, ia mengertakan gigi serta mengepalkan tangannya, terdengar bunyi gemerlutuk gigi yang beradu dan tulang tulang jarinya, mulutnya bergetar. Matanya melotot seperti mau tanggal dari rongganya! "Tang Fei! Siapkan kudaku! Panggil Mao Li dan Kang Fan. Kalian bertiga ikut aku! Lekas.....!" Tang Fei tanpa banyak bicara segera meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian kelihatanlah empat orang penunggang kuda beserta beberapa pengikut memacu kuda dengan kecepatan tinggi. Debu mengepul, pasir berhamparan. Sheng Duyao memimpin rombongan anak buahnya segera melesat ke kediaman Xiao Xia, kepala desa Awan Terbang. Para penduduk desa yang melihat kedatangan rombongan Sheng Duyao segera berlari masuk kerumah masing-masing dan menutup pintu rapat-rapat.

__ADS_1


"Laki-laki tua itulah yang telah mencelakai aku dan Wan Jia. Hati-hati terhadap dia tuan. Ilmunya tinggi sekali....." kata Tang Fei pelan. "Tutup mulutmu! Tak usah nasihati aku, dasar pecundang tak berguna!" bentak Sheng Duyao. Tang Fei hanya bisa menunduk dan terdiam, digigitnya bibirnya. Sheng Duyao memandang Meng Meili yang berdiri di belakang suaminya. Nafsu untuk dapat memiliki perempuan ini yang tak kesampaian atau belum kesampaian membuat amarahnya semakin meluap-luap. Dadanya seperti mau pecah. Saat itu meski sudah bersuami dan punya satu anak, tapi dimatanya Meng Meili dilihatnya semakin bertambah cantik jelita. Sheng Duyao kemudian memandang Xiao Xia dengan geram, lalu terakhir Jiau An "******** tua, turunlah kemari untuk menerima kematianmu!" Bentaknya lantang dan menggelegar karena disertai dengan tenaga dalam tinggi yang sudah mencapai puncak kesempurnaannya. Jiau An sunggingkan senyum sinis. Dia melompat maju dan hanya berjarak beberapa tombak di hadapan kuda Sheng Duyao. Gerakannya sangat ringan bagaikan bulu ditiup angin. Senyum datar yang mengejek tersungging lagi di mulut orang tua ini. "Inikah manusia yang berjuluk Tapak 9 Ular?! Yang menginginkan istri orang?! Kalau kau tidak gila tentu sinting! Apa cecungukmu yang satu ini sudah memberi tahukan padamu agar pergi mencari tabib untuk mengobati kegilaan mu itu?!" Tubuh Sheng Duyao bergetar menahan amarah yang telah sampai ubun-ubun nya! "******** tua yang tak tahu diri, hari ini terpaksa kau harus pasrahkan nyawa kepadaku!" Maki Sheng Duyao sambil melompat turun dari kuda. Ketika ia melompat, belum sampai kakinya menjejak tanah diarahkannya kedua tangannya dan dipukulkan ke depan. Dua rangkai angin sedahsyat badai menyerang orang tua yang membungkuk itu. Debu dan pasir beterbangan! Jiau An memekik keras lalu melompat setinggi tiga tombak ke atas. Angin pukulan yang dahsyat lewat di bawah kedua kakinya. Melihat serangannya gagal Sheng Duyao semakin murka, dua tinjunya kembali bergerak susul menyusul. Deru angin yang dahsyat melanda ke arah Jiau An. Si orang tua, yang rupanya ingin menjajaki sampai di mana ketinggian tenaga dalam lawan, balas mengirimkan pukulan tangan kosong. Letusan dasyat terdengar berdentum ketika dua tenaga dalam itu saling bentrok di udara. Gendang-gendang telinga seperti menjadi pecah. Tubuh Sheng Duyao temundur satu tombak dan kelihatan bergetar beberapa detik lamanya sedangkan Jiau An jatuh terduduk di tanah, bermandi keringat dingin! Bukan saja Jiau An sendiri, tapi Xiao Xia pun kaget bukan main. Meng Meili yang berdiri di belakang suaminya dan menyaksikan itu menjerit tertahan karena mengira Jiau An terluka parah. Ternyata tenaga dalam Sheng Duyao demikian tinggi, lebih tinggi beberapa tingkat dari tenaga dalam Jiau An. Tahu kalau tenaga dalam lawan lebih unggul dari dia, Jiau An segera melompat dan menyerang. Kedua tangannya bergerak dengan cepat hampir tak kelihatan, menyapu dengan telapak tangannya dan sekali-kali meninju kedepan dengan dahsyat. Hampir dua puluh jurus Sheng Duyao kelihatan terkurung oleh pukulan-pukulan yang anginnya cukup membuat matanya perih. Tapak 9 ular atau Sheng Duyao mau tak mau mempercepat pula gerakannya. Tubuhnya kini bagaikan bayang-bayang. Beberapa juruspun berlalu, Jiau An mulai merasakan tekanan-tekanan serangan dasyat yang membuatnya harus berhati-hati. Tiga puluh jurus telah berlalu. Tubuh kedua manusia itu sudah hampir tak kelihatan karena cepatnya gerakan mereka ditambah lagi dengan debu serta pasir yang mengepul ke udara menutupi keduanya. Tiba-tiba diiringi dengan teriakan yang menggetarkan dengan satu gerakan yang sukar ditangkap oleh mata, Jiau An yang mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang lebih tinggi sedikit dari lawan melepaskan pukulan tangan kiri yang bergerak cepat ke depan. Begitu Sheng Duyao berusaha mengelak ke samping, tangan Jiau An yang lainnya bergerak cepat mendarat telak. "Buk!!" Sheng Duyao termundur sampai dua tombak ke belakang. Mulutnya meringis menahan sakit pukulan tangan kanan Jiau An yang bersarang tepat di dada kirinya.

__ADS_1


__ADS_2