
Jangan lupa Vote dan Comen ya hehe
#Selamat Membaca
***
"emang apa?" tanya Syifa makin penasaran
" dia bilang gini sambil bisikin gue 'gue tau Syifa udah cerita soal identitas gue jaga rahasia ini kalau lo sampai bongkar identitas gue ke siapapun termasuk keluarga Syifa maka lo bakal tau akibatnya dan gue saranin lo harusnya bisa lebih tegas ke murid supaya lo gak di tindas ama mereka dan satu lagi gak akan ada cowok yang tergoda ama tubuh tepos lo itu.' sumpah nyeselin banget laki lo Syif pengen gue lempar tuh orang" ucap Rara kesal
"hahahaha yang sabar ya tapi kalau di pikir-pikir Kak Vano bener deh makanya punya badan tuh jangan kayak cowok di kira tepos kan lo hahahaha bye Sahabatku Tersayang" ucap Syifa tertawa lalu berlalu pergi sebelum di amuk oleh Rara
"ASSYIFA SALSHABILA AWAS LO YA" teriak Rara kesal
Sedangkan Syifa berlari menuju taman belakang sekolah. Syifa tak menghiraukan tatapan aneh dari murid-muridnya yang belum pulang karena saat ini Syifa hanya fokus berlari takutnya Rara menyusulnya dan mengamuk padanya.
*Taman Belakang Sekolah*
Syifa terus berlari hingga lupa caranya mengerem sehingga menabrak Alvano yang sedang berdiri menatap pohon besar di depannya.
"auu sakit" ucap Syifa meringis
"kamu kenapa lari-lari sih sayang? coba aku mau liat kening kamu dulu takutnya luka" ucap Alvano sembari mencari luka di kening Syifa yang terbentur oleh punggungnya.
"gak usah Caca baik-baik aja ishhh" ucap Syifa sambil terus meringis
Tanpa disangka Alvano mengecup kening Syifa yang sedikit memar dan sakit hingga membuat Syifa mematung akibat ulah Alvano.
"sayang kamu ini kenapa sih? tadi hampir nabrak sekarang malah nabrak beneran doyan banget buat aku khawatir, mana yang di tabrak aku lagi hadeh" omel Alvano sambil mengelus puncak rambut Syifa
"kita duduk dulu yuk" ucap Alvano sembari menuntun Syifa untuk duduk di kursi taman yang ada di dekat pohon itu.
Syifa menghela nafasnya saat di rasa tidak ada yang membuka suara sedangkan Alvano terus memandang Syifa sembari mengelus puncak kepala Syifa.
"Kak Vano sepertinya pernikahan kita gak bisa dilanjutkan Kak" ucap Syifa dengan wajah ingin menangis
"kenapa sayang? ada masalah?" tanya Alvano berusaha menutupi rasa kecewanya
"Kak Radit memaksa Caca untuk menerima Pernikahan Dandi Caca gak tau harus gimana Kak hiks" isak Syifa pecah saat membicarakan keinginan Kakak keduanya itu
Alvano langsung menarik Syifa ke dalam dekapannya saat melihat tangis Syifa pecah. Alvano marah karena ulah Kakaknya Syifa yang menyakiti Kekasihnya ini, Alvano berjanji siapapun yang menghalangi mereka untuk bersatu maka dia akan menerima akibatnya sekalipun itu keluarga Syifa atau keluarganya juga.
"gak akan ada yang bisa membatalkan Pernikahan kita sayang kamu hanya perlu percaya ama aku dan terima Pernikahan ini dengan baik dan yang lainnya biar aku yang urus okey" ucap Alvano lembut sesekali mengecup puncak kepala Syifa yang berada di dekapannya
"Kak, Caca bakalan coba dan belajar menerima Pernikahan ini dan Kakak sebagai Suami Caca tapi Caca punya 2 permintaan" ucap Syifa mempererat pelukannya
"katakan saja sayang aku akan mengabulkan semua permintaan kamu" ucap Alvano sambil mengelus rambut Syifa
__ADS_1
Syifa melepas pelukannya dan menggenggam tangan Alvano. Syifa mencoba menyerahkan hatinya untuk Alvano tapi tidak bisa di pungkiri Syifa juga masih sedikit takut apabila suatu saat nanti Alvano meninggalkannya di saat seluruh hati dan kehidupannya telah di berikan pada Alvano.
"yang pertama Caca pengen kalau kita pindah ke Jakarta Kakak ganti nama Caca dan jangan sampai ada satu orang pun dari masa lalu Caca yang mengetahui keberadaan Caca dan yang kedua apapun yang terjadi jangan pernah ninggalin caca karena mulai saat ini Caca akan menyerahkan hati dan kepercayaan Caca ke Kakak dan Caca pengen Kakak menjadi Cahaya yang bisa menuntun jiwa Caca keluar dari ruangan gelap yang selama ini mengurung Caca apa Kakak sanggup" ucap Syifa dengan tatapan penuh harap
"aku janji Ca, bakalan memenuhin permintaan kamu yang pertama tapi yang kedua aku tidak bisa menjanjikan itu tetapi satu yang harus kamu ingat Kakak akan berusaha melakukan apapun yang kamu mau termasuk permintaan mu yang kedua aku akan berusaha ngasih kamu kebahagiaan sayang" ucap Alvano tersenyum tulus dan menenangkan membuat hati Syifa bergetar
'Kak Vano entah mengapa Caca sekarang bisa melihat dan merasakan ketulusan Kakak padahal selama 3 tahun ini Caca gak pernah rasain ketulusan itu, Caca akan coba memberikan kepercayaan pada Kakak semoga Kakak tidak menyia-nyiakan kepercayaan Caca' batin Syifa dengan air mata terus mengalir ke pipinya
"udah ya jangan nangis lagi Kakak disini" ucap Alvano sambil mengelus tangan Syifa lalu mengecup keningnya cukup lama lalu menarik Syifa ke dalam pelukannya.
Cukup lama Syifa menangis di dekapan Alvano hingga mereka lupa dengan waktu yang terus berjalan. Alvano melihat matahari mulai terbenam dan tanpa terasa mereka telah lama di taman. Alvano pun segera melepas pelukannya dan menatap Syifa dengan dalam.
"kita pulang yuk sayang" ucap Alvano dengan tersenyum manis dan hanya dibalas anggukan oleh Syifa.
Merekapun berjalan menuju parkiran tempat Syifa dan Alvano memarkirkan motornya.
Hari berganti hari dan kini tinggal 2 minggu menuju Hari Pernikahan Alvano dan Syifa, banyak pertentangan yang di lalui Syifa selama 2 minggu ini dari Bunda dan Radit. Radit juga sudah menentukan tanggal Pertunangan Syifa dan Dandi tetapi Syifa Ayah dan Rasyah marah besar saat mengetahui itu dan saat ini adalah Hari Pertunangan Syifa dan Dandi.
"Caca jangan buat malu Kakak, Dandi adalah Laki-laki terbaik yang Kakak pilihkan untukmu jangan menolak lagi buka pintunya Caca para MUA akan merias mu" ucap Radit sambil menggedor pintu kamar Syifa.
"Caca gak mau nikah ama cowok brengsek kayak Dandi Kakak salah malahan Kakak nambah hidup Caca ngancurin bukan malah bahagia Caca mohon batalin pertunangan ini Kak hiks" ucap Syifa dibalik pintu yang enggan sama sekali membuka pintu kamarnya.
"Kakak gak mau tau pokoknya kamu harus tunangan ama Dandi hari ini juga, buka pintunya atau Kakak dobrak" bentak Radit di depan pintu kamar Syifa yang tertutup rapat.
Tidak ada sahutan dari dalam atau tanda-tanda pintu terbuka hingga dengan marah Radit mendobrak pintu kamar Adiknya dan melihat Adiknya meringkuk ketakutan sambil mencoba menelpon seseorang di samping pintu kamarnya.
"Nona ayok saya akan mendandani Nona dengan sangat cantik" ucap salah satu MUA
Setelah melihat Radit yang pergi dari kamarnya sambil membawa ponselnya Syifa pun mulai berbicara kepada para MUA dan memohon agar meminjamkan ponsel mereka kepadanya.
"nama Mbak siapa hiks" ucap Syifa dengan suara lemah dan sesegukan
"saya Lestari Kak dan teman saya namanya Devi" ucap MUA Lestari dengan senyuman
"Mbak Tari ataupun Mbak Devi Caca pengen minta tolong boleh gak?" ucap Syifa dengan nada memohon
"Nona mau minta tolong apa" jawab Devi penasaran
"pinjamin Caca ponsel Mbak Caca mau nelpon Calon Suami Caca Calon Suami Caca harus tau kalau Caca tunangan hari ini Caca gak mau Mbak hiks" ucap Syifa kembali terisak
"saya takut Nona nanti Tuan Radit tau kami bisa dimarahin" ucap Devi cemas
"hanya sebentar aja kok Mbak hiks Caca mohon tolong Caca hiks" isak Syifa memelas.
"yaudah pakai ponsel saya saja Nona" ucap Lestari merasa iba
"Tar lo yakin? nanti kalau Tuan Radit tau kita bisa di marahin" ucap Devi marah
__ADS_1
"lo tenang aja gue yang tanggung konsekuensinya" ucap Lestari dengan senyuman manisnya.
Lalu Lestari pun meminjamkan ponselnya ke Syifa dan tanpa buang waktu Syifa langsung menelepon Alvano yang sedari tadi susah di hubungi. tetapi kali ini Alvano mengangkat panggilan Syifa hingga Syifa langsung menangis histeris mengadu pada Alvano.
*Via telepon on*
"halo Assalamualaikum maaf dengan siapa" ucap Alvano dengan suara dingin
"Walaikumsalam Kakak dimana hiks" isak Syifa histeris
"Caca sayang kamu kenapa? bilang sama Kakak" ucap Alvano dengan nada khawatir
"Kakak jemput Caca bawa Caca pergi hiks Kak Radit mau tunangin Caca ama Dandi sekarang juga" ucap Syifa mengadu
"kamu tenang Kakak ke rumah kamu sekarang" ucap Alvano dengan menahan amarahnya dan mematikan sambungan telepon secara sepihak.
*Via telepon off"
"makasih Mbak Tari ini ponselnya" ucap Syifa terisak
"kamu yang sabar ya sekarang kita make up dulu nanti Kakak kamu datang dan marahin kamu lagi" ucap Lestari dengan senyum menenangkan
"makasih Kak" ucap Syifa tersenyum
****
*Alvano pov*
Alvano kini baru selesai meeting dan melihat 20 panggilan tak terjawab dari Calon Istrinya di ponselnya yang sedari tadi bergetar tetapi tidak di angkatnya. saat Alvano ingin menelpon kembali Calon Istrinya tiba-tiba nomor baru meneleponnya, dengan rasa penasaran Alvano pun mengangkatnya. Alvano merasa khawatir saat mengetahui bahwa Syifalah yang meneleponnya memakai nomor baru bahkan sambil terisak. Setelah mengetahui akar permasalahannya Alvano marah tetapi sebisa mungkin menahannya agar Syifa tidak terkena akan kemarahannya.
Setelah sambungan berakhir Alvano memanggil Sekertaris sekaligus Sahabatnya dengan keadaan marah. sang Sekertaris pun datang dengan raut wajah was-was takut terjadi sesuatu dengan Atasan sekaligus Sahabatnya itu.
"ada apa Van? lo kenapa sih?" ucap Sekertaris Alvano yang bernama Reno
"kosongin semua jadwal gue hari ini dan lo ikut gue ke rumah Syifa" ucap Alvano dengan wajah merah menahan amarahnya
"ada apa sih? Syifa kenapa?" ucap Reno heran sekaligus penasaran
"Radit ingin bermain dengan ku dan dia merencanakan Pertunangan Syifa dengan Pria brengsek itu hari ini juga tanpa sepengetahuanku" ucap Alvano dengan marah
"APA!!" kaget Reno
"lo berurusan dengan orang yang salah Radit Alvano telah marah besar dan tidak ada yang bisa membuatnya tenang kecuali dengan nyawa siap-siap aja lo buat Nyiapin biaya Rumah Sakit" batin Reno
"peringatan satu minggu yang lalu tidak cukup membuatnya jerah sepertinya aku harus membuatnya di rawat di Rumah Sakit" ucap Alvano dengan tatapan tajam kedepan seolah-olah Radit ada di depannya.
****
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak vote dan comen supaya author semakin bersemangat untuk menuangkan ide-ide yang menarik lagi.