Penerang Kegelapanku

Penerang Kegelapanku
#4


__ADS_3

Jangan lupa Vote dan Comen yah hehe


Selamat Membaca


***


"APA!!" kaget Reno


"lo berurusan dengan orang yang salah Radit Alvano telah marah besar dan tidak ada yang bisa membuatnya tenang kecuali dengan nyawa siap-siap aja lo buat Nyiapin biaya Rumah Sakit" batin Reno


"peringatan satu minggu yang lalu tidak cukup membuatnya jerah sepertinya aku harus membuatnya di rawat di Rumah Sakit" ucap Alvano dengan tatapan tajam kedepan seolah-olah Radit ada di depannya.


"ayo Ren kita harus cepat sebelum pertunangan itu terjadi" ucap Alvano dingin


Mereka berdua pun melajukan mobilnya di atas rata-rata agar mereka bisa membatalkan pertunangan itu.


10 menit kemudian Alvano dan Reno telah sampai dan berada di depan teras rumah Syifa. Alvano langsung masuk dengan wajah yang sangat marah saat melihat dekorasi rumah Syifa yang sangat mewah. Alvano meneriaki nama Radit hingga membuatnya mendapat tatapan aneh dari tamu undangan yang hadir.


Syifa yang melihat Alvano datang berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang dipegang erat oleh Dandi.


"Kak Vano tolong Caca hiks tangan Caca sakit dia gak mau lepasin Caca" ucap Syifa mengadu dengan tangis yang pilu


Alvano yang mendengar tangisan pilu Syifa langsung marah dan menghancurkan dekorasi acara tersebut.


"lepaskan dia bangsat" ucap Alvano geram


"ada hak apa lo nyuruh gue buat lepasin dia hah!!!" bentak Dandi berang


"saya ama Caca udah tunangan dari 2 minggu yang lalu dan 2 minggu lagi kita akan menikah jadi kamu harus lepasin Calon Istri ku kalau enggak kamu bakalan tau akibatnya" ucap Alvano emosi


"dia Adik gue dari awal gue gak pernah merestui hubungan kalian dan saya gak pernah menganggap Pertunangan itu sah" ucap Radit dengan lantang


"oh Radit sepertinya kamu lupa dengan peringatan kamu 1 minggu lalu atau kamu hanya menganggap itu omong kosong? hahaha" ucap Alvano tertawa jahat.


"lo gak bisa apa-apa Van lo hanya orang miskin sedangkan Dandi adalah Manejer apa yang bisa lo banggain hah!!!" bentak Radit menghina Alvano


"hahaha ternyata lo cuman orang miskin yang sok jadi pahlawan udah merasa hebat lo? lo gak tau siapa gue? gue Manejer Perusahaan Cabang Alvan Grub di Makassar ini dan gue bisa aja buat lo makin sengsara" ucap Dandi ikut meremehkan


"heh(tersenyum licik) kalian terlalu meremehkan ku Reno bawa Syifa kesini urus Pernikahan ku dengan Syifa di KUA besok saya ingin menikahinya besok pagi dan setelah itu saya akan membawanya pulang dan kamu Radit saya tidak butuh kamu karena saya hanya membutuhkan Ayah dan Rasya sebagai saksi di Pernikahan kami" ucap Alvano tajam


Reno pun menghampiri Syifa dan membawanya ke Alvano tetapi Dandi memberontak hingga Reno memukulinya dan membawa Syifa dari hadapan Dandi.


"nih Cewek lo" ucap Reno sambil menyerahkan Syifa ke Alvano


"kamu gak apa-apa sayang? mana yang sakit? bilang sama Kakak" ucap Alvano khawatir


"Kak Vano tangan Caca perih hiks pipi Caca juga bengkak karena di tampar Kak Radit" isak Syifa mengadu pada Alvano sambil menunjukkan lengan dan pipinya yang merah dan bengkak.


Alvano yang melihat lengan dan pipinya merah dan bengkak tidak bisa lagi menahan amarahnya dan segera memukul Radit dan Dandi tanpa ampun. tidak ada yang ingin melerai karena takut terkena pukulan Alvano yang membabi buta. bahkan Reno merasa khawatir sekaligus sedikit takut untuk melerai perkelahian itu.


"Van, tahan emosi lo disini ada Syifa jangan buat dia takut dengan kebringasan lo" ucap Reno berusaha melerai perkelahian itu.


"minggirlah Ren, mereka udah menyakiti Syifa dan gue gak bakalan ngasih dia ampun" ucap Alvano dengan mata ingin membunuh.


"stopp Van lo kayak gini malah membuat mereka mati lo harus bisa tahan emosi lo Van" ucap Reno terus membujuk Alvano.


"Kak Vano udah Kak nanti mereka mati Caca gak mau Kak Vano nanti masuk penjara Caca gak apa-apa Kak hiks" ucap Syifa yang ikut melerai perkelahian itu hingga Alvano pun terdiam dan menghentikan pukulannya.


Syifa memeluk Alvano dari belakang sambil terisak pilu, Alvano lalu membalikkan badannya dan memeluk Syifa dengan erat. Alvano sudah tidak memperdulikan Radit dan Dandi yang saat ini tidak sadarkan diri dengan wajah penuh luka dan darah. Alvano hanya ingin menenangkan Kekasih hatinya agar tak menangis lagi.


"udah ya jangan nangis lagi Kakak hanya gak suka ada yang nyakitin kamu sayang sekarang kamu ikut Kakak ke rumah Kakak ya" ucap Alvano dengan lembut sambil mengelus surai rambut Syifa yang ada di dekapannya.


"iya Kak hiks" ucap Syifa


Syifa pun berjalan dengan kaki gemetaran karena masih takut dan tertekan dengan peristiwa yang baru di alaminya, tanpa berfikir panjang Alvano berinisiatif menggendong Syifa seperti bayi koala.


Syifa yang digendong pun langsung melingkarkan tangan dan kakinya ke leher dan pinggang Alvano dan menenggelamkan kepalanya dileher Alvano.


***


Nb : Alvano aku ganti Vano yah soalnya aneh aja gitu kalau nama panggilannya agak panjang maklum lidah kampungan ku meronta-ronta hehehe


Kini Syifa telah terlelap di dalam mobil Vano sambil memeluk perut Vano dan pahanya dijadikan bantalan untuk kepala Syifa sang Kekasih.


Tak terasa mereka telah sampai di kediaman Vano, kini Vano telah menidurkan Syifa diatas tempat tidurnya lalu menatap Syifa dengan sendu.


"sayang sekarang kamu aman gak akan aku biarkan siapapun menyakiti kamu" ucap Vano dengan tatapan sendu sambil memainkan anak rambut Syifa


"kamu terlalu indah dan cantik untuk di rusak sayang kamu terlalu lembut dan penurut hingga mereka berani menghancurkanmu, tapi semua telah berlalu dan di mulai dari sekarang kamu akan merasakan kebahagiaan aku akan membuat mu selalu bahagia sampai kamu lupa luka yang pernah ada di hatimu" ucap Vano dengan senyuman manis penuh cinta sambil mengingat kejadian saat Vano ingin masuk ke dalam mobil


*Flashback On*


Kini Vano telah memasukkan Syifa ke dalam mobil penumpang lalu Vano memutari mobilnya dan bersiap masuk tetapi Bunda Syifa yang bernama Marisa menahannya.


"berhenti" ucap Marisa dengan tegas


Vano yang mendengarnya hanya menaikkan sebelah alisnya tanda bertanya mengapa Bundanya Syifa menahannya.


"kembalikan anak saya" ucap Marisa dengan marah


"sejak kapan saya mengambil anak anda? malahan anak andalah yang memanggil saya untuk membawanya pergi dari rumah ini" ucap Vano dengan senyum licik


"kurang ajar, saya tidak mengizinkan kamu menikahi Putri saya karena saya telah menemukan jodoh yang pas untuk Putri saya dan yang pastinya itu bukan kamu" bentak Marisa


"jodoh yang pas? hem...apa maksud anda laki-laki yang akan bertunangan dengan Syifa tadi?" ucap Vano seolah-olah ingin menanyakan jodoh Syifa


"iya dan dia laki-laki terbaik yang bisa membahagiakan Putriku bukan seperti kamu yang miskin dan tidak punya asal usul yang jelas" ucap Marisa menghina Vano


"ohya? asal anda tau saya orang yang tidak sembarangan untuk di singgung apalagi dibeda-bedakan oleh orang rendahan seperti Dandi itu" ucap Vano dingin


"kok aura disini tiba-tiba dingin dan mencekam yah? siapa anak ini? aura ini seperti aura sang pemimpin tapi dia hanya laki-laki miskin" batin Marisa


"ada apa Nyonya Agradinata hem? saya peringatkan jangan pernah menyentuh Kekasihku lagi jika sampai itu terjadi maka saat itu juga kalian semua akan ku ratakan dengan tanah" ucap Vano dengan tajam dan berwibawa setelah itu membuka pintu mobilnya


"ohya satu lagi jangan meremehkan LAKI-LAKI MISKIN ini atau anda akan terkejut saat mendengar siapa saya sebenarnya" ucap Vano menyeringai lalu masuk ke dalam mobilnya dan meletakkan kepala Syifa dipahanya sebagai bantalan

__ADS_1


*Flashback Off*


Tak lama Syifa menggeliat dan merasa gelisah dalam tidurnya berkali-kali Syifa menunjukan raut wajah ketakutan dalam tidurnya sehingga Vano terpaksa menenangkan dan membangunkannya.


"hiks...pergi ini tidak benar hiks Caca gak mau Kak"


"pergi hiks...sakit Caca mohon berhenti"


Syifa terdiam sebentar lalu kembali mengigau dan membuat Vano terus khawatir.


"Kakak minta maaf dek hiks...Kakak mengajarkanmu tidak benar"


"Caca bukan Kakak yang baik hiks"


"Caca hey bangun sayang" ucap Vano khawatir sambil terus menenangkan Syifa


Syifa kembali tenang dalam tidurnya tetapi 1 menit kemudian Syifa kembali mengigau yang semakin membuat Vano khawatir.


"Kak Vano tolong Caca hiks"


"Caca gak mau nikah ama Dandi bawa Caca pergi hiks"


"Kakak Caca takut Kakak Kenapa-napa hiks"


"Kak Vano jangan tinggalin Caca hiks Caca gak bisa hidup tanpa Kakak hiks Kakak pelindung Caca"


"Sayang Kakak disini hey bangun" ucap Vano semakin khawatir sehingga mengguncang tubuh Syifa sedikit keras agar Syifa terbangun


"KAKAK hos...hos...hos" teriak Syifa lalu terbangun dengan nafas yang tak beraturan dan tangis bercampur keringat yang sedari tadi membasahi wajahnya.


"sayang kenapa hem? kamu buat Kakak khawatir tau" ucap Vano lembut sambil mengelap wajah Syifa yang basah dengan tangannya


"Caca takut hiks...jangan pernah tinggalin Caca" ucap Syifa ketakutan sambil meringkuk memeluk kakinya


"lurusin dulu kakinya ya terus kamu bobo lagi aku temanin kamu disini" ucap Vano dengan senyuman menenangkan


Syifa menuruti perkataan Vano tetapi hanya meluruskan kakinya tanpa mau kembali berbaring di ranjang. kini Syifa benar-benar dilanda ketakutan yang sangat besar sampai-sampai tangannya memutih dan sedikit berdarah karena terus dikepal.


"jangan diginiin tangannya liat tuh tangan kamu sampai lecet, setelah kita nikah aku akan gutingin kuku kamu yang panjang ini aku gak mau kamu terluka lagi oleh kuku kamu ini yah" ucap Vano sambil terus memegang tangan Syifa agar tidak kembali terkepal


"Kakak hiks" ucap Syifa lalu berhambur ke dekapan Vano mencari ketenangannya sendiri


"janji ama Caca kalau Kakak gak akan ninggalin Caca dan tetap setia apapun yang terjadi, kalau Kakak bisa membuktikan dan mempertahankan itu maka Caca juga akan tetap bertahan walaupun banyak batu kerikil dan batu besar yang akan kita hadapi nanti" ucap Syifa sambil mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma Vano yang menenangkan jiwanya


"sayang kenapa kamu bisa setrauma dan tertekan seperti ini? kalau begini terus bisa-bisa kamu mengalami depresi yang berkepanjangan bahkan bisa berakibat fatal, enggak enggak aku gak akan biarin itu sayang aku akan berusaha menyembuhkan luka batin kamu apapun yang terjadi" batin Vano


"Kak ihk Kakak denger gak sih Caca ngomong" ucap Syifa kesal dan melepas pelukannya dari Vano


"hah! emang kamu ngomong apa sayang?" ucap Vano bingung karena memang sedari tadi Vano sibuk dengan pikirannya


"tuhkan tau ah Kakak cari sendiri Caca pengen tidur bye" ucap Syifa lalu tidur membelakangi Vano dan menarik selimutnya hingga menutup sampai telinganya


"hey sayangnya Kakak jangan ngambek sayang Kakak tadi lagi mikirin masa depan kita makanya gak dengar kamu ngomong" ucap Vano membujuk Syifa dengan sabar sambil melingkarkan tangannya ke perut Syifa


"jangan ganggu Caca sana pergi huss" rengek Syifa dan melepaskan tangan Vano dri perutnya


"iya pergi aja sana" ucap Syifa menyembunyikan suara tangisnya dengan berucap sinis


"yaudah aku pergi kalau butuh apa-apa panggil Reno aja soalnya aku nanti gak ada di rumah Assalamualaikum sayang" ucap Vano lalu berjalan menuju pintu


Vano terus terkekeh geli melihat tingkah gensian Kekasihnya itu bahkan saat Vano telah menutup pintu Syifa sama sekali tidak menahannya. lalu tiba-tiba terdengar isak tangis dan teriakan dari dalam kamar yang membuat Vano langsung membuka pintu kamar dengan keras


**


"kyaakkk pelan-pelan woy sakit nih kagak bisa santai apa lu" (si pintu meringis)


"mianhae tu gak sengaja" (Vano)


"emang noh anak minta di tampol" (si pintu ngedumel)


abaikan jika tak suka ini hanya sekedar hiburan


**


"KAK VANO hiks...hiks" teriak Syifa dengan terisak


"aku disini sayang tenang yah" ucap Vano membawa Syifa ke dekapannya


"Caca laper" ucap Syifa saat Syifa udah tenang


"yaudah kamu mandi terus kita makan yah" ucap Vano sambil mengelus surai rambut Syifa


"gendong" rengek Syifa manja sambil merentangkan tanganya minta digendong


"utututu Istriku Tersayang manja banget ama Suaminya hem" ucap Vano terkekeh geli melihat tingkah Syifa


"belum jadi Istri yah" ucap Syifa galak untuk menutupi rasa gugupnya


"udah jadi Istri tau tapi besok pagi hahaha" ucap Vano dengan tertawa keras


"ihk Kakak jail" ucap Syifa cemberut


***


Kamar Mandi


"udah disini aja Kak" ucap Syifa lembut


"gak mau aku mandiin" ucap Vano dengan senyum menggoda


"belum sah Kak" ucap Syifa galak dan waspada


"berarti kalau udah sah boleh dong" ucap Vano yang berhasil membuat Syifa malu


"ihk Kakak mesum keluar sana" ucap Syifa kesal

__ADS_1


"iya iya aku keluar" ucap Vano dengan senyum manis


*Syifa Pov*


Setelah Kak Vano keluar Syifa pun mulai membersihkan dirinya yang terasa gerah dan sedikit bau. setelah mandi Syifa mulai mencari baju di ruang walk in closet.


"wah ruangan ini bagus banget emang yah kalau sultan bisa bikin apa aja bahkan lemari pakaian aja ada ruangan khususnya mana kayak kamarnya Caca lagi yang minimalis dan gak terlalu luas" ucap Syifa yang terpanah melihat walk in closet milik Vano


"ohiya Caca kan kesini pengen nyari baju kenapa malah Caca liat-liat gini sih keliatan banget kalau Caca kampungan" gerutu Caca sambil menuju tempat pakaian milik Vano



***


anggap aja yang diatas perlengkapan laki-laki soalnya gak nemu adanya walk in closet yang versi pasangan doang.


***


"lah ini gimana? gak ada baju ceweknya? terus Caca pakai apa dong?" ucap Syifa bingung


"yaudah deh pakai punya Kak Vano aja" ucap Syifa dan mulai memilah baju yang bisa dipakainya


"emm...kayaknya ini agak kecil deh? yaudah Caca ambil baju kaos ini aja deh serasi juga ama celana pendek yang Caca pakai tadi" ucap Syifa menemukan pilihannya


Syifa merasa ada yang kelupaan dan merasa aneh.


"seperti ada yang Caca lupa deh? tapi apa yah?" ucap Syifa mencoba mengingat sesuatu


"astaga daleman aduh gimana nih? masa Caca gak pakai daleman? atau Caca pakai yang tadi aja? tapi kan gak nyaman" ucap Syifa sambil memikirkan solusi yang bagus


"yaudah deh terpaksa daripada gak pakai daleman, nanti Caca minta tolong ke pelayan cewek buat temenin Caca beli daleman" ucap Syifa sambil tersenyum setelah menemukan solusi dari permasalahannya


***


*All Pov*


Kini Syifa berjalan menuruni tangga dengan semangat hingga Vano yang melihatnya cemas takut Kekasihnya terjatuh.


"sayang pelan-pelan jalannya nanti kamu jatuh" tegur Vano khawatir


"hehehe Kakak Caca cantik gak?" ucap Syifa sambil cengengesan dan memilih menanyakan penampilannya


Vano meneliti penampilan Syifa dari atas sampai bawah dan melihat Syifa yang memakai celana pendek dan baju kaos kebesaran yang menutupi celana pendek Syifa sehingga menambah kesan imut dan mungil


"seperti remaja umur 15 tahun kamu hahaha" ucap Vano dengan tawa meledek


"ihk kok 15 tahun sih Kak? kan Caca udah dewasa udah 23 tahun kali wlek" ucap Syifa tak suka diledek soal umur


Seluruh Pelayan yang melihatnya merasa terpanah melihat tawa yang di keluarkan Tuan Muda dingin dan kejamnya itu.


Syifa pun duduk sambil mengambil remot Tv dan mengganti chanel yang tadi di tonton Vano.


"sayang kok di ganti sih? beritanya belum selesai loh" ucap Vano sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Syifa


"Caca juga pengen nonton Kak tapi kok siarannya gak ada yang menarik sih ihk" ucap Syifa kesal sambil terus menggonti ganti chanel Tv


"emang kamu mau cari siaran apa hem" ucap Vano lembut sambil terus mengusap surai rambut Syifa


"kartun horor atau drakor" ucap Syifa sambil terus mencari siaran yang diinginkan


"ya ampun emang gak ada sayang" ucap Vano sambil terkekeh geli


"loh kok gitu?" tanya Syifa dengan polosnya


"Tv ini hanya ada siaran berita bisnis dan infotainmen aja sayang" ucap Vano sambil menurunkan tangannya yang awalnya di rambut Syifa menjadi ke tangan Syifa dan mengelusnya


"yah gak asik Caca kan juga mau nonton, bosen tau tidur dan duduk mulu gak ngapa-ngapain" ucap Syifa cemberut


Vano yang melihat Syifa cemberut merasa gemas dan mencubit kedua pipi Syifa hingga sang empu kesal oleh tingkah Vano.


"ihk sakit tau Kak" ucap Syifa kesal


"hahaha lagian kamu bikin aku gemes" ucap Vano Sambil mengelus pipi Syifa yang tadi dicubitnya


"au ah nyeselin" ucap Syifa merajuk


"yaudah besok setelah kita nikah kan kamu ikut aku pulang ke Jakarta nanti di mansion aku beliin Tv yang hanya isinya siaran kesukaan kamu okey" ucap Vano lembut


"sultan mah bebas banyak duit" ucap Syifa sinis sambil memutar bola matanya malas


"yaudah untuk sekarang kamu liat wajah tampan aku aja" ucap Vano sambil menaik turunkan alisnya menggoda Syifa


"dih tampan darimananya? burik gini kok" ucap Syifa sambil memalingkan muka


"yang? burik apaan?" tanya Vano bingung hingga membuat pelayan yang melihat mereka harus menahan tawa


"astagfirullah Kakak gak tau burik? katanya orang jakarta burik aja kagak tau hadeh" ucap Syifa sambil geleng-geleng kepala


"waktu aku masih sekolah aku hanya fokus belajar sayang sampai-sampai bergaul sama teman sekolah aja gak bisa karena Mami nyuruh aku buat harus megang perusahaan disaat usia aku menginjak 18 tahun jadinya aku kuliah sambil ngurus kantor" ucap Vano sambil menatap Syifa dengan lembut


"yaudah aku kasih tau burik itu artinya jelek kalau dalam bahasa game" ucap Syifa sambil menyenderkan kepalanya di dada bidang Vano


***


Sebenarnya bahasa Makassar dan bahasa Jakarta itu intonasinya beda cuman aku ratakan menjadi bahasa Jakarta semua karena agak geli aja gitu kalau aku pakali bahasa Makassar dalam penulisan tapi mungkin ada beberapa istilah atau bahasa gaul dari Makassar atau anak Game Makassar yang aku masukin tapi liat nanti aja kali aja aku lupa hehehe soalnya aku orangnya pelupa.


bagi yang nanya


*kenapa namanya sama kayak nama author?


*ini kisah author yah?


jawabannya enggak guys aku emang sengaja ngasih nama akun aku sebagai nama ceweknya dan aku belum pernah dapat cowok kayak Vano jadi ini bukan kisah aku tapi sebagaian emang aku ambil dari pengalaman pribadi dan sebagiannya juga menurut imajinasi aku aja guys.


Yaudah terima kasih sudah mengikuti aku sampai disini salam hangat dariku

__ADS_1


*Assyifa Sesyilia Anastasya*


__ADS_2