
Deon bukanlah anak yang gampang di bohongi, dia tahu seperti apa Dinda jika sedang ada yang dipikirkan atau sedang ada masalah.
"mba Lacy Deon ke bawah sebentar ya" ucap Deon.
"tapi de ..."lacy belum sempat menyelesaikan ucapannya namun Deon keburu lari keluar.
"astaga anak itu, untung anak bos kalo bukan udah ta sentil sekali-kali " gumam lacy. " ehk tapi yang ada aku yang kena sama Deon bukan dia yang di sentil aku yang jatuh duluan haiss" lacy terus berbicara sendiri .
lacy pun mau tidak mau harus menyusul Deon , walaupun pekerjaan nya banyak tapi Deon lebih penting karena dia yang ke titipan.
" dimana Deon?" gumam lacy yang celingukan mencari Deon.
di tempat Deon berdiri adalah di luar kantor. ' itu kan mama sedang apa disana, katanya mau ketemu klien, siapa laki-laki itu' batin Deon terus berbicara namun sorot mata tajam bagaikan elang mencari mangsa terus menatap kearah mama nya berdiri.
Dinda berdiri di sebrang kantor dengan seorang pria yang terlihat lebih dewasa beberapa tahun darinya.
"ada apa tuan mengajak saya bertemu disini?" tanya Dinda to the points.
" saya hanya ingin bertanya kamu Dinda Kirana Larasati bukan?" tanya pria itu juga to the poin.
"maaf nama lengkap saya bukan Dinda Kirana Larasati,
memang benar nama saya Dinda tapi bukan Dinda Kirana Larasati"ucap Dinda dingin.
"tidak usah mengelak saya sudah tahu semuanya tapi saya hanya ingin tahu dari mulut kamu sendiri," ujar pria itu.
Dinda diam terpaku memang benar mungkin mudah menemukan nama dirinya tapi dia juga tidak ingin orang tahu siapa dia sebenarnya dari mana asalnya ' ngapain sih dia datang bertemu dengan ku hanya menangkan namaku jika sudah tahu, tapi untungnya dia tidak menanyakan perihal Deon ' batin Dinda.
"saya tidak mengelak tuan hanya menjawab apa adanya," ucap Dinda dengan nada santai namun hati yang tidak karuan khawatir akan pertanyaan dia jika menyangkut Deon.
"baiklah jika tidak ingin mengatakannya, lalu siapa ayahnya Deon apakah saya boleh bertemu dengannya?"ucap pria itu.
deg ...
Dinda diam terpaku, bungkam seribu bahasa, relung hatinya bimbang, batinnya terus berargumen, sorot mata yang tajam menatap pria di hadapannya.
Deon yang sedang berdiri memantau Dinda pandangan nya seketika ter ' alihkan ke arah seorang nenek yang sedang menyeberang jalan juga sebuah mobil yang melaju kencang hendak menabrak nenek itu.
"nenek awas" teriak Deon yang berlari berniat menolong sang nenek tersebut.
__ADS_1
' seperti suara Deon tapi dimana ' batin Dinda dengan diikuti penglihatan nya mencari sumber suara.
brak ...
tiba-tiba terdengar suara orang tertabrak Dinda langsung menoleh ke arah itu betapa terkejutnya Dinda melihat yang tabrakan ternyata itu adalah Deon.
"Deon " teriak Dinda histeris langsung berlari kearah Deon dan memeluknya.
pria yang berbicara dengan Dinda tak lain adalah Leon,
Leon Devandra adalah anak dari orang terkenal nomor satu di negaranya.
Leon yang melihat kejadian itu ikut berlari bersama Dinda menghampiri Deon yang terbujur kaku dengan darah yang mengalir keluar, mata yang tertutup, denyut nadi yang melemah.
orang disekitarnya segera menelpon ambulance. Dinda menangis histeris melihat anak nya terbujur kaku di pelukannya.
"Deon bangun nak ini mama" ucap Dinda di barengi tangis.
"Deon pliss bangun, buka matanya katanya tidak mau melihat mama sedih, sekarang juga bangun jangan buat mama sedih, Deon"ucap Dinda yang histeris.
"Dinda tenang ya jangan menangis kita tunggu ambulance datang dan segera membawa Deon ke rumah sakit" ucap Leon mencoba menenangkan Dinda.
"diam kau jika tidak tahu perasaan seorang ibu seperti apa jika melihat anaknya seperti ini" ucap Dinda yang masih berteriak histeris.
tidak berselang lama kemudian ambulance pun datang, tim medis yang hendak mengeluarkan brankar namun telat karena Dinda lebih dulu menggendong Deon menuju ambulance.
selama perjalanan menuju rumah sakit Dinda masih saja berargumen dengan Deon dan menangis histeris.
Leon yang menyusul menggunakan mobil di belakang tampak khawatir terhadap keadaan Deon.
"haiss kenapa denganku saat melihat anak itu terbujur kaku ada rasa kasihan dan sedih melihat anak sekecil itu mengalami nasib yang malang" gumam Leon di dalam mobil.
"tunggu ... bagaimana dengan sopir yang menabrak Deon kemana dia pergi nya, tidak aka ku biarkan kau lolos sialan" ucap Leon.
Leon menelpon asisten pribadi nya untuk mencari tahu siapa yang menabrak Deon apakah di sengaja atau tidak.
"halo ada apa tuan?" tanya Ray di sebrang sana.
"kamu ke jl Jend 1 cari tahu tentang tabrak lari yang terjadi beberapa saat lalu, infokan kepada saya jika orang nya sudah tertangkap bawa ke markas" ucap Leon yang langsung mematikan teleponnya setelah menjelaskan semuanya kepada Ray.
ambulance pun sampai di rumah sakit Deon yang telah di infus dan di berikan oksigen saat di ambulance langsung masuk ruang ICU karena kondisinya yang sangat lemah dan membutuhkan banyak darah.
__ADS_1
Leon masih setia menemani Dinda di depan pintu ruang ICU. ' Din maaf gara - gara saya kamu jadi bersedih seperti ini, seharusnya tadi saya tidak mengajak kamu ngobrol di sebrang jalan itu mungkin Deon tidak akan mengalami hal tragis seperti ini. ' batin Leon.
Leon memandang Dinda yang terduduk di depan pintu ruang ICU dan bersandar di sana, Isak tangis yang masih terdengar jelas membuat Leon tidak tega melihatnya.
"Dinda jangan bersedih seperti ini kamu harus berdoa dan yakin jika Deon tidak akan kenapa - kenapa?" ucap Leon.
"Anda tidak tahu Deon seperti apa dan bagaimana jadi tidak usah ikut campur, lebih baik anda pergi dari sini" ucap Dinda yang tertunduk, air mata mengalir terus mengalir Isak tangis semakin jelas terdengar.
saat ini hati Dinda hancur, sakit hati yang dia rasakan dulu dengan sekarang berbeda jika dulu sakit hati dan benci sekarang kebalikannya.
seorang ibu mana yang tidak akan sakit hati, perih hati melihat sang putra kesayangannya terbujur kaku di ruang ICU dan masih di tangani dokter.
tiba-tiba seorang suster keluar dari ruang ICU dengan wajah yang tidak bersahabat (alias murung guys).
"sus gimana keadaan anak saya?" ucap Dinda yang langsung menodongkan pertanyaan kepada suster gina namanya.
"saya kurang begitu tahu tapi apakah di keluarga ibu ada golongan darah yang sama dengan anak kecil itu" kata suster gina.
"golongan darahnya apa?" tanya Leon.
"B - dan golongan darah itu sangat langka kami hanya memiliki 2 labu masih kurang 1 labu lagi, kami juga sudah cek PMI tapi golongan darah itu sedang kosong" ucap suster gina panjang lebar.
"dimana saya harus mencarinya, dan lakukan yang terbaik untuk anak saya Deon berapapun biayanya akan saya bayar" ucap Dinda dengan memegang bahu suster Gina.
"ambil darah saya saja sus kebetulan golongan darah saya juga B - , ucap Leon.
"baiklah tuan" jawab suster gina.
sementara Leon pergi untuk mendonorkan darahnya yang akan di salurkan di tubuh Deon. Dinda diam berdiri dan terus menatap Deon dari jendela yang sengaja gorden nya di buka.
"Dinda" ucap kakek Alex
"kakek" ujar Dinda .
Dinda Langsung berbalik dan memeluk kakek Alex dengan Isak tangis yang kembali pecah di dalam pelukan kakek Alex.
"Deon ke Deon" ucap Dinda terbata - bata.
"iya kakek tahu kamu yang kuat ya jangan bersedih seperti ini Deon disana sedang berjuang untuk hidup kamu harus mendoakannya" ucap kakek Alex yang masih di pelukannya
Leon telah selesai menjalani donor darah dan hendak kembali menemani Dinda dan ingin tahu mengenai kondisi Deon sekarang ini.
__ADS_1
...' itu bukannya kakek yang sedang memeluk Dinda kenapa kakek bisa ada di sini? ' batin Leon....
Leon terus berjalan menghampiri dan memperhatikan dua orang yang sedang di rasa aneh dan kenapa bisa sedekat itu.