
flashback Dinda and Deon.
"kamu kenapa diam saja de" tanya Dinda.
"mah aku bosan di rumah terus" ujar Deon.
"kamu mau jalan-jalan" ucap Dinda dengan menyuguhkannya senyum termanis untuk Deon.
masa itu Deon masih berumur 2,⅖ tahun, yang memang sedang diajarkan dewasa dan juga agar memiliki sifat dingin.
"aku mau bermain di taman bermain mah" ujar Deon.
"baiklah ayok" jawab Dinda cepat.
Dinda dan Deon bermain di taman, dimana masa -masa anak usia 2⅖ tahun itu adalah masa lucunya dan imutnya, Deon bergaya layaknya anak kecil seusia nya tertawa ria penuh keceriaan yang terpancar di wajahnya bisa bermain dengannya hari itu.
"Deon mau ice krim mah" ucap Deon di sela berhenti bermainnya
"kita beli yuk Deon mau rasa apa? " tanya Dinda.
"mau yang coklat mah"ujar Deon.
mereka membeli ice krim yang sama dan duduk di kursi taman guna memakan ice krim yang telah di beli .
di sela-sela makan ice krim Dinda menjahili Deon dengan memajukan ice krim yang sedang di jilat nya hingga menabrak hidung Deon.
"mama " pekik Deon yang kaget.
" apa " ucap Dinda yang telah berdiri dan berjalan beberapa langkah di hadapan Deon.
"iss mama hidung Deon kotor" ucap Deon yang masih duduk dan mencoba membersihkan hidung nya dari ice krim yang menempel.
"tidak usah di bersihkan kamu lucu jika seperti itu" ucap Dinda yang telah menampakkan benda pipih nya dan juga memotret dua Poto Deon yang tengah memegang hidungnya.
"mama jangan di Poto Deon akan sangat terlihat jelek' di Poto itu" ucap Deon yang tengah berlari menghampiri Dinda yang juga berjalan cepat guna menghindari Deon.
mereka menghabiskan satu hari itu untuk bermain di taman dari siang hingga sore hari terus bermain waktu seakan cepat berputar hingga senja pun menampakkan cahaya yang indah.
Dinda dan Deon terus memandangi senja itu sesekali Deon akan belajar apa saja yang ingin dia pelajari
__ADS_1
Deon hanya lah anak kecil biasa jika berdua bersama Dinda namun, lain halnya jika dia berada dalam lingkungan kantor juga area berbisnis, Deon akan menampakkan wajah dingin dan tampan yang ia miliki.
" *mama lihat lah senja itu sangat bagus jika kita pandang, namun senja juga bisa merusak mata jika terlalu lama melihatnya " ucap Deon.
" iya de senja memang bagus dan juga bisa merusak mata cahaya Matahari yang tenggelam dan bulan yang akan muncul di malam hari menang lah sangat indah" ujar Dinda.
" de kita pulang yuk udah sore senja aja udah hampir tenggelam semua masa kita main terus" sambung Dinda dengan senyum merekah.
"ayo,, mah lain kali kita main dan lihat senja seperti ini lagi ya " ucap Deon*.
flashback off
Dinda mengenang semuanya di ruangan yang sangat ketat peraturan itu Dinda tersenyum juga menangis air mata nya yang tak henti keluar membuat yang disana ikut merasakan kesedihan yang sangat mendalam.
" Dinda mari lah keluar dulu, biarkan Deon istirahat jika Deon sembuh kamu bisa bermain kembali dengan Deon, biarkan dokter mengobati Deon" ucap Leon yang terlihat sangat perhatian dan penuh kehati-hatian.
dua orang dokter dan juga satu suster telah masuk ke ruang ICU guna memeriksa perkembangan Deon.
suster tadi ternyata di perintahkan Leon untuk memanggil dokter dan jika Dinda tidak mau keluar juga terpaksa Dinda di beri obat tidur agar beristirahat hanya untuk malam ini hingga kondisi nya membaik.
"dok bagaimana keadaan Deon anak saya?" ucap Dinda setelah dokter itu berdiri di sebrang Dinda dengan terhalang brankar yang Deon tiduri.
tajam Sangat tajam bahkan lebih tajam daripada pisau yang menyerempet permukaan kulit.
Leon terlihat seperti akan memakan manusia hidup - hidup. semua yang melihat mata tajam Leon seakan kicep dibuatnya tidak berani menjawab atau sekedar meliriknya kembali.
"dok bagaimana dengan kondisi Deon! kenapa dokter diam saja , jawab dok jawab "ucap Dinda dengan suara Yang sedikit melengking di telinga semuanya.
"tolong Bu jangan berteriak biarkan kami memeriksa nya terlebih dahulu dan ibu silahkan keluar dahulu " ucap salah satu dokter.
"ayok keluar dulu Din demi Deon, jangan berteriak seperti itu biarkan Deon istirahat hanya untuk malam ini, besok pasti Deon akan sadar percaya sama saya" ucap Leon yakin.
"kenapa harus besok kenapa tidak sekarang saja? " ujar Dinda.
"Deon butuh istirahat Din,, jadi kamu juga harus istirahat ,, jika kamu sakit siapa yang akan menemani Deon besok Jika Deon sadar" ucap Leon masih dengan suara yang sengaja di lembut- lembutkan guna membujuk Dinda.
"baiklah"
akhirnya Dinda menurut untuk keluar dari ruang ICU, Dinda berjalan dengan kondisi yang masih sangat lemah , Leon hendak membantunya namun Dinda menolaknya.
dreed ... dreed ...
__ADS_1
suara handphon Leon yang bergetar, ternyata kakek Alex menelpon Leon untuk bertanya kepada dan kondisi di rumah sakit.
"Leon ... bagaimana kondisi Dinda dan Deon" tanya kakek Alex di sebrang telepon.
"kondisi Deon masih sama ke, Dinda tadi sempat hilang namun telah kembali di rawat" ucap Leon.
"APA... Dinda hilang? bagaimana sih kamu Kakek kan sudah bilang jaga mereka Dengan baik! ".
"aku sudah menjaganya ke tapi Dinda yang pergi"
" alasan,, terus bagaimana sekarang apakah sudah ketemu?" tanya kakek Alex dengan sangat khawatir.
" sudah ke Dinda berada di ruangan ICU menunggu Deon, tapi sekarang telah kembali istirahat karena dokternya tidak mengijinkan Dinda berlama-lama di ruang ICU."jelas Leon.
"baguslah jika seperti itu ,,, besok pagi kakek ke sana"
"baiklah kek".
telepon pun terputus, Leon memandangi Dinda yang telah kembali tidur mungkin karena efek obat atau dia juga kelelahan.
" maaf Dinda gara-gara saya mengajak bertemu Deon jadi mengalami kecelakaan seperti ini," ucap Leon yang memandangi wajah Dinda dengan senyuman terindah nya, dan mata yang berkaca-kaca.
hampir menitihkan air mata namun bukan Leon jika itu sampai terjadi.
'apa sih kenapa seperti ini lagian bukan sepenuhnya salah ku' batin Leon yang egois.
Leon tertidur di kursi samping Dinda dengan menggenggam tangan Dinda yang terasa hangat tanpa di sadari karena lelahnya Leon tidur dengan nyaman walaupun hanya duduk di atas kursi.
hatinya menghangat ada rasa yang berbeda saat berdekatan dengan Dinda, Seolah sikap dingin dan cuek nya menghilang di hadapan Dinda.
Dinda pun merasa kan hal sama seperti Leon . Leon perhatian kepada Dinda juga Deon ntah itu karena merasa bersalah atau memang pilihan hati.
hati manusia tidak bisa di tebak, begitu pun sikap manusia.
mungkin bisa terlihat bahagia di luar tapi kita tidak tahu di kehidupannya nya seperti apa.
mungkin juga dia tertawa tapi hati bersedih.
baik di depan tidak tentu baik di belakang.
hanya Allah yang tahu segalanya tentang manusia Allah tidak menerka-nerka melainkan menciptakan semuanya.
__ADS_1