
" Hah , hari yang sangat mengejutkan dan melelelahkan tentunya" Gumam Erik saat berjalan ke arah tempat tinggalnya.
Erik baru saja pulang karena terlibat perbincangan antara Tante dengan Keponakan angkatnya dan tanpa sadar hari sudah larut. Erik agak senang berbincang dengan Diana karena pribadinya yang cukup bijaksana dan humoris membuat suasana nyaman saat berbincang dengannya.
"Sungguh kehidupan yang tidak terduga , teman baru , suasana baru , dan kurasa aku mulai terbiasa." Ujar Erik sambil menatap langit penuh bintang . Teman yang hangat dan menyenangkan di kelas barunya yang unik dan suasana lingkungan yang bisa dibilang menyenangkan. Namun ia tidak menduka sesulit apa tantangan yang ia akan hadapi di hari-hari berikutnya.
Sesampainya di rumahnya , Erik langsung merebahkan diri ke sofa, beberapa saat kemudian ia bangun dan mencium bau badanya sendiri.
"Uhh bau sekali , apa memang aku bau seperti gembel........... ah bodo amat yang penting mandi dulu" Erikpun bangkit dari duduknya dan pergi untuk mandi.
___________
>Di tempat Luna
Luna baru sampai di kota X saat larut malam , iapun segera pergi ke tempat yang biasa ia tinggali dikota ini.
Sesampainya di tempat yang biasa ia tinggali , Luna langsung masuk membawa barang-barangnya dan langsung terduduk di sofa karena kelelahan.Ia memejamkan mata sejenak memikirkan orang tua yang ditinggalnya dan permasalahan yang saat ini menimpanya.
Cukup lama Luna memikirkan hal-hal tersebut dan kemudian ia tersadar untuk tidak memikirkan hal-hal tersebut saat ini , ia kemudian beranjak merapikan barang barangnya.
"Kurasa ini cukup , aku harus mandi terlebih dahulu , badanku terasa lengket semua." Sesudah menyelesaikan kalimatnya, Luna langsung berjalan ke arah kamar mandi.
Saat ia akan membuka kenop pintu , pintu sudah terbuka sendiri dari dalam dan menampilkan seorang pria yang hanya memakai handuk dililit di pinggang.
"Ha-halo"
"KYAAAAAA"
__ADS_1
PLAK
________
"Saya minta maaf Tuan Erik karena belum memberitahu kalau Nona Luna juga tinggal di sana dan saya juga minta maaf Nona Luna karena belum memberitahu anda soal Tuan Erik yang juga akan tinggal disana, sekali lagi saya minta maaf." Terdengar suara panjang lebar Bibi Merilyn di seberang telepon milik Erik.
"Huh....... Bagaimana?" Tanya Erik pada Luna disebelahnya sembari menoleh memegangi pipinya yang memerah bekas tangan.
"A-aku tidak apa tentang itu , aku juga salah tidak memberitahu Bibi terlebih dahulu." Ucap Luna agak bersalah melihat pipi milik Erik.
Erik menghela napas kemudian berkata " Tidak apa-apa Bi Meri , aku bisa memaklumi situasi ini , jadi tidak usah dipikirkan"
"Ah baiklah , sebagai permintaan maafku besok kalian bibi traktir di kedai bibi, bagaimana?" Bibi Merilyn menawarkan karena masih agak sedikit bersalah
"Hmmm tid...." Ucapan Erik langsung dipotong oleh Luna.
"Baiklah bibi tunggu kalian besok ya." Bibi Merilyn pun langsung menutup sambungan telepon.
"Baiklah masalah sudah diselesaikan, adakah yang mau kamu katakan?" Tanya Erik sambil meletakkan telepon genggamnya.
"A-aku cuma mau minta maaf karena menampar kamu tadi" Ucap Luna meminta maaf.
"Tidak apa Nona Luna , sudah sewajarnya kamu melakukan itu , tapi tamparanmu cukup keras juga ya" Sindir Erik sambil mengelus pipinya yang masih memerah.
"Oh ya, aku mau tanya , apakah kamu tidak apa jika tinggal bersama pria sepertiku?" Tambah Erik menanyakan hal yang dari tadi ingin ia tanyakan.
"Aku tidak keberatan , lagipula kita tidak satu kamar dan tolong jangan panghil aku nona aku agak risih mendengarnya " Luna tidak keberatan dengan keberadaan Erik, menurutnya Erik adalah orang baik.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu , tapi berhati hatilah Luna , karena aku ini pria normal" bisik Erik tepat di telinga Luna .
Mendengar itu mata Luna melotot melihat Erik dengan rona merah dikedua pipinya , melihat reaksi dari Luna , Erik tertawa lepas karena berhasil menjahili Luna.
"Hahaha aku hanya bercanda Luna , tidak usah terlalu serius , oh ya kenapa kamu bisa ada disini ?" Namun Luna hanya diam saja tanpa menjawab.
"Ayolah Luna , Aku minta maaf deh , maaf ya toloooong " Ujar Erik meminta maaf dengan mata berbinar membuat Luna tidak kuat lagi untuk tidak memaafkan Erik.
"Uhh baiklah , sebenarnya aku pindah ke kota ini untuk menghindari orang yang mengancam keluargaku sekaligus menyembunyikan identitasku sementara waktu." Luna menjelaskan alasanya untuk menetap di rumah itu.
"Ohh begitu rupanya , ya sudahlah lebih baik kita istirahat terlebih dahulu karena malam sudah sangat larut."
Merekapun pergi ke kamar masing masing untuk beristirahat, Keesokan harinya, sesuai janji mereka akan pergi ke kedai milik Bibi Merilyn karena memang hari itu hari minggu jadi mereka bebas untuk bepergian, sesampainya di kedai itu mereka langsung disambut oleh bibi Merilyn sendiri dan segera duduk di salah satu meja menunggu makanan yang dijanjikan.
"Hei Erik , aku masih ada satu pertanyaan dari tadi malam." Perkataan Luna membuyarkan keheningan diantara mereka berdua.
"Oh tanyakan saja."
"Kamu itu siapa dan dimana dirimu berasal dan apa tujuanmu datang kesini , aku tidak pernah melihatmu sebelumnya di daerah ini?"
"Ah soal itu , kan sudah kubilang namaku Erik Mahendra dan kalau masalah tempat asal sih aku berasal dari Inggris dan tujuanku kesini adalah menikmati hidup bebas dan alasan kedua yaitu aku sedang mencari seseorang." Jawab Erik sengaja menyembunyikan nama belakangnya karena tidak mau identitas aslinya diketahui orang.
Luna hanya ber-oh ria dan tidak melanjutkan pembicaraan karena menyangkut hal hal pribadi. Hidangan pun sudah datang dan mereka makan dengan berbincang ringan. Saat mereka selesai makan , mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di kota karena hari masih siang dan kembali pada saat sore hari tiba.
___________
*Terimakasih yang sudah nyempetin untuk baca karyaku yang tidak seberapa ini. Jangan Lupa Like π dan rate bintang 5 jika kalian suka, dan juga komen dibawah jika ada kesalahan kata maupun cerita, dan jangan lupa juga votenya π, see ya*
__ADS_1