
Sabian Ege🔞
Aku sudah di depan. Perlu aku masuk?
^^^Azura^^^
^^^Tidak perlu! Aku akan mengatakan hal penting padamu. Pasti kau akan terkejut!!^^^
Sabian ****Ege🔞
Apa itu?
^^^Azura^^^
^^^Nanti saja. ^^^
Selesai mengirim pesan terakhir untuk Sabian. Zura langsung pamit kepada Ayahnya lalu kakek dan omnya.
*Sampai di basement* resto, Azura melihat mobil Land Rover Rang Sport berwarna merah milik Sabian, Zura langsung mengambil tempat duduk di kursi kiri.
__ADS_1
"Hufttt.." Azura membuang napasnya setelah melangkah sejauh 2km.
Sabian mengambil dua lembar tisu dan menawarkannya kepada Zura. "Tisu?"
"Terima kasih," Azura menerima tisu yang sudah terlipat dengan rapi itu dan mengusap peluh di dahi dan lehernya.
Sabian menatap tingkah Zura dengan teliti hingga gadis itu melihat kearah Sabian yang tidak berusaha untuk memalingkan wajahnya.
"Apa?" Tanya Azura lalu ia menyimpan tisu bekasnya di dalam tas karena tidak ada tempat sampah. "Kau benar naksir padaku ya?" Ungkap Zura dengan mata memicing karena Sabian masih diam menatapnya.
Sabian mengangkat bahunya, "kau cantik, jika aku tidak menyukaimu aneh bukan?" Ujar Sabian lalu menyalakan mesin mobilnya, mobil pun berjalan meninggalkan resto.
"Kau tidak menyukaiku?" Tanya Sabian.
Azura menengok dan mengangkat satu alisnya menanggapi omongan Sabian itu. "Tidak,"
Lalu beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di gedung kampus GTU. Sebelum keluar Zura merapikan dulu penampilannya dengan cermin miliknya yang selalu ia bawa dan sedikit memoles bibir penuhnya dengan liptint. Lagi-lagi kegiatan Zura diamati oleh Sabian. Hingga gadis itu selesai dan memasukkan semua barang-barang ke dalam tas kecilnya.
"Ayo. Kau ingin terlambat masuk kelas?" Ajak Zura. Gadis itu sudah berdiri di luar mobil dengan tangannya menahan pintu mobil ancang-ancang ingin menutupnya.
__ADS_1
Sabian tersenyum sekilas dan memasukkan kunci mobilnya dan keluar dari mobil dengan balutan jaket zipper. Ah ya, ciri khasnya sekali.
Melihat Zura sudah lebih dulu jalan mendahuluinya, Sabian mengejar langkah kaki yang lebih kecil darinya itu agar bisa berjalan beriringan dengan Zura.
Ya, mungkin dari mata para mahasiswa lain yang melihat mereka berangkat dan berjalan bersama menganggap keduanya sudah menjalin hubungan namun tidak mereka ungkap saja ke publik. Siapa yang tidak berasumsi begitu sedangkan mereka memang seringkali terlihat bersama dan... romantis.
"Ah, pasangan yang serasi."
"Sungguh aku ingin menjadi Sabian yang memiliki kekasih seperti Zura."
"Hushh... aku lebih ingin menjadi Zura. Sabian benar-benar tipe pria ideal."
"Hei kalian, berhentilah berkhayal! Keduanya serasi karena mereka keturunan keluarga Tiritan dan Galyan. Sedangkan kalian? Menjadi babu bagi mereka saja tidaklah pantas."
"Kau iri saja!!"
Ucapan-ucapan pujian dari orang-orang sekitar itu terdengar oleh telinga Zura dan Sabian, keduanya sudah terbiasa dibicarakan dibelakang seperti itu. Tapi hal ini masih mending, daripada ucapan orang yang manis tetapi mereka busuk dibelakang.
Kelas dimulai dengan presentasi dari dosen. Ini membuat Zura bosan setengah mati, satu materi saja yang harus lulus agar ia bisa mengambil tugas akhirnya.
__ADS_1
Zura melihat Sabian yang diam, memperhatikan keterangan dosen membuat Zura menghembutkan napasnya lelah.