
Setelah mengambil buku yang ia cari, Azura berjalan ke kursi menja untuk membaca.
Buku dengan judul Gagak Hitam Dengan Cakar Yang Ia Sembunyikan, itu adalah judul buku yang ditulis dengan tangansang penulis.
Kemarin Azura sudah membacanya. Menurut Azura, buku itu adalah tulisan diary kehidupan sang penulis. Karena isinya adalah tulisan dengan tulisan tangan semua.
Beberapa halaman sudah Azura baca kemarin.
Berganti hari, namun masalah yang lalu belum selesai, belum lagi masalah baru pasti akan muncul.
Halaman ke lima.
Bagus. Setidaknya, aku bisa melihat matahariku dulu.
Azura mengernyit pada kalimat itu. Ya, terkadang penulis tidak menulis kejadian secara runtut.
"Azura.."
Azura mengangkat kepalanya dan menemukan Sabian berdiri dengan menyenderkan bahunya di rak buku. "Kau yakin tidak ingin makan malam denganku? Ayo kita ke restoran Crowd!" Sabian mengambil buku yang Azura baca dan memetakkan dengan asal ke deretan buku-buku lainnya di rak tersebut. Lalu tangannya menarik pelan namun terasa memaksa agar Azura menuruti keinginnya untuk meneminya pergi makan malam.
__ADS_1
Azura sempat menoleh ke arah buku yang Sabian letakkan itu, agar ia bisa mengingat kembali letak bukunya dan mudah dalam mencarinya.
"Jika kakekku bertanya kenapa tugas akhirku belum selesai-selesai, maka aku akan katakan padanya bahwa kau yang selalu membuatku tidak dapat menyelesaikannya. Kau mengangguku."
Sabian menoleh ke arah Azura dengan tangannya yang manih menarik tangan gadis itu untuk berjalan. "Katakan saja. Tapi tadi kulihat kau malah membaca fiksi? Bukan begitu? Itu bukan buku referensi."
"Buku keren."
Sabian seakan tidak peduli apa yang dimaksud buku keren yang disebut Azura itu.
"Hei! Kenapa tidak lewat lift sebelah kanan? Bukankah kita akan ke mobilmu yang berada di basement?" Tanya Azura karena Sabian malah berbelok ke kiri, dimana itu adalah lift yang hanya mengantar ke gedung kelas-kelas.
Azura menghembuskan napasnya setelah masuk ke dalam lift, ia merapikan rambutnya kebelakang dan menatanya. "Jika begitu kau kembali dan ambil sendiri. Biarkan aku baca dulu di perpustakaan, lumayan banyak waktu yang terbuang karena mengambil barangmu itu."
Azura melihat ke wajah Sabian, karena prria di sampingnya itu tidak menanggapinya. "Apa terjadi sesuatu?"
Sabian menoleh dan memberikannya senyuman, namun dari mata Azura. Ia tahu bahwa pria itu pura-pura tersenyum.
"Kenapa? Kau khawatir?" Goda Sabian.
__ADS_1
Azura berdecak dan melipat kedua tangannya. Kemudian lift pun berdenting dan mereka sampai di lantai dasar.
"Lantai dasar? Kau bilang, kau akan mengambil barangmu?" Azura baru menyadari bahwa tujuan mereka bukan ke kelas. "Sabian! Kau bercanda?!! Kau mengajakku mengelilingi gedung? Lalu kemana kita sekarang?"
"Ke basement. Kita akan makan malam bukan?" Jawab Sabian, namun sungguh kalimat Sabian itu membuat Azura ingin sekali menampar kepala pria itu.
Tiba di basement, Azura tidak masuk ke dalam mobil pria itu. Sementara Sabian yang sudah duduk di kemudi menatap Azura melalui jendela mobil yang sudah ia turunkan.
"Kenapa? Ayo masuk!"
"Apa yang kau sembunyikan padaku?" Tanya Azura.
"Apa?" Tanya Sabian pura-pura tidak mengerti.
"Ada yang salah dengamu Sabian. Aka terjadi sesuatu saat kita berpisah tadi?"
Sebelumnya Sabian terlihat biasa saja, nakun setelah Azura tidak ingin ikut makan malam dengannya dan memilih ke perpustakaan. Sahian menjadi aneh.
Menurut Azura, Sabian tidak mungkin mempermasalahkan Azura yang menolak ajakannya, karena biasanya tidak masalah hal tersehut terjadi. Tapi kali ini, bukan masalah penolakan kan?
__ADS_1