
20 menit sebelumnya...
Sabian melihat Azura sudah menghilang di balik pintu lift. Bersamaan dengan hal itu, Sabian menerima telpon dari kakaknya. Ia sempat berpikir sejenak, untuk mengangkat telpon ini atau amia abaikan saja.
Namun setelah panggilan kedua kembali muncul, tanpa sadar jarinya mengusap tombol hijau itu dan suara dengan volume kecil itu menyapanya. "Sab..."
Sebelum meletakkan telepon itu di dekat telinganya, ia melihat lift yang sebelumnya ditumpangi Azura terbuka, namun bukan gadis itu melainkan orang lain. Iya, gadis itu pasti sedang fokus dengan tujuannya—ke perpustakaan.
"Kau sudah tiba?" Tanya Sabian langsung untuk menebak. Ia sudah tahu kakaknya tiba pada hari ini sejak seminggu yang lalu.
"Iya. Bagaimana kabarmu? Kita perlu bertemu bukan? Sudah lama sekali—"
"Ya. Kita perlu bertemu, tapi aku sedang berada di kampus. Kita bisa bicara di rumah."
"Oh! Begitu? Tapi aku sudah berada di kampusmu—"
"Apa? Kenapa? Apa ada hal penting?"
"Wow wow, ada apa ini? Tidak ada... santai saja. Tapi aku memang hanya ingin menjemputmu."
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku ada acara penting sekarang. Setelah makan malam mingkin aku bisa menemuimu."
"Kenapa tidak sekarang saja? Kita sudah berada di satu tempat?"
"Aku ada janji. Jadi jangan buat aku mengingkari janjiku. Seorang pria yang dipegang adalah janjinya."
"Baiklah. Lagipula kedatanganku kesini tidak akan sia-sia juga."
"Apa?" Sabian tidak terlalu jelas mendengar perkataan kakaknya itu.
"Sampai bertemu di rumah, Sab!"
"Tentu. Putraku akan menikah dengan cucu satu-satunya Galyan."
Dengan cepat Sabian menuju lift dan memencet asal tombol lift itu walaupun lift itu masih berhenti di lantai 4 dan tidak mungkin bergerak cepat juga, namun Sabian seakan bisa membuat lift itu cepat sampai di lantai 2.
Tujuannya adalah segera membawa pergi Azura dari kampus, namun pikirannya berhenti saat kakinya sudah masuk ke dalam lift. Pertanyaannya, apa alasan yang harus ia beri kepada Azura jika gadis itu tahu bahwa ia tidak bertindak seperti pria yang Azura kenal.
Sial. Masa bodoh dengan alasan itu, yang terpenting mereka pergi dulu sebelum Azura bertemu dengan kakaknya.
__ADS_1
Dan kejadian kembali ke waktu dimana Azura tidak ingin naik ke mobil Sabian, gadis itu bersedekap menatap tamat-tamat ke arah Sabian.
"Jelaskan dulu. Kau menyembunyikan sesuatu dariku."
"Naik dulu. Kita perlu makan malam. Aku lapar, kau tidak lapar? Perutmu perlu diisi makanan lezat."
Oke hal tersebut berhasil untuk membuat Azura masuk ke dalam mobil Sabian.
Dan mereka meninggalkan GTU dengan kecepatan 70km/jam.
"Apa?" Tagih Azura agar Sabian memberi jawabannya karena ia sudah menuruti perkataan pria itu untuk ikut dengannya.
Sabian menengok, menatap wajah Azyra yang sudah menunggunya. "Pertama..."
Jeda lama, Sabian seperti menimbang-nimbang akan mengatakan hal yang bisa membuat Azura tidak nyaman.
"... ini adalah masalah keluargaku, Azura... jadi, sepertinya kau tidak perlu tau? Bukan begitu?"
Azura tidak membuang tatapannya dari Sabian, ia seperti menelaah apakah temannya itu berbohong atau tidak. Namun menurut Azura, dari wajah Sabian pria itu memang sedang tidak berbohong. Tapi, Azura memiliki perasaan yang aneh. Seperti, ia tidak puas dengan jawaban Sabian. Memang ada hal yang pria itu tutupin.
__ADS_1
Namun akhirnya, Azura memutuskan untuk percaya pada Sabian. Jika Sabian mengatakan hal itu, maka bukan urusan Azura untuk tahu juga. Apalagi ini masalah keluarga Sabian, Tiritan.