
Seorang pria dengan balutan kemeja putih berjalan memasuki penthouse setelah menyampirkan jasnya di punggung sofa. Pria itu sebelumnya mencari sosok ayahnya di ruangan luas ini, namun pandangannya tidak menemukan pria paruh baya itu.
Sebelum berjalan untuk melanjutkan mencari keberadaan ayahnya, pria itu mengambil ponselnya yang berdering.
"Halo, Vid."
"Hai, Mar. Kau sudah sampai?" Suara wanita di seberang sana itu adalah asistennya selama pria ini bekerja di luar negeri.
"Sudah. Ada apa? Apa ada hal yang penting?" Tanya Marca—nama pria tampan dengan bulu mata indah ini.
"Marca Tiritan. Aku menanyai kabarmu karena kau sudah beda wilayah denganku."
"Ehem... lalu? Aku sudah menjawab telponmu. Yang artinya aku sampai dengan selamat."
"Iya, bagus."
"Ya—"
"Arca."
Panggilan dari sang ayah membuat pria itu menjauhkan ponselnya dari telingannya. Dengan refleks ia memutuskan sambungan telponnya dengan Vidanne dan menengok ke arah pintu, di sana sudah terlihat ayahnya yang sudah tampak berbeda sejak terakhir kali ia lihat 7 tahun lalu.
Rambut pria paruh baya itu sudah memutih seluruhnya. Langkah Marca yang semakin mendekat ke arah ayah semakin ia bisa melihat bahwa kerutan pria paruh baya itu semakin jelas.
"Apa kabar?" Tanya Marca kepada ayahnya itu.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat. Bahwa aku masih hidup."
Mungkin ini cara mereka untuk menyampaikan ungkapan rasa rindu.
Marca mengikuti langkah berat ayahnya ke arah sofa lalu mereka duduk di sana dengan berhadapan.
"Kau menerima permintaanku?" Tanya Bizen Tiritan—nama ayah Marca. "Apa karena kau tau umurku sudah tidak lama lagi?"
Marca mengusap bantalan sofa dengan telunjuknya saat mendengar kalimat ayahnya itu.
Bizen sekilas melihat gerak-gerik putra sulungnnya itu. Kemudian ia berdehem. "Kau sangat mirip denganku ternyata."
"Ibu pun bilang begitu," ujar Marca. "... dulu," lanjutnya.
"Kau sudah menemuinya?"
Pembicaraan itu hening seketika.
"Maaf...."
"Dimana dia?" Tanya Marca mengubah topik.
***
Bangunan yang mirip dengan ingatana Marca 7 tahun yang lalu ini. Hanya saja lebih tinggi gedung belakangnya dan ada gedung baru di sampingnya.
__ADS_1
Saat ini Marca sudah berada di tempat parkir area depan GTU.
Sesuai informasi ayahnya, ia akan melihat orang itu di sini.
Jam masih menunjukkan pukul lima. Kelasnya selesai pukul setengah enam. Mungkin lebih baik ia keliling area kampus ini sambil bernostalgia.
Marca melihat gedung perpustakaan, mungkin tempat itu dulu yang Marca kunjungi untuk pertama kali setelah sekian lama.
***
Azura menguap dengan tangannya yang menutupi mulutnya. Ia melirik Sabian yang yang berjalan disisinya dengan tangan kosong. Pria itu datang ke kampus tanpa membawa barang apapun, kecuali ponsel dan pakaian yang dia kenakan.
"Ingin makan malam denganku?" Ajak Sabian, ia menampilkan senyumnya ketika matanya bertemu dengan mata Azura, yang artinya gadis itu menatapnya sedari tadi. Bolehkan jika ia besar kepala?
"Tidak, sudah lama aku tidak ke perpustakaan."
"Ah, ya...."
"Maaf, Sabian."
"Tidak masalah. Kelulusanmu itu lebih penting. Jadi, aku tidak cemburu jika kau lebih memilih yang lain."
Azura berdecak. "Kalimat itu menjijikkan. Jangan katakan hal itu padaku."
Sabian menggeleng. "Mau kuantar?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Kau lapar kan? Lebih baik urus cepat perutmu sebelum dia meronta-ronta." Azura mendorong lengan Sabian sebelum ia berbelok dan masuk kedalam lift.