Pernikahan Manis Dengan Bos Bundaku Ditemani Sikembar

Pernikahan Manis Dengan Bos Bundaku Ditemani Sikembar
Anak Sang Pemabuk


__ADS_3

..."Kata - katamu memang manis, tapi untuk apa itu semua jika hanya menuntaskan keingintahuan saja lalu pergi meninggalkan."...


*****


Azwa Laila ialah seorang gadis cantik yang tak pernah lepas menggunakan hijab sebagai seorang muslimah. Tasbih yang ada di tangannya seakan enggan untuk di lepas walau hanya beberapa saat.


Matanya tampak berlinang kala itu, diatas sajadah yang sudah tampak usam.


"Ya Allah... Hamba mohon tolong kuatkan hamba untuk menjani semua cobaan yang akan Engkau berikan pada hamba esok hari, hamba cuma ingin Bunda hamba bisa sembuh dari sakitnya Rab." pintanya yang tak kuasa menahan linangan air mata yang hendak turun di pipinya.


Matanya melirik sekilas pada sosok wanita yang wajahnya terlihat pucat, kulit yang keriput menandakan usianya yang memang tak bisa lagi di bilang muda.


Wajahnya terlihat begitu kelelahan, sudah berapa kali Azwa mencoba menahan keinginan bundanya untuk tak lagi bekerja. Tapi bundanya selalu menolak mentah - mentah permintaannya.


"Azwa, Bunda harus bekerja. Kalau tidak bagaimana nasib kamu dan adik - adikmu nanti?" tanya Ibundanya.


"Tapi bunda, bukannya bunda sedang demam? kenapa bunda tidak istirahat aja bunda, Azwa bisa kok gantiin pekerjaan bunda." ucapnya meyakinkan.


"Tidak nak, kamu harus tetap fokus belajar. Jadilah anak yang pintar biar bisa kerja yang lebih baik dari bunda." pinta bundanya.


"Tapi-" ucapannya terpotong.


"Sudah, jangan bantah perkataan Bunda. Cepat mandi lalu berangkat sekolah," suruh Bundanya.


Azwa yang saat itu tidak memiliki pilihan lain hanya menurut, dan karena terlalu kelelahan Bundanya jadi tak dapat bangkit dari pembaringannya.


Azwa baru saja selesai melaksanakan sholat Tahajjud, ia selalu berusaha untuk bisa mengerjakannya meskipun sempat tidur terlalu larut.


Ia kini sibuk dengan pekerjaannya menjadi seorang penulis, meskipun awal yang ia lalui memang terdengar tidaklah mudah.


Ada banyak lubang yang harus ia timbun terlebih dahulu sebelum ia langkahi, jika tidak sudah tentu kakinya bisa tersandung nantinya.


Usai mengusap wajahnya dengan telapak tangan Azwa pun bangkit, setelah itu tangannya bergerak untuk melipat perlengkapan sholatnya.


Rumah mereka yang sangat sederhana membuat Azwa harus tidur satu kasur sedang dengan adiknya.


Azwa mempunyai dua orang adik yang masih berumur tujuh dan sepuluh tahun. Yang paling kecil adik perempuan sedangkan yang lebih tua adik laki - laki.


Tok tok tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu jelas terdengar dari luar pintu.


Azwa hanya dapat menghembuskan napas kasar karena yang sedang mengetuk pintu rumah saat tengah malam begini adalah Ayahnya.


"Hei! apakah kalian sudah tuli? aku sudah sejak tadi mengetuk pintu rumah ini, hoaah..." ucapnya yang berakhir dengan menguap.


Azwa pun bergegas membuka pintu rumah, dapat ia lihat tubuh sang ayah yang tampak tak bisa berdiri tegak.


"Astaghfirullah... Ayah mabuk lagi?" tanyanya saat sudah mencium bau minuman keras yang begitu menyengat.


"Ah! bukan urusanmu, kamu jadi anak cukup diam saja. Jangan ikut campur urusan orang tua," ucapnya sambil berjalan masuk menuju kekamarnya dan istrinya, sayangnya sang istri sama sekali tidak ingin untuk sekamar dengannya lagi.


Azwa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Ayah, saat kondisi Bunda sedang tidak membaik. Kenapa ayah malah sibuk menghabiskan uang Bunda saja? apa ayah tidak kasian sama Bunda?" batinnya menjerit.


"Azwa," panggil Bundanya lemah.


"Eh! iya Bunda, ada apa?" tanyanya sambil tersenyum.


"Ayah mu baru saja pulang ya?" tanyanya.


"Apa ayahmu baik - baik saja sekarang?" tanyanya lagi yang tampak cemas.


Azwa tanpa berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Bundanya.


"Emmm... Ayah baik - baik saja kok Bun, tidak ada yang perlu di khawatir kan." responnya.


"Yaudah... Kamu udah selesai sholatnya? kalau udah matikan lampu kamar dan tidur kembali," ucap ibunya.


"Iya Bu, Azwa juga mau tidur kok sekarang." responnya bergegas untuk melakukan apa yang bundanya perintahkan.


🥀 **Keesokan Harinya** 🥀


Azwa sudah tampil cantik meski sederhana, ia baru saja memasak untuk ibu, ayah juga adik - adiknya.


Senyuman terpancar begitu lebar dari bibirnya pagi ini. Bagaimana tidak? karena kondisi ibunya sudah mulai membaik hingga dapat bangkit kembali.


Di tengah jalan menuju ke sekolah ia tak sengaja berjumpa dengan mantan pacarnya.

__ADS_1


Azwa tanpak acuh dan memilih melanjutkan saja perjalanannya.


"Hei! jangan sombong - sombonglah jadi mantan." ucapnya sambil melambai ke arah Azwa.


Azwa hanya melihatnya sekilas lalu kembali menatap ke depan.


Lelaki itu tampak kesal karena di abaikan lalu memilih untuk mendekatinya.


"Azwa, aku tadi bicara denganmu, kenapa kamu hanya diam saja?" tanyanya sedikit kesal.


"Tidak ada, aku hanya sedang malas bicara saja." jawabnya tanpa mau menatap matanya.


"Huh! oke sikapku dulu sama kamu emang salah, tapi plis jangan diami aku terus kayak gini." pintanya memelas.


Azwa hanya mengernyitkan dahinya, apa dia sadar jika sikapnya itu memang sudah di nilai sangat berlebihan.


"Lalu aku harap apa hah? meladeni semua ucapan mu gitu? terus aku jadi jatuh hati sama cowok yang posesif banget kayak kamu iya? tapi sayangnya udah posesif playboy." geramnya hingga membuat pria itu bungkam setelah mendengar kata - kata Azwa.


Azwa benar, ia memang laki - laki yang posesif. Tapi ia juga tidak bisa menahan dirinya untuk dekat dengan wanita lain, bahkan melakukan sesuatu yang harusnya tidak ia lakukan.


Meskipun hal itu hanya sekedar mengecup bibir saja dan sialnya itu terjadi di depan mata Azwa yang tak sengaja lewat di lorong sekolah yang begitu sunyi.


Pria itu hanya bisa memandang punggung Azwa yang telah berjalan menjauh, ia dapat melihat sorot kebencian di balik kekecewaan yang ada di matanya.


"Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengannya di sini? bukannya dia lebih sering melalui jalan raya dengan sepeda motornya," batinnya merasa resah.


Tak perlu menunggu waktu lama karena jarak antara rumah sekolah dengan rumahnya tak begitu jauh ia jadi mudah sampai di tempatnya menimba ilmu.


"Alhamdulillah... Sampai juga," ucapnya senang setelah melewati pagar sekolah lalu bergegas menuju lokalnya.


Di kelasnya Azwa memang terkenal sebagai anak yang cukup pintar meski tidak pernah mendapat kan juara satu di kelasnya. Tapi nilai nya di pelajaran bahasa Indonesia sangatlah tinggi, karena ia benar - benar mudah memahami setiap materi yang di berikan dari pelajaran yang sudah lama si sukai nya itu.


Berbeda dari temannya yang lain, mereka tampak sedikit bosan saat mata pelajaran ini berlangsung. Tak jarang mereka hanya menempelkan kepala mereka di salah satu lengan mereka dan tanpa takut sedikitpun memilih untuk tertidur.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2