
..."Lisanku bisa saja berkata hal yang diluar kendaliku, tapi jika permintaanmu tak sesuai dengan ke inginan hati aku tetap tak akan peduli dengan apa yang kamu putuskan. Kedengaran nya memang egois, ya mau gimana lagi? baginilah aku."...
*****
Ternyata dugaan Azwa benar, yang sedang menggebrak meja adalah guru mata pelajaran yang sangat ia benci.
"Azwa, ada apa? kenapa sangat berisik?" tanya Bu Yarsi dengan tatapan tajam.
Seluruh mata jadi melihat ke arah Azwa dan itu sukses membuat Azwa benar - benar tidak merasa nyaman akan hal tersebut.
"Is sebel banget deh jadinya, mana yang lain pada liatin aku doang lagi. Awas ya kamu Carina," batin Azwa merasa geram.
"Azwa, saya sedang berbicara sama kamu. Kenapa diam saja?" tanya Bu Yarsi lagi.
"Ampun deh! punya guru tapi tegas banget, mana kuat aku kayak gini. Udah gak suka sama mata pelajaran malah harus di tambah sama gurunya juga," batinnya resah sambil menghembuskan napas panjang.
"Azwa," panggilnya.
"Ya Allah... Ibu ini gak sabaran banget sih? padahal kan aku bingung lagi buat cari alasan," batinnya merasa pening.
"Enggak ada apa - apa Bu, saya cuma kesal saja sama teman saja karena kemarin minjam buku saya tapi malah hilang bukunya." bohong Azwa.
Carina yang mendengar hal yang tidak masuk akal merasa sangat terkejut sampai membulatkan matanya sempurna.
"Hei Azwa, bener - bener ya kamu ini. Nanti aku kenal omel tau," sengit teman nya.
"Salah sendiri, kamu padahal juga berisik. Tapi yang di tegur cuma aku," respon nya.
Bu Yarsi yang semakin merasa kesal kembali mengeluarkan suaranya dan sekarang sama sekali tidak terdengar lembut, malah lebih seperti gertakan.
"Azwa!!! Carina!!! jika kalian masih tidak diam juga maka saya akan menyuruh kalian belajar di depan kelas," ancamnya.
"Alhamdulillah makasih banyak bu, jadi gak panas. Coba aja di bawah tiang bendera pasti gak kuat banget deh sama sinar mataharinya," dengan bodohnya Carina malah berkata seperti itu.
"Carina, saya sama sekali tidak berniat untuk bercanda." ucapnya serius.
Carina yang mendengar hal itu hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani untuk menatap lawan bicaranya.
"Rasain, udah tau Bu Yarsi lagi kesel malah makin di buat kesal akhirnya meledak juga kan." batin Azwa merasa resah.
Bu Yarsi yang melihat Carina menunduk tanpa berani melihat ke arahnya lagi memilih untuk kembali fokus pada bukunya setelah menghembuskan napas pelan.
Ruang kelas menjadi sunyi kembali, hanya beberapa murid yang tampak fokus dengan materi yang di berikan.
Sisanya malah sibuk membuang tinta tak jelas di buku mereka, ada yag berbincang secara pelan bahkan sampai ada yang tertidur hingga penjelasan selesai.
__ADS_1
Azwa mati - matian menahan rasa bosannya dan berharap jam pulang sekolah cepat berbunyi agar ia bisa pulang ke rumah.
Setelah beberapa jam menunggu bel yang ia harapkan akhirnya berbunyi juga.
Dengan sedikit tergesa ia membereskan perlengkapnya lalu berjalan ke luar kelas.
"Hai Azwa, kamu main ninggalin aku aja." ucap Carina sambil menaruh satu telapak tangannya di pundak Azwa.
"Hehe maaf namanya pengen cepat - cepat keluar, aku malas lama - lama di dalam." responnya.
"Lah! kenapa?" bingung temannya.
"Ya kan kamu tau sendiri aku paling malas urusin masalah pelajaran yang sulit ku pahami." jelasnya.
"Padahal kan gurunya udah keluar," ucap temannya.
"Udah jangan bahas itu lagi, lebih baik yuk kita pulang aja." ajaknya.
"Oke yuk," respon Carina.
Di perjalanan pulang mereka tak berhenti tertawa karena saling berbagi cerita lucu.
Tak terasa kini mereka sudah tiba di depan gang yang arahnya berlawanan.
"Iya kamu benar, kalau gitu sampai jumpa lagi yah." angguk Azwa sambil melambaikan tangannya ke arah temannya tersebut.
Saat langkah kakinya sudah memasuki gang, entah kenapa perasaannya terasa tidak enak.
Ia benar - benar merasa sedang di ikuti oleh seseorang, tapi saat ia melihat ke belakang ia tak melihat satu sosok pun.
"Hmm... Apa cuma perasaan ku saja ya?" batinnya sambil merasakan dengup jantungnya yang tak beraturan.
Karena sudah sangat cemas ia pun langsung mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke rumahnya.
Saat ia sudah hampir sampai dan bangunan rumahnya sudah tampak tak jauh di hadapan nya barulah ia dapat menghembuskan napas lega.
Dari kejauhan di belakang sebuah pohon besar tampak seorang pria berjaket hitam sedang memerhatikan nya dari jauh, senyuman miringnya terukir dengan jelas melalui bibirnya.
"Azwa, liat saja sampai kapan pun aku tak akan membiarkan seorang pria mendekatimu. Hanya aku yang boleh menjadi pendamping untukmu," ucap sosok tersebut.
Setelah mengatakan hal itu ia langsung pergi dari sana.
Zen, entah mengapa ia masih saja merasa berat dengan apa yang di inginkan oleh Azwa. Menjauhinya? yang benar saja, ia mana sanggup melakukan hal tersebut.
Dapat melihatnya saja dari jauh ia sudah senang apa lagi bisa bersama kembali, namun tetap saja sudah tidak ada kesempatan lagi.
__ADS_1
Hati Azwa benar - benar sudah beku sekarang, ia bahkan sampai bersikap terlalu dingin dengan pria mana pun meski sudah saling mengenal cukup lama.
"Azwa, semakin kamu menghindar dariku maka aku akan semakin mendekat kepadamu. Dan aku juga tidak akan membiarkan satu laki - laki pun mendekatimu selain aku," posesifnya.
Saat Azwa hendak menutup pintu rumah, ia tak sengaja sempat melihat bayangan seseorang yang letaknya di tempat persembunyian Zen.
Karena ragu ia memilih mengabaikan saja lalu menutup pintu rumahnya.
"Duh mana matahari panas banget lagi hari ini, lebih baik aku mandi dulu baru aku sholat." ucapnya.
Seperti biasa rumahnya masih tampak sepi, adiknya pasti pasti sudah keluar rumah sejak tadi untuk bermain bersama teman - temannya, sedangkan sang ibu memang dari pagi sudah pergi ke sebuah Cafe untuk menjadi orang yang bertugas mencuci piring.
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu membuat Azwa bergegas untuk membukanya.
"Assalamualaikum," ucap seseorang di balik pintu.
"Wa'alaikum salam," jawab Azwa sambil membuka pintu rumahnya tersebut.
"Eh Bunda, udah pulang kerja Bunda?" tanya Azwa sambil tersenyum.
"Belum sayang, Bunda pulang karena mau Sholat Dzuhur dulu." jawabnya balas tersenyum.
"Lho, kenapa bunda tidak sholat di sana aja? nanti kan capek harus bolak - balik," sarannya.
"Gak bisa sayang, karena bunda kan harus masak untuk kamu dan adekmu. Kamu kan belum pinter banget kalau soal dapur," jelas bundanya hingga membuat Azwa membisu karena malu.
"Hehe iya Bunda maaf ya, Azwa benar - benar lupa." responnya sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Yaudah gak papa sayang... Kalau gitu Bunda mau sholat abis itu masak," pamit bundanya hendak berjalan ke arah kamarnya.
"Tapi Azwa nanti mau ikut bantu bunda masak ya," pintanya.
"Boleh dong sayang... Biar kamu sekalian belajar," respon bundanya sambil menaruh satu tangannya di pundak Azwa.
"Oke Bunda," ucapnya sambil memegang tangan bundanya yang masih ada di pundaknya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Star sangat berterima kasih bagi Kaka yang udah mau follow Star... Bahkan tak segan - segan memberikan Vote dan Komen pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... Hingga jadi lebih bersemangat 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1