Pernikahan Manis Dengan Bos Bundaku Ditemani Sikembar

Pernikahan Manis Dengan Bos Bundaku Ditemani Sikembar
Gangguan Mantan Sialan


__ADS_3

..."Jika kau kembali hanya untuk merasakan ketulusan yang tak berujung serius. Lebih baik aku menjauh dari pada mengasihi tapi tak pernah kau hargai."...


*****


Bel tanda mata pelajaran selesai telah berbunyi, entah sudah berapa kali Azwa melihat guru bergonta - ganti sejak beberapa jam sekali.


"Azwa, nanti abis pelajaran olahraga kita langsung ke kantin yuk. Aku udah lapar soalnya," ajak teman Azwa yang duduk di sampingnya.


"Emmm... Kamu aja deh Marsita, aku masih kenyang soalnya. Lagian aku hanya ingin tetap berada di kelas dan menyelesaikan tulisanku," tolaknya.


"Yah... Kamu ma gitu, apa kamu tidak merasa bosan untuk terus merangkai kata?" tanya temannya heran.


Bagaimana temannya tidak heran? sering kali hanya Azwa yang tetap berada di kelas, sedangkan murid lainnya sudah sibuk untuk jajan bersama teman masing - masing.


"Menulis adalah hobiku, bahkan juga sudah masuk ke dalam cita - citaku selama ini. Aku hanya ingin memiliki karya yang dapat membuat orang lain tersenyum, meskipun karyaku tak seindah rangkaian kata Kaka - Kaka yang sudah ahli." jawabnya sambil tersenyum manis.


"Ya udah kalau gitu kamu semangat ya, aku bisa ajak Naira kok." responnya memaklumi dan tak ingin membuat semangatnya turun.


"Makasih ya Marsita," ucap Azwa merasa senang.


"Sama - sama kawan," responnya balas tersenyum.


Tak berapa lama kemudian kelas yang awalnya terasa agak berisik menjadi sunyi kembali saat bapak olahraga masuk.


Sifat tegas beliau membuat setiap murid sedikit tegang saat mata pelajaran tersebut berlangsung.


"Sssst, sudah jangan banyak bicara lagi. Apa kamu mau nanti kita di hukum pus up 1000 kali? enggak kan?" peringat seorang pria yang duduk di kursi paling belakang.


"Gila kamu, mana mungkin bapak nyuruh kita pus up 1000 kali. Yang ada aku malah kehilangan nyawa detik itu juga karena kaki sama tanganku gak bisa bernafas lagi," herannya.


"Serah kamulah aku gak peduli, makin aneh aja ucapan mu gak masuk logika banget." responnya yang kembali menghadap ke depan.


Jantungnya jadi terasa berhenti berdetak saat sang bapak tiba - tiba saja sudah berada di hadapannya.


"Astaghfirullah! pak, kenapa bapak ada di sini?" tanyanya kaget.


"Kamu nanyea???" tanya pak Ilham.


"Iya pak, saya nanyea???" jawabnya malah balik bertanya.


Bhukkk!!!

__ADS_1


Suara gertakan meja yang berasal dari salah satu tangan pak Ilham yang merupakan guru olahraganya ternyata malah terbawa emosi karena muridnya tersebut malah ikut bercanda dengannya.


Sebenarnya pria itu tidak berniat untuk kembali bertanya, tapi ia sudah terbawa suasana.


"Eh! ma-maaf pak, sa-saya tidak sengaja." ucapnya terbata - bata.


"Makanya kedepannya saat saya sudah masuk ke kelas jangan bicara lagi," responnya penuh penekanan.


Pria itu akhirnya dapat bernafas lega saat pak Ilham sudah kembali melangkah ke arah mejanya.


"Gara - gara kamu sih," geramnya pada teman yang ada di seberangnya.


"Siapa suruh kamunya juga masih open aku waktu ngomong yang gak jelas," acuh temannya.


Karena takut ketahuan oleh pak Ilham, akhirnya pria itu memilih untuk tak membalas apa yang di ucapkan temannya.


"Liat saja nanti ya, habis kamu." batinnya merasa geram.


Dan sialnya temannya malah terus menertawai.


*****


Tiba - tiba saja saat pak Ilham ingin memberikan materi ia mendapatkan panggilan dari kepala sekolah.


Karena tak membiarkan mereka bermalas - malasan di dalam kelas, akhirnya pak Ilham menyuruh murid - muridnya untuk bermain peralatan olahraga saja.


Saat teman - temannya yang lain sibuk bermain, berbeda halnya dengan Azwa. Ia lebih memilih duduk bersandar di pohon mangga lalu membuka ponselnya untuk kembali mengetik di catatannya.


Ia sengaja lambat dalam memilih perlengkapan olahraga, hingga ia punya alasan untuk tidak ikut bermain.


Azwa adalah gadis yang cantik, bibirnya berwarna pink tipis. Matanya juga agak lebar.


Kulitnya yang berwarna putih bersih selalu saja menjadi pemandangan yang begitu indah saat di terpa cahaya matahari.


Sejak Azwa menulis, ia merasa tidak enak dengan mantannya yang tak berhenti memandangnya dari dalam kelasnya.


Kelas mantannya terletak tak jauh berhadapan dengan pohon mangga. Karena merasa terganggu akhirnya Azwa memilih bangkit dan mencari tempat lain yang menurutnya aman.


Dari kejauhan terlihat wajah mantannya yang tampak kecewa dengan keputusan yang di ambil oleh Azwa.


"Azwa, kenapa sikapmu malah seperti ini? aku gak bisa di diami terus olehmu, tapi masalahnya aku juga belum bisa move on dengan 5 pacar baruku." batinnya sedih.

__ADS_1


Gila, ya! mungkin kata itu yang pantas untuk mantannya saat ini, padahal di sekolahnya ada banyak pria yang ingin mendapatkan cinta dari seorang gadis yang bernama Azwa.


Jangankan cinta, hanya rasa peduli saja mereka sudah bahagia. Tapi sayang, Azwa tak pernah mau lagi membuka hatinya pada siapa pun.


Ia memang terkenal dengan gadis yang pintar merangkai kata - kata cinta, tapi ia sama sekali belum pernah merasakan apa yang di katakan ketulusan cinta hingga bisa berakhir bahagia.


Cinta yang ada di rumahnya saja tak pernah terlihat antara ayah dan bundanya. Sejak kecil ayahnya hanya pintar memarahi istrinya yang sudah berkerja keras untuk kehidupan keluarga.


Entah kenapa ayahnya jadi berubah, kata bunda dulu ayah sangat mencintai bunda. Ayah sampai tega pulang larut malam hanya untuk menunggu bunda pulang kerja di sebuah cafe.


Bundanya ialah seorang pelayan di sebuah restoran yang cukup terkenal di tempat tersebut.


Azwa bingung ingin bersantai di mana, karena beberapa tempat yang sedikit luas sudah di penuhi oleh teman - temannya.


"Hmmm... Tak lama lagi sepertinya jam pak Ilham akan habis dan saatnya istirahat, lebih baik aku langsung ke kelas aja deh." batinnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke kelas.


Sesampai di kelas ia mulai duduk di kursinya, tiba - tiba saja pintu kelas tertutup. Dan ia sangat terkejut saat mengetahui siapa pelakunya.


"Zen," ucap Azwa sambil mengerutkan dahinya.


"Ngapain kamu ke sini?" sambungnya dengan tatapan sinis.


"Memangnya aku tidak boleh apa mengunjungi mantan pacarku?" tanyanya dengan tatapan menggoda.


"Jangan terlalu banyak bertingkah seperti itu, aku sudah muak melihatnya. Perlihatkan saja sama semua pacar barumu itu, dasar pria playboy." respon Azwa merasa kesal.


"Hei! play boy - play boy gini kamu pernah tertarik juga kan sama aku?" ucapnya membela diri.


"Itu kan dulu, saat aku belum tau sifat aslimu." responnya.


"Oh... Jadi gitu, tapi meskipun kamu gak suka lagi sama aku. Aku tetap maksa kamu untuk tetap bersikap layaknya pacarku, manis dan tak mendiamiku selama sebulan ini." putusnya.


Tentu saja Azwa akan menolak apa yang di katakan oleh Zen tersebut, karena ia sudah berniat untuk tak kembali lagi dalam bujukan rayuan yang hanya di jadikan hiburan semata olehnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2