Pernikahan Manis Dengan Bos Bundaku Ditemani Sikembar

Pernikahan Manis Dengan Bos Bundaku Ditemani Sikembar
Teman Yang Rewel


__ADS_3

..."Andai ada obat pelupa perasaan, pasti aku akan membelinya tanpa harus berjuang agar tak lagi di hantui oleh bayangan kenangan."...


***


Tangan Azwa sudah mulai terasa pegal, sejak tadi ia benar - benar tak berhenti untuk menulis karena ide yang terus mengamuk dari dalam kepalanya.


Tapi ia jadi dapat kembali tersenyum karena melihat banyaknya orang yang masih setia menanti kelanjutan dari karya - karyanya.


Jujur, tanpa mereka mungkin tulisannya juga bukan apa - apa. Ibarat rangkaian indah yang ditempel di dinding tanpa ada yang memperdulikan, lama - lama ia akan berdebu lalu lepas terbawa angin.


"Alhamdulillah... Akhirnya aku bisa juga menyelesaikan beberapa bab novelku," senangnya sambil melihat ke arah catatannya.


Nanti ketika sampai di rumah ia tinggal mencopynya dan menempelkannya ke aplikasi.


"Hei Azwa, gimana novel mu? apakah udah siap?" tanya temannya yang baru saja menoel bahunya dengan telunjuknya.


"Alhamdulillah sudah kok," jawabnya sambil melihat ke arah Carina yang duduk sebangku dengannya.


"Wah... Syukurlah kalau begitu, yang kisah tentang pangeran langit udah kamu lanjutin belum?" tanyanya lagi.


"Udah kawan," responnya.


"Mantap, aku udah tunggu - tunggu lho dari tadi. Penasaran banget soalnya, bisa - bisanya dia tak ingin menerima tunangan itu. Mana tunangan cantik tuan putri lagi, emang aneh tuh si pangeran." adunya.


"Tapi walau pun begitu aku tetap bucin sih... Karena Visual yang kamu taruh itu bikin aku lope - lope, hehe." sambung temannya dengan cengiran kudanya.


"Hahaha bisa aja kamu, emang dasar kalau udah liat cogan aja langsung kayak gitu." ucap Azwa ikutan tertawa saat melihat ekspresi lucu temannya tersebut.


"Ye... Harus dong, cogan itu nomor 1," bangganya.


"Iya - iya serah kamu aja deh sama haluanmu itu," respon Azwa sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Lagian ini semua gara - gara kamu tau, bikin berita yang udah buat aku baper terus langsung pengen punya ayang... Huaaaaa," tangisnya tanpa air mata.


"Ya ampun ni teman lebay banget deh," heran Azwa.


"Gak punya ayang..." keluhnya sedikit meninggikan suaranya.


"Lah! masak iya kamu gak punya, di rumahmu bukan nya banyak kandang ayang? ada yang hitam putih biru kuning," lawak Azwa.


"Isss... Kamu ini ada - ada aja sih, itu ma ayam tau! cuma kalau warnanya sampai ada yang biru kuning kudu di pertanyakan itu kenapa," responnya.


"Lah! emangnya kenapa?" bingung Azwa.

__ADS_1


"Ya masak kamu itu gak mikir sih kalau ayam biasanya itu warna hitam putih sama merah, lah kamu malah biru kuning. Gimana ceritanya coba?" protesnya.


"Ya bisalah kalau di ceritain," ucap Azwa yang sudah mulai tampak pusing.


"Iya tapi gimana hmmm? ada - ada aja kamu ini," tahannya penasaran.


"Jadi ceritanya gini ya Carina, tu ayam kan asalnya bulunya warna hitam putih merah. Kalau kita cet kan jadi berubah juga warnanya jadi biru ama kuning," jelasnya.


"Ampun deh! bisa gitu ya?" herannya sambil memegang dahinya.


"Ya bisalah! kan di bisa - bisain, dasar aneh emang ya." resah Azwa.


"Tap-" tiba - tiba suara bel sudah berbunyi.


Dalam hati Azwa sangat bersyukur karena dapat terbebas dari cerewetan temannya yang suka bertanya sepanjang kereta api.


"Yah! itu bel bunyinya gak tau waktu," sewotnya.


"Heh! ada - ada aja kamu, itu bel tau waktulah bunyinya, tandanya kita gak boleh banyak omong lagi karena mau masuk jam pelajaran." ucapnya membenarkan.


"Isss! tetap aja menyebalkan," geramnya yang memilih untuk mengambil buku paket mata pelajaran selanjutnya di perpustakaan.


"Lah malah ngambek, mau kemana kamu?" tanyanya saat melihat temannya itu sudah bangkit dan berjalan ke pintu kelas.


"Eh! ya enggaklah... Yaudah sana pergi ambil buku, syukur - syukur di sampingku bisa terasa sunyi juga sekali - kali." candanya.


"Oh... Jadi gitu ya kamu?" kesalnya yang hendak berjalan mendekat.


"Lah santai kawan... Santai... Jangan marah - marah entar cepat tua... Lebih baik cepat kamu ambil buku kamu sekarang sebelum datang gurunya ke sini." suruh Azwa.


Tanpa ingin menjawab apa yang di ucapkan oleh temannya itu ia langsung membalikkan tubuhnya lalu keluar dari pintu kelas nya.


"Huh... Belajar lagi belajar lagi, aku udah pusing dengan mata pelajaran ini. Apa lagi matematika plisss... Bolehkan aku kabur?" batinnya mengeluh.


"Hei Azwa, kamu kenapa kayak orang penuh beban gitu hmmm?" tanya salah satu teman cowoknya yang bernama Bartan.


"Enggak papa cuma pusing doang," bohongnya.


"Hahaha kamu bisa - bisanya mengelak, aku juga tau kalau kamu itu paling benci sama pelajaran matematika kan?" tebaknya sambil tersenyum miring.


"Isss! bawel lah kamu, kalau aku benci memangnya ada urusannya apa sama kamu?" sinisnya.


"Ampun dah itu mata, selo aja kenapa sih?" responnya sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Lagi gak bisa bisa selo aku," dengusnya lalu guru pelajaran yang kurang di sukai olehnya pun masuk, lebih tepatnya mata pelajarannya.


Tak berselang lama Carina juga ikut masuk sambil membawa buku paket bersama dua temannya yang lain.


"Duh... Capek banget oy, mana panas banget tuh matahari. Habis kulitku jadi gosong," ucapnya sambil mengatur deru napasnya.


"Udah jangan banyak ngeluh sama matahari, kalau matahari gak muncul - muncul kamu juga yang sibuk ngedumel karena cucian rumah yang gak kunjung kering." tegur Azwa.


"Iya deh iya makasih banyak matahariku yang sudah menyinari hidupku," ucapnya dengan gaya lebaynya.


Untung saja guru matematika mereka cuek, jadi jika ada yang sedikit sinting dan agak ribut di kelas tak terlalu mendapatkan semprotan.


Saat hendak fokus ke depan tiba - tiba bayangan tentang perlakuan Zen padanya kembali terbayang dan itu benar - benar mengganggu konsentrasi nya.


"Sial! kenapa sangat sulit sih melupakan pria brengsek itu? meskipun aku sudah berhasil bersikap dingin kepadanya tapi kenapa hatiku tidak? rasanya begitu menyiksa jika begini," batinnya resah sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Eh Azwa, apa kamu sakit?" tanya teman sebangkunya cemas.


Azwa yang terkejut sontak melihat ke arah temannya dengan mata yang sedikit terbuka lebar.


"Eng-enggak Carina, aku gak sakit." jawabnya sambil tersenyum.


"Ah! kamu pasti bohong," selidik teman nya tak percaya.


"Isss... Aku serius tau kalau aku itu gak bohong," ucapnya.


"Baik terserah kamu aja deh Azwa, aku ma gak percaya. Kamu selalu berusaha menyembunyikan rasa sakitmu sendiri tanpa ingin berbagi. Siapa tau aku bisa membantumu jika kamu mau terbuka," responnya sambil menghembuskan napas pelan.


"Iya - iya aku jujur kalau aku cuma pusing dikit doang kok, lama - lama juga sembuh. Biasa... Kamu kan tau sendiri kalau udah masuk pelajaran matematika otakku kayaknya mau Kabur," alasannya.


"Hahaha ada - ada aja sih kamu," tawanya sambil memukul bahu temannya pelan.


"Iya ada - ada aja aku ini," responnya ikut tertawa.


Tiba - tiba saja tawa mereka jadi berhenti saat sebuah gebrakan meja yang cukup keras dari meja depan menatap ke arah mereka, dan tatapan tersebut cukup memiliki arti yang dalam.


"Mampus! abis aku," batinnya yang mulai berkeringat dingin.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2