Pernikahan Tanpa Cinta Abadi

Pernikahan Tanpa Cinta Abadi
1. Mobil hitam


__ADS_3

“Ma..” Rengek Lira kepada Mamanya ketika mereka sedang menonton TV bersama.


“Kenapa lagi, Lira?” sahut Mama.


“Lira mau nonton kartun!”


“Nanti lah, nonton nih berita aja.”


Bu Kanya atau Mama Lira mengabaikan rengekan dari anaknya yang meminta untuk menonton kartun padahal sudah berusia dua puluh dua tahun. Hari itu adalah hari minggu, di mana toko kue Lira sedang libur dan orang tuanya pun mengosongkan jadwal kerja agar memiliki waktu bersama keluarga.


“Lira, kapan mau lanjutin perusahaan Papa dan Mama?” Tanya Papa.


“Ih, Pa.. Lira kan udah bilang kalo Lira belum minat terjun ke dunia bisnis.”


“Haduh, anak satu-satunya tapi ga mau nerusin warisan orang tua,” imbuh Papa sembari mengelus kepala Lira.


Pak Adi atau Papa Lira sangat menyayangi anak semata wayangnya, sama seperi istrinya. Lira memang beruntung di dalam keluarga dan pertemanan, itulah sebabnya dia tidak pernah memikirkan percintaan bahkan untuk melirik laki-laki pun dia enggan.


Waktu pun berlalu, kini sudah memasuki hari kerja. Lira sedang berada di toko kuenya bersama beberapa karyawan, dia sibuk mencatat pesanan yang akan segera dibuat karena perlu diambil hari itu juga.


“Aiden, tolong nanti vas bunga yang di sana airnya ganti ya!” Perintah Lira kepada Aiden, karyawan sekaligus sahabatnya sejak SMA.

__ADS_1


“Siap, Ra!” Sahut Aiden.


Setelah menyelesaikan catatannya, Lira keluar toko untuk melihat keadaan lingkungan di sekitar tokonya. Namun ia menyadari satu hal yang sebenarnya sudah dicurigainya sejak beberapa hari lalu.


“Itu orang sini bukan sih?” gumamnya pada diri sendiri.


Lira melihat sebuah mobil hitam yang terparkir setiap ia sudah membuka tokonya, namun ketika waktu toko sudah tutup mobil itu pasti pergi dari tempat. Sudah lima hari mungkin Lira mengawasi mobil itu, terparkir tak jauh di seberang toko Lira.


“Masa bodoh, deh! Mungkin orang sini!” ujarnya. Walaupun ia tau kalau di sekitar situ tidak ada rumah, jadi tidak mungkin mobil itu pemilik orang yang tinggal di situ namun ia berpikir bahwa itu mobil seseorang yang mempunyai toko di dekatnya.


“Ra!”


Lira terkejut karena Aiden datang menepuk bahunya, melihat itu Aiden pun bingung dan ia ikut melihat mobil yang sedari tadi ditatap oleh Lira.


“Ga tuh, kenapa?” Tanya Aiden.


“Ah? Gapapa, masuk yok! Kerja!” Ajak Lira.


Mereka pun masuk ke dalam toko, tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka berdua dari dalam mobil yang mereka perbincangkan tadi.


{“Mereka sudah masuk toko berdua, Tuan,”} ujar seseorang di dalam mobil itu yang sedang menelpon.

__ADS_1


{“Pastikan mereka tidak terlalu mesra!”}


{“Baik, Tuan.}


...****************...


“Aiden, balikin!”


Lira mengejar Aiden yang mengambil kuncir rambutnya hingga kini rambut Lira terurai dan membuatnya gerah.


“Ya sini ambil dong! Ga sampe kan?” goda Aiden sembari mengangkat kuncir rambut Lira setinggi mungkin dengan ujung jarinya.


“Aiden! Panas tau!” ujar Lira kesal.


Karena sibuk meraih kuncirnya, Lira tak sengaja tersandar di hadapan Aiden, kini jarak mereka tak lebih dari lima cm bahkan keduanya hanya diam terpaku, saling bertatapan namun tidak berkedip.


Lagi-lagi, tanpa mereka sadari kini orang yang berada di dalam mobil hitam sedang mengambil potret mereka berdua yang seperti sedang berpelukan.


“Tugas yang menyebalkan!” ucapnya.


“Hayo! Suka ya liatin gue?” Ucap Aiden mencairkan suasana.

__ADS_1


“Ck! Apasih!” Lira segera mengambil kuncir rambutnya lalu pergi meninggalkan Aiden.


“Lucu banget calon istri gue,” ujarnya denga senyuman menggambarkan suasana hatinya yang sangat berbunga-bunga.


__ADS_2