
Siang sudah berganti malam, jam menunjukkan pukul 20.10 dan itu adalah waktunya Lira pergi ke kegiatan NR.
“Ma, Pa! Lira izin pergi ya,” ucap Lira ketika orang tuanya sedang menonton TV.
“Ke mana?” Tanya Pak Adi.
“NR, Pa. Sama Aiden dan Sinta, yang lain juga.”
“Pulang dianter Aiden kan?” Tanya Bu Kanya.
“Iya, Ma. Ini Aiden juga udah di depan mau berangkat bareng.”
Setelah berpamitan, Lira mengambil motor ninjanya dan helm di garasi. Ia menghampiri Aiden yang berada di luar pagar rumah lalu mereka berangkat berdua. Untuk menuju ke markas, mereka memerlukan waktu kurang lebih tiga puluh menit.
Hingga lamanya waktu berjalan, akhirnya Lira dan Aiden sampai. Ternyata Sinta sudah lebih dulu berada di sana bersama temannya yang lain.
“Nah dateng juga nih, bilangin gue jangan ngaret tapi dia yang ngaret!” Ucap Sinta.
“Hehe, tau sendiri lah, Sin,” jawan Lira.
“Masih ada yang ditunggu? Kalo ngga, gas aja jalan sekarang,” ucap Aiden kepada teman yang lain.
“Kaga ada, ayolah jalan. Rute ke mana?” jawab salah satu teman mereka.
“Rute beda aja, lewat Gedung Jata, terus baru rute yang biasa.”
__ADS_1
“Nah setuju, gas lah sekarang!”
Saat itu kurang lebih ada lima belas orang yang membawa motornya masing-masing, mereka semua menyalakan motor dan suara derungan knalpot pun meramaikan markas mereka. Yang memimpin komunitas itu adalah Aiden, ia yang paling di depan sekali lalu Lira dan Sinta di belakangnya, diikuti oleh yang lain.
[INDAR POV]
“Dav, ayo cepat!”
“Sabar, Kak,” jawab Davin tergesa-gesa.
Saat itu Indar dan Davin sudah selesai bekerja dan hendak pulang dari kantor. Namun mereka berniat untuk mampir ke restoran dekat situ karena sudah sangat lapar dan tidak kuat jika harus makan di rumah sebab perjalanan ke rumah memakan waktu yang cukup panjang.
Setelah mereka berada di mobil masing-masing, Indar yang memimpin perjalanan mereka, otomatis mobil Davin berada di belakang mobil Indar. Mereka berdua memang sangat jarang berada di satu mobil karena keduanya sama-sama hobi mengendarai mobil dan tidak mau jika mobil milik mereka tidak dibawa.
Tapi mereka masih tetap bisa mengobrol dan berkomunikasi dengan leluasa karena ada sambungan jaringan komunikasi antara mobil Indar dan Davin yang otomatis tersambung jika mereka menyalakan fiturnya.
“Restorannya berapa meter lagi?” Tanya Indar.
“Sekitar lima ratus meter, bentar lagi sih.”
Setelah melawan kemacetan arus kota, akhirnya Indar dan Davin sampai di restoran yang selama ini diidamkan oleh Davin. Ia sudah lama mengajak Indar ke sana namun selalu ditolak karena alasan sibuk dengan pekerjaan.
“Rame, ini restoran atau kafe?” Tanya Indar saat mereka sudah turun dari mobil masing-masing.
“Tuh baca! Lanimula Resto!” Ucap Davin membaca nama restoran tersebut.
__ADS_1
Indar hanya mengabaikannya, mereka masuk ke dalam restoran itu lalu dengan segera para pelayan pun datang untuk mencatat pesanan. Setelah Indar dan Davin memesan makanan, mereka menunggu sambil bermain ponsel masing-masing tanpa ada obrolan.
Namun setelah agak lama, Davin menyadari suara yang sangat berisik. Suara knalpot motor yang ia ketahui jenisnya karena Davin juga suka mengoleksi motor.
“Wih, ZX!” Ucap Davin.
Indar masih tetap mengacuhkannya karena ia sibuk dengan ponselnya sendiri.
“Wah! Kak, liat! Rombongan geng motor tuh! ZX lagi, mau join ah!” Ucap Davin dengan semangat yang penuh.
“Jangan coba-coba gabung dengan anak brandalan, ingat tujuan utama kita ke sini,” tegas Indar.
Indar sangat tidak menyukai dengan anak motor karena dia menganggap bahwa komunitas seperti itu hanya merugikan masyarakat, seperti suara knalpot yang berisik dan anggota yang terlalu ramai hingga menyebabkan kemacetan.
“Yaelah, ga asik lo!” Ucap Davin.
Davin terus memperhatikan rombongan komunitas motor tersebut di parkiran hingga mereka masuk ke dalam restoran. Ia melihat satu persatu anggotanya, dan.. Ia tertegun menatap seorang perempuan yang dikenalinya. Lira!
“Kak! Liat! Liat dulu penting!”
“Davin saya sedang sibuk, tolong diam!”
“Lira! Itu Lira kan, Kak?”
Indar menatap Davin dengan tajam, lalu ia mengikuti arah mata Davin dan ia juga menatap sosok perempuan yang sama. Namun beberapa detik setelah itu pandangan Indar beralih ke seorang laki-laki, yaitu Aiden.
__ADS_1
“Brengsek!” Ucap Indar lalu mengepalkan tangannya dan berdiri hendak menghampiri mereka.
“Eh, woi! Jangan dulu bego!” Tegas Davin ingin menghalangi Indar.