
Di sisi lain, di rumah Pak Adi kini kedatangan seorang laki-laki yang sangat dikenali oleh Pak Adi dan Bu Kanya.
“Pagi, Ma, Pa!”
“Pagi juga, Indar. Kamu sendirian?” Jawab Bu Kanya.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu, dengan minuman dan beberapa cemilan yang sudah disuguhi oleh ART Bu Kanya.
“Iya, Ma. Indar sendirian,” jawab Indar.
“Jadi, kamu ada perlu apa ke sini, Indar?” Tanya Papa dengan nada yang kurang ramah.
“Pa, sebelumnya Indar minta maaf. Tapi Indar mau minta izin untuk mendekati Lira secara pelan-pelan, Indar—”
“Tidak bisa. Saya tidak mau anak saya menjadi trauma,” potong Pak Adi.
“Pa, tolong izinkan. Indar janji untuk selalu menjaga dan mengawasi Lira,” mohon Indar.
“Dulu kamu juga berjanji seperti itu, tapi apa? Lira justru terluka parah!” Imbuh Pak Adi.
Melihat suasana yang semakin tegang, Bu Kanya berinisiatif untuk memotong pembicaraan mereka.
“Sudah, sudah! Pa, izinkan saja Indar untuk mendekati Lira. Toh kejadiannya sudah lama dan Lira pasti senang kalau bisa mengingat Indar lagi!” Ucap Bu Kanya.
“Tidak bisa, Ma! Kan Ma—”
“Bisa, Pa! Biarkan Indar dan Lira kembali dekat seperti dulu. Kejadian di masa lalu itu bukan kesalahan Indar, tapi kesalahan kita sebagai orang tua yang tidak memperhatikan anak dengan benar!” Potong Bu Kanya.
Setelah hening beberapa detik, Pak Adi memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh istrinya. Memang benar adanya, tapi ia tak rela kalau Lira akan mengalami sakit lagi dikarenakan mengingat kejadian yang sudah lalu.
“Ya sudah, saya berikan kamu kesempatan,” ucap Pak Adi akhirnya.
Indar tersenyum senang, “Terima kasih banyak, Pa, Ma!”
Bu Kanya mengangguk, “Jaga betul-betul ya anak Mama, jangan kamu lukai!”
__ADS_1
“Siap! Akan Indar buktikan, Ma!”
Setelah beberapa lama mengobrol lagi, akhirnya Indar berpamitan dengan orang tua Lira. Kini ia mengendarai mobilnya menuju ke toko kue Lira, ia berniat untuk memunculkan dirinya lebih sering agar nanti Lira tidak terkejut.
Ketika Indar sampai di toko kue Lira, ia melihat seorang pegawai laki-laki yang juga menatapnya setelah Indar keluar dari mobil.
“Aiden,” gumamnya pada diri sendiri.
Indar berjalan memasuki toko kue tersebut, mengacuhkan Aiden yang sedang mengantarkan pesanan kepada ojek online.
[LIRA POV]
“Sampai bertemu kembali!” ucap Lira setelah ia memberikan bingkisan yang dipesan oleh salah satu pembeli.
Setelah itu ia melihat seorang laki-laki tampan dan bertubuh tinggi, lebih tinggi sekitar sepuluh cm darinya. Laki-laki itu berjalan menuju arahnya.
“Permisi,”
“Silahkan, mau pesan apa, Pak?” ucap Lira tak lupa dengan senyuman manisnya.
“Baiklah, atas nama siapa?” tanya Lira.
“Indar.”
Lira terdiam sejenak, kemudian ia mengangguk dan tersenyum lalu memberikan nomor antrian kepada Indar.
“Indar.. Hm, Indar?” gumam Lira setelah laki-laki itu duduk tak jauh dari pandangannya.
[INDAR POV]
Indar duduk di kursi yang dikhususkan untuk pelanggan take away, dia memperhatikan Lira yang sibuk dengan pelanggan, namun tak lama setelah ia duduk seorang laki-laki yang dibencinya datang menghampiri.
“Kenal gue kan?”
Indar menatap laki-laki itu lalu berdiri hingga kini mereka saling berhadapan.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya Indar.
“Mau apa ke sini? Kalo sampe orang tua Lira tau, lo bisa abis.”
“Aiden.. Aiden.. Saya ke sini atas perintah dan izin dari orang tua Lira, apa hak kamu?” imbuh Indar.
“Pembohong, lo mau Lira sakit dan inget sama kejadian sebelas tahun lalu?” Tuding Aiden.
Indar mendorong bahu Aiden dengan cukup keras hingga mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana termasuk Lira.
“Kamu ini hanya orang baru di kehidupan dia, jangan pernah mengatur kehidupan calon istri saya!” Tegas Indar dengan tatapan tajam dan beringas.
Lira yang menyadari pertengkaran itu, segera menghampiri mereka dan memberikan pesanan Indar.
“Pak, maaf. Ini pesanan anda,” ucap Lira menyodorkan bingkisan.
Indar mengambil bingkisan tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada Lira kemudian ia pergi meninggalkan toko itu.
“Den, siapa?” Tanya Lira kepada Aiden.
Aiden menarik lengan Lira dan membawanya ke ruang kerja Lira, ia ingin mengobrolkan sesuatu tanpa didengar oleh banyak orang.
“Ra, kalo lo liat cowo tadi di manapun itu, tolong lo hindarin!” Ucap Aiden.
“Ya kenapa? Dia siapa? Aku aja ga kenal,” jawab Lira bingung.
Aiden mengelus kepala Lira dengan sangat lembut, ia meraih tubuh Lira dan memeluknya dengan sangat erat hingga Lira kesulitan bernapas.
“Den.. Ih, lepas!”
Namun Aiden masih terus memeluk Lira hingga agak lama, ia melepaskan pelukan tersebut.
“Sorry, Ra. Gue balik kerja dulu.”
Aiden meninggalkan Lira yang sangat kebingungan, ia menganggap mungkin Aiden khawatir jika Lira diculik oleh pria asing.
__ADS_1
“Haduh, dasar Aiden!”