
...(Teman-teman disini karakter namanya berubah ya..)...
.
.
Charlotte Anderson menatap Emily Aitken dengan mata sinis sambil tangannya mengepal ujung jarinya yang tajam mencubit telapak tangannya dengan keras, mengkhawatirkan situasi saat ini dan dia tidak bisa mengucapkan kata-kata apa pun.
Saingan cinta bertemu dan dia cemburu.
"Siapa kamu? Siapa yang mengizinkanmu datang ke sini?" Charlotte Anderson menatapi Emily Aitken bagaikan wanita simpanan George.
"Aku yang mengizinkannya!" Ucap George Smith secara tegas. Dia tahu bahwa dia harus bermain sandiwara dan berdiri sambil menatapnya dingin dengan tangan di saku.
Charlotte Anderson terdesak, ia merubah ekspresinya menjadi cemberut dan sedih. Berbalik dan berlari ke arah George Smith, memeluk sedikit lengannya, dan berkata genit "George.. dia orang asing, bagaimana Anda bisa membiarkan dia mendekati nenek?".
"Apakah anda Ms. Anderson?, saya sangat berterima kasih karena Anda tidak menghargainya. Anda telah mengirimkan George kepada saya!" Emily Aitken sudah lama mengingat asal muasal wanita di hadapannya. Bahwa dia yang sebelumnya pernah ditangkap berselingkuh oleh George Smith tunangannya di tempat tidur.
Dengan senyuman di wajahnya, dia berjalan cepat ke sisi George Smith dan tanpa basa-basi mengulurkan tangannya untuk membelai tangan Charlotte Anderson yang menggandeng George Smith dengan sedikit sumpah kedaulatan.
Wajah Charlotte Anderson terlihat sangat
marah dan kesal, "Kamu kodok yang ingin makan daging angsa! George, dia ini tidak masuk akalkan?"
"Apa yang dia katakan itu benar" Mulut George Smith bergerak sedikit dan dia dengan jelas merasakan lengannya menegang. Baru dia tahu bahwa wanita di sebelahnya adalah seekor macan. Dia akan ketakutan saat dia terlihat sangat kuat.
Tetapi, jika dibandingkan dengan Charlotte
Anderson dia lebih suka berada di sisi Emily Aitken.
Mengambil kesempatan untuk menemaninya bersandiwara, George Smith mengulurkan tangan
dan menepuk punggung tangannya untuk menunjukkan kenyamanannya. Tatapan matanya yang penuh kasih sayang dan dia juga menatapnya dengan ekspresi yang penuh kasih sayang.
Seakan pasokan udara hampir habis yang membuat Emily Aitken tertegun, dia tenggelam dalam tatapan seorang George Smith.
__ADS_1
Dia tanpa sadar langsung membuang muka.
George Smith pun tersenyum sangat lebar.
"Nek...! Lihatlah George, aku tahu dia marah padaku.Tapi,tidak perlu ia menemukan seorang wanita yang membuatku kesal!" Charlotte Anderson berbalik ke ranjang Rumah Sakit dan meraih tangan Nenek Smith, lalu ia menangis karena kesal..
"George, kenapa kamu menemui nenekmu dan tidak memberitahuku? Kupikir kamu sibuk hari ini dan tidak punya waktu luang" Emily Aitken menatap George Smith dengan ekspresi kesal dan sedikit mengeluh.
Tetapi ketika orang lain melihatnya, mereka hanya merasa bahwa mereka sedang saling menggoda.
Melihat tidak ada yang memperdulikannya Charlotte Anderson menunjukkan pandangan sedihnya lalu bangkit dan berjalan keluar dengan marah.
Ketika dia sampai di pintu iapun berhenti dan tiba-tiba menoleh lalu menatap Emily Aitken dengan pandangan iri.
"Bang...!"
Terdengar suara yang keras dari arah pintu.
Emily Aitken tercengang dan tubuhnya sangat gemetar. Dia melihat ke pintu dengan ekspresi ketakutan seperti anak rusa. Kelima jarinya mengepal kuat tanpa sadar, lalu dia menghela napas panjang dan berinisiatif melepaskan tangannya dari lengan George Smith.
Karena merasa malu, dia berjalan cepat ke sisi ranjang rumah sakit menemani Nenek Smith, kemudian melirik ke arah George Smith mengisyaratkan bahwa tidak terjadi apa-apa.
"Aku? Aku baru pertama kali melihatnya terjerat-jerat, jadi aku berjalan keluar untuk membelanya." Emily Aitken menjelaskan dengan suara rendah.
Nenek Smith tidak menganggapnya serius dan berkata dengan penuh arti, "Tidak apa-apa jika melakukan sesuatu yang pura-pura."
Dengan adanya Emily Aitken bersamanya, Nenek Smith tidak peduli lagi pada George Smith. Ia mengulurkan tangannya dan berkata dengan pelan, "Sana pergi! dengan adanya Emily sudah cukup untuk menemaniku."
Setelah George Smith pergi, Emily Aitken dan Nenek Smith melakukan percakapan yang sangat menyenangkan.
Terutama Nenek Smith yang menanyakan tentang keadaan keluarga Emily Aitken. Semakin dia bertanya, semakin dia menyukainya dan matanya penuh dengan kekaguman.
Meskipun mempunyai dua rumah tangga yang gagal, dia hanya ingin mempunyai cucu dan menantu yang jujur dan dapat di andalkan untuk cicitnya kelak.
Dia tidak seperti Charlotte Anderson.
__ADS_1
Agar tidak menunggunya pergi, George akan sendirian.
Selama dia memikirkan adegan ini, dia merasa tertekan dan rasanya sulit untuk bisa bernapas.
Jika bukan karena dia yang memiliki latar belakang nilai keluarga Anderson dan kondisi George, bagaimana dia bisa menyerah pada keluarga Anderson?.
Jejak rasa bersalah melintas di mata Nenek Smith, itu semua karena dia.
Dia berusaha dengan cepat menenangkan emosinya. Dia tersenyum dan menatap Emily Aitken dengan ramah.
Setelah mengobrol sebentar, Emily Aitken melihat Nenek Smith terlihat lelah dan membantunya berbaring dengan sangat hati-hati, "Nenek, sekarang beristirahatlah"
"Tidak apa-apa, aku tidak mengantuk" Nenek Smith mengikuti Emily Aitken dan perlahan-lahan berbaring di ranjang rumah sakit, akan tetapi genggaman tangannya begitu erat seakan menolak untuk beristirahat.
"Lebih banyak istirahat baik untuk kesehatanmu. Tidurlah dengan nyenyak, aku akan datang menemui mu kembali nanti" Emily Aitken juga tidak terburu-buru, ia menepuk-nepuk punggung tangan Nenek Smith dan menenangkan dia dengan lembut.
Dengan sabar Emily Aitken menunggu Nenek Smith agar tertidur lelap. Sebelum berdiri dia juga tak lupa menutupi tubuh Nenek Smith dengan selimut, mematikan lampu dan pergi.
Setelah naik lift ke lantai dua, Emily Aitken datang ke ruangan dimana ibunya yang sedang dirawat. Setelah berada di depan ia sedikit mendorong pintu masuk.
Saya terkejut saat mengetahui bahwa tidak
ada seorang pun yang ada di bangsal.
Dia berdiri di ambang pintu dengan wajah yang bingung. Ibunya, tidak ada di tempat tidur dan tak ada satupun perawat disana. Dalam pikirannya, penuh tanya kemana ibunya? Tidak mungkin menghilang begitu saja.
Hari semakin malam dan selain itu keadaan ibu Aitken yang belum bisa membuka mata membuat Emily Aitken merasakan cemas pada ibunya.
Emily Aitken mengeluarkan ponselnya dan ia langsung menghubungi perawat. Ponselnya dimatikan.
Rasa cemasnya semakin parah.
Emily Aitken buru-buru berbalik dan bergegas ke ruangan perawat yang berada di tengah koridor.
"Halo! Bagaimana dengan pasien 2307? Dan perawatnya pun tidak ada!" Emily Aitken berdiri di meja ruang perawat, ia tampak cemas sambil memandang perawat di dalam, dengan penuh kegelisahan.
__ADS_1
Karena ancaman Arthur Wilson lah dia secara khusus meminta seorang perawat untuk berada di sisi ibunya tetapi sekarang bahkan perawat itu ikut menghilang.
Jelas ini adalah suatu kejanggalan!