Persembahan Terakhir

Persembahan Terakhir
Terikat dengan Neraka


__ADS_3

Cahaya mentari belum kembali dari tempat persinggahannya. Langit masih gelap gulita. Suasana malam yang biasanya terasa mendamaikan bagi seorang gadis remaja, kini tak lagi demikian. Mimpi buruknya, seolah-olah telah melenyapkan segenap keberanian miliknya untuk melawan kejeriannya.


Di dalam sebuah rumah yang sederhana, seorang gadis tengah mencuci mukanya. Dengan wajah yang pucat dan keringat yang bercucuran, ia tampak ketakutan. Air mukanya pun menggambarkan kecemasan. Dengan gemetaran, tangannya pun menutup keran.


"Bertahun-tahun setelah kepergian Ayah, mimpi menyeramkan itu balik dan menghantuiku lagi. Sebenarnya kenapa, sih?" Gadis yang bernama Renjana Savita itu, mengacak rambutnya sambil menggeram dengan frustrasi.


"Jangan bilang kalau ini pertanda, bahwa aku sungguh terikat dengan neraka," lirih Renjana, sambil bergidik ngeri. Dengan kesusahan, ia pun meneguk salivanya sendiri.


Renjana beranjak. Dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi oleh beberapa lilin, gadis tersebut pun melangkah menuju meja makan yang letaknya sejajar dan hanya berjarak dua sampai tiga meter dari pintu masuk kediamannya. Kemudian, ia menarik kursi dan mendudukkan diri di atasnya.


Renjana mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air. Dengan perlahan, ia pun meneguk minumannya. Namun, karena badannya yang masih menggeligis, cawan yang dipegangnya pun justru terjatuh hingga menghasilkan bunyi yang menggema akibat kesunyian yang sebelumnya mendominasi.


'PRANG!'


Renjana tersentak, lalu meringis. Ia menunduk ke bawah, ingin memunguti pecahan gelas kesayangannya yang merupakan peninggalan dari bibinya—adik ibunya—sebelum menghilang, lalu ditemukan meninggal dengan kondisi yang amat mengenaskan.


"Ana? Sedang apa malam-malam begini, Nak?"


"Ah, Bunda! Ana haus, nih—jadi mau minum. Tapi gelasnya malah jatuh, terus pecah. Padahal, itu kan gelas kesayangan Ana—peninggalan Tante Dirandra," keluh Renjana. Gadis tersebut mengembuskan napasnya dengan panjang, menyesal atas keteledorannya.


Di sisi lain, sang ibu yang sebelumnya berpijak di depan pintu biliknya pun beralih ke sudut ruangan, ingin menghidupkan lampu yang dimatikan. Namun sang putri, malah menghentikan.

__ADS_1


"Enggak perlu, Bunda ...! Ana 'udah mau selesai, kok, ini ...," jelas Renjana. "Mending, Bunda balik tidur aja," sambungnya.


"Tapi ingat, jangan tunda-tunda tidurnya biar di sekolah nanti gak 'ngantuk dan ganggu pelajaran," tuturnya, menasihati sang putri.


Gadis berambut sebahu itu pun hanya tersenyum, lalu menyelipkan surainya ke belakang telinga. Tentu, ia pun amat memahami maksud bundanya. Sebagai siswi yang mengandalkan beasiswa, ia harus selalu menjaga sikap dan prestasinya. Karena itulah, selama ini, ia selalu berhati-hati dengan tak ingin membuat masalah dengan siswa-siswa lainnya.


"Ah!" Renjana meringis pelan. Pecahan beling telah menggores jarinya hingga terluka. Meski sebenarnya tak begitu sakit, namun secara spontan, sistem tubuhnya memberi refleks demikian. 'Dasar ceroboh!' katanya, kepada diri sendiri.


"Dari tadi, aku merasa lagi diawasi," bisiknya, dengan bulu kuduk yang meremang.


Dengan waswas, Renjana pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Akan tetapi, ia tak bisa menemukan hal apa pun yang mampu mendukung over thinking-nya. Pada akhirnya, perempuan tersebut pun memutuskan untuk mengesampingkan perasaannya saja.


Setelah berhasil membersihkan pecahan gelasnya dengan lebih berhati-hati, Renjana pun segera beranjak ke kamarnya, seusai membilas lukanya dengan air mengalir.


'Ayo, Renjana ..., tidur! Jangan 'mikir, jangan 'mikir! Ayo kosongkan pikiran—kosongkan pikiran!'


Renjana berbaring telungkup. Mengingat bunga tidurnya yang mengerikan, ia pun jadi mengalami delusi aneh. Dalam bayangannya, jika ia menghadap ke atas, maka, tiba-tiba saja ada iblis yang akan muncul dan mengagetkannya.


Renjana tenggelam dalam kesunyian dengan isi kepala yang tercerai-berai. Tanpa sadar, tindakannya itu berhasil membuat senang sesosok makhluk di kegelapan yang tengah menyorotnya dengan pandangan tajam.


"Sungguh senang bisa membuat anak Adam ini menderita," kata makhluk yang berwujud mengerikan tersebut. Suaranya terdengar mengerikan—sangat serak dan benar-benar tak enak didengar.

__ADS_1


"Sebentar lagi saatnya," lirihnya, sambil menyeringai. Sosok yang ternyata merupakan iblis itu, sejak malam mulai melintang, sebenarnya telah mengamati gadis yang akan menjadi tumbalnya tersebut. Dalam kelam, ia telah mengintai.


"Tak ada manusia yang bila melepaskan dirinya ikatan neraka dan jerat iblis. HA HA HA!" Sang iblis terbahak, lalu menghilang dan meninggalkan Renjana di dalam ketakutan yang mendalam.


...««« BEBERAPA JAM KEMUDIAN »»»...


"TELAT! BUNDA, ANA PAMIT!" Renjana berseru sambil mengambil tangan bundanya untuk bersalaman. Tangan kirinya memegang sekotak bekal yang khusus disiapkan sang ibu untuk putrinya yang bangun kesiangan hingga tak sempat untuk sarapan.


Sebenarnya, sejak jam lima pagi, Dhivya sudah berusaha membangunkan Renjana. Setelah yakin anak semata wayangnya itu telah bangun, ia pun pergi ke pasar untuk berbelanja. Sayangnya, ia tak menduga kalau putrinya itu, akan tertidur kembali setelahnya.


Saking mengantuknya, Renjana tak sengaja membiarkan dirinya kehilangan kesadarannya kembali. Ibunya baru pulang jam enam lebih seperempat dalam waktu Indonesia Bagian Barat. Setelah dibangunkan untuk yang kedua kali, Renjana terkejut dan langsung bersiap-siap. Lalu, beginilah akhirnya sekarang.


"Jangan sampai 'ngebut, Ana ...!" Tak lupa, sebelum sang anak benar-benar beranjak, Dhivya pun memberikan petuahnya. Renjana pun mencoba mengingat itu. Meski pada akhirnya, tetap saja, ketika mengendarai motornya, remaja tersebut malah melaju dengan cepat, sejalan dengan kata hati dan pacuan adrenalinnya.


Beruntungnya, walaupun jalanan lumayan macet, Renjana berhasil sampai ke sekolahnya dengan selamat dan tepat waktu. Tepat waktu yang dimaksud di sini, artinya, usai memarkirkan kendaraan roda duanya di tempat penitipan khusus, ia memasuki area sekolah, bertepatan dengan masa berbunyinya bel dimulainya kegiatan belajar dan mengajar.


Tak sampai tiga detik setelah masuknya Renjana, gerbang pun ditutup. Gadis tersebut merasa lega. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan menuju lapangan indoor. Ada kegiatan apel pada pagi hari itu. Murid yang terlambat datang, biasanya akan disuruh berdiri di depan sebagai bentuk hukuman atas ketidakdisiplinan. Sebagai murid teladan, tentu, itu akan menjadi hal yang amat memalukan bagi seorang Renjana Savita.


Hari ini, Renjana kembali beruntung, karena ia cukup cepat sampai di lapangan, yang di sana sudah terbentuk sekitar 20 barisan ke belakang. Akan tetapi, sebelum berhasil bergabung secara acak—karena ia memang tak memiliki teman sebagai komplotannya—seseorang malah menariknya.


Sontak, Renjana mengerutkan keningnya. Ia memang mengenal sosok pemuda bertubuh jangkung itu, namun jelas, untuk sekadar menyapa saja, mereka tak pernah melakukannya. Yang mengherankan, remaja laki-laki itu, kini justru menariknya ke tempat yang tidak ramai, seolah ia ingin membicarakan suatu hal penting yang tak boleh didengar oleh orang lain.

__ADS_1


"Lo ... 'udah terikat sama neraka."


Pernyataan tiba-tiba itu, tentu saja mengejutkan Renjana. Apa maksudnya? Ia ... terikat dengan neraka?


__ADS_2