Persembahan Terakhir

Persembahan Terakhir
Ahengkara


__ADS_3

Kelam tengah menyelimuti dirgantara; sedang angin pun tengah berembus kencang dari luar sana. Nyanyian burung malam, terdengar seperti senandung yang mengerikan.


Dengan berhati-hati, seorang pria berjalan sendirian dalam gelapnya lorong yang licin nan panjang. Sebuah lilin ia jadikan sebagai penerang yang akan memandunya hingga sampai ke tempat tujuan. Wajahnya yang tak termakan usia pun, tampak penuh ketegangan.


Ia menghentikan langkahnya di hadapan sebuah batu yang menghalangi jalannya. Sebuah pola aneh yang berwarna merah gelap terlukis di sana. Di bawahnya pun terdapat aksara 'AHENGKARA' yang merupakan bahasa sanskerta yang memiliki arti n^fsu jahat atau durhaka.


Dengan terburu-buru, kemudian, lelaki tadi melukai tangan kanannya, lalu menebali pola barusan dengan tangan kirinya. Tubuhnya gemetaran mengingat sesuatu yang tengah menanti di balik sana.


Ia geser batu besar tersebut, hingga tampaklah sebuah ruangan minimalis beraura suram. Hanya sembilan lilin dan empat oborlah yang menjadi penyinar di sana.


Di dalam ruangan, udara terasa hangat, namun hawanya amat mencekam. Sang pria pun berjalan menuju pusat ruangan.


Ia berdiri di atas sebuah pola yang tampak mirip dengan pola di batu tadi. Dipandanginya pijakannya itu dengan dalam, lalu, dengan tubuhnya yang tak stabil, ia pun terduduk.


Di hadapannya, terdapat sebuah meja kecil yang juga terbuat dari batu. Di atasnya, sebuah mangkuk emas dengan ukiran-ukiran aneh telah hampir dipenuhi oleh cairan merah gelap beraroma amis.


Lelaki tersebut pun, dengan perlahan meletakkan lilinnya di samping wadah. Ia memejamkan kedua netra, lalu merapal dengan suara yang dalam.


"Ahengkara—wahai iblis kesesatan. Engkau penjaga neraka. Jeratlah aku, namun berilah aku harta dan kekuasaan. Maka kita telah terikat dalam sebuah perjanjian sesat. Tenggelam bersama dalam kekelaman. Kini, aku memanggilmu. Wahai iblis sesembahanku, datanglah ...! Hambamu ini telah membawa kudapan."


Lelaki yang tengah duduk dalam posisi teratai itu pun hanyut dalam kesunyian setelah rapalannya terusaikan. Namun tak lama, sebuah cahaya aneh memasuki badannya. Ia tersentak, lalu membuka mata.


"HA HA HA!" Tawanya terdengar keras dan mengerikan. Tatapannya yang tajam, tersorot ke semangkuk cairan merah gelap yang ternyata adalah darah. Ia, lalu meminumnya dengan tergesa-gesa.


Darah tersebut bercipratan—mengenai meja dan mukanya. Ketika cairan tersebut tak lagi bisa diminumnya, maka ia menjilatinya—di meja batu, lantai, tangan, busana, bahkan wajahnya sendiri.


Lidahnya memanjang mengerikan—tampak seperti lidah ular. Matanya menghitam seluruhnya. Gigi-giginya pun meruncing.

__ADS_1


"Manusia bodoh!" umpatnya, dengan suara dalam yang terdengar serak. "AHENGKARA INI MAU LAGI!" teriaknya. Ia menggebrak meja. Tubuhnya, lalu tersentak dan sebuah cahaya aneh keluar dari sana.


"Yang Mulia ...!" katanya. Ia menatap sosok aneh yang muncul di pandangannya.


"Leonard Gavril, BERIKAN AKU LAGI! AKU MAU DARAH! AKU MAU MANUSIA! BERIKAN AKU TUMBAL!" Sosok itu berteriak marah. Kuku-kuku hitam nan panjang tersebut, kemudian mencengkeram kuat leher si pria yang dipanggil Leonard Gavril olehnya itu.


"Tapi, Yang Mulia ..., hamba sudah memberikan tiga belas tumbal di bulan ini. Bukankah itu yang Yang Mulia minta dalam perjanjian kita?"


"LANCANG! DASAR MANUSIA TIDAK BERGUNA! BERIKAN AKU TUMBAL, ATAU KUAMBIL SELURUH KEKAYAAN YANG KAUMILIKI! AYO, BERSUJUD DI HADAPAN TUHANMU INI!"


Leonard tersentak, lalu segera mematuhi perintah sosok mengerikan itu. Ia bersujud, bahkan mencium kaki yang tampak menjijikkan itu. "Ahengkara, Tuhanku ...!" lirihnya.


"Tumbal seperti apa yang Yang Mulia mau dari hamba?" tanya Leonard, yang masih bersujud itu.


"Putrimu, aku mau putrimu!" ucap Ahengkara.


"Hamba akan memberikan yang lain. Hamba akan memberikan seribu tumbal—tapi tolong jangan putri hamba!" Suaranya bergetar. Ia ketakutan. Air matanya menetes keluar.


Ahengkara menatap Leonard dengan jijik. Ia benci manusia. Ia benci perasaan manusia. Ia membenci air mata manusia yang keluar dari hati terdalamnya.


Ahengkara yang murka, kemudian menendang Leonard. Lelaki itu terpental jauh. Tubuhnya menabrak dinding. Kepalanya terbentur keras hingga mengeluarkan banyak cairan yang bukannya berwarna merah, justru berwarna kehitaman.


"Nyawa putrimu atau nyawamu," katanya, dengan gaya yang angkuh. Tubuhnya, kemudian lenyap begitu saja dan meninggalkan sosok Leonard yang tenggelam dalam kegamangannya. Luka di kepalanya yang seperti bocor, justru tak terasa.


"Hamba akan mendatanginya segera. Tapi tolong beri hamba waktu," ujar Leonard, pada ruang di hadapannya yang tampak kosong.


Dengan badannya yang terus berguncang, Leonard pun, kemudian bangkit dari posisinya. Lukanya yang masih baru itu, mengeluarkan darah yang mengalir sampai ke lehernya, lalu mengotori kemejanya yang berwarna biru cerah.

__ADS_1


Leonard bersandar pada dinding dan memejamkan matanya. Tangannya merogoh saku celana. Ia mengambilnya ponsel pintarnya, kemudian mendial nomor telepon seseorang.


"Bos?"


"Jemput aku! Ahengkara mengamuk dan melukaiku."


"Apa dia tak menyembuhkan Bos seperti biasanya?"


"Dia sangat marah. Mungkin, dia melakukan ini untuk menghukumku."


"Aku akan segera ke sana."


"Cepatlah, sebelum aku kehabisan banyak darah."


Leonard menutup sambungan teleponnya, lalu menarik napas panjang. Kepalanya terasa pusing, hingga pandangannya pun mengabur. Matanya yang memerah, tanpa sadar mengeluarkan cairan bening.


"Apa aku harus benar-benar menumbalkan putriku?" lirihnya. Tangannya terkepal kuat. "Maafkan aku ...! Maafkan aku ...! Renjana, Dhivya—maafkan aku ...! Maaf karena kalian harus menjadi korban dari keserakahanku."


Leonard menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku pikir, semua akan baik-baik saja setelah aku meninggalkan kalian—tapi ternyata, dia masih masih menginginkan Renjana. Padahal ...—ampuni aku ..., ampuni aku, Dhivya ...! Aku tak ingin mengorbankan putri kita kepada Ahengkara—tapi ..., dia bisa mengambil alih tubuhku secara paksa."


"Aku pikir, kita bertiga bisa hidup bahagia dengan kekayaan yang kita miliki, meski aku harus bersekutu dengan iblis. Tapi ternyata ...." Leonard menangis tersedu-sedu, menyesali segala perbuatan kotornya. Namun semua itu, rasanya tak ada gunanya, sebab Ahengkara telah memberikan harta, kekuatan, dan kekuasaan—namun, itu didapatkannya dengan mengorbankan cinta yang bisa memberinya kebahagiaan.


"Aku menyayangi kalian. Tapi ..., mungkin waktuku sudah tidak lama lagi, karena Ahengkara, bukannya mustahil akan segera mengambil alih tubuhku secara penuh. Kesadaranku ini, bahkan separuh miliknya. Aku tak bisa berbuat apa-apa."


Leonard bisa merasakan kepalanya yang semakin berdenyut nyeri, meski pada awalnya, ia tak bisa merasakan sakitnya. Perlahan, pandangannya pun mengabur. Ia jatuh dalam kondisi yang mengenaskan.


Tak lama, pintu terbuka—menampakkan seorang pria yang terlihat seusia dengan sosok Leonard Gavril. Air muka sang pria, menyiratkan kekhawatiran yang begitu mendalam. Dengan tergopoh-gopoh, kemudian, ia menghampiri seorang yang telah tumbang itu.

__ADS_1


"Ahengkara—iblis itu benar-benar marah," lirihnya, dengan tubuh yang bergidik. Ia pun beranjak keluar dengan menggendong tubuh bosnya,


__ADS_2