Persembahan Terakhir

Persembahan Terakhir
Rekan


__ADS_3

"M—maksudnya?"


Renjana tertegun melihat tatapan tajam sang pemuda yang tertuju ke arahnya. Bulu kuduknya meremang. Sungguh, ia tak nyaman berada di situasi seperti sekarang.


"Sagara Aksara? Gue lagi tanya apa maksud pernyataan lo tadi," tegas Renjana. Gadis itu mengepalkan tangannya dengan erat. Tatapannya menajam.


Walau apa yang dikatakan oleh Sagara memang sesuai dengan mimpinya, namun tetap saja ia tak terima. Jerat iblis dan terikat dengan neraka, tentu bukanlah hal yang bisa diterima akal sehat Renjana.


"Gue gak tau kenapa lo tiba-tiba bisa ada di penglihatan gue. Yang jelas, biasanya, gue gak akan mau repot-repot 'ngurus masalah orang yang enggak penting di hidup gue kayak lo." Sagara menyugar surainya, lalu menyorot Renjana dengan dalam.


"Gue enggak 'ngerti lo omong apa," tukas Renjana. Ia mendengus sebal dengan tatapan mendakwa ke sang pemuda yang berkulit pucat itu.


"Gue mau bantu lo buat lepas dari jerat iblis, supaya lo gak terikat lagi sama neraka," jelas Sagara. Ia melipat tangannya di depan dada, memandang Renjana dengan dingin.


"Gak jelas!" Renjana memalingkan mukanya, ingin beranjak pergi. Sagara yang tak terima dengan itu pun mencoba menghentikannya. Ia menarik gadis tersebut hingga keduanya jatuh bersama.


"Mau lo apa, sih?!" bentak Renjana. Dengan dada yang naik turun, ia pun bangkit dan menggeletukkan gigi-giginya.


"Gue ngomong baik-baik lo, tapi lo malah mau pergi gitu aja," keluh Sagara, dengan nada datar. Kedua alis yang berkerut, memberi kesan serius di wajah rupawannya.


"Gue gak 'ngerti apa maksud lo, Gara!"


Sekelebat, ekspresi Sagara pun tampak terkejut. Akan tetapi, Renjana tak menyadari itu. Gadis tersebut memalingkan mukanya ke banner sekolahnya, merasa benda itu, jauh lebih menarik dari sosok lawan bicaranya.


"Lo suka sama Sky Gumelar?" tanya Sagara, dengan ekspresi yang sulit diartikan.

__ADS_1


Renjana Savita pun hanya menggeleng dengan cuek, meski sebenarnya ia mengerti, bahwa Sagara bertingkah demikian, karena ia tak suka jika teman mengobrolnya itu, malah menatap ke arah spanduk yang jelas-jelas menampakkan wajah saingan terberatnya di SMA Bimasakti ini.


"Kalau cuma itu, mending gue pergi." Renjana menatap arloji yang melingkupi pergelangan tangan kanannya. Namun, waktu yang tertera, membuat ia ingin mengumpat seketika itu juga.


"Lo gak bisa pergi. Kalau lo pergi, lo akan dihukum karena telat ikut apel," sahut Sagara, sambil menyeringai tipis. Ia mengamati tindak tanduk gadis di hadapannya itu.


"Kalau 'gitu, kasih gue kejelasan atas apa yang lo maksud," desak Renjana.


Sagara bergeming di tempatnya. Ia merenung selama 23 sekon lamanya, sebelum kemudian, ia pun mengembuskan napas panjangnya. "Lo enggak akan paham kalau gue kasih penjelasan sekarang. Yang penting, mulai sekarang, kita akan berkerja sama," katanya.


Renjana menaikkan alisnya sambil menyorot tangan Sagara yang ingin berjabat tangan dengannya. Meskipun hatinya terasa janggal, namun ia memutuskan untuk menerima uluran itu. Dengan ini mereka berdua telah resmi menjadi rekan.


"Tapi siapa yang akan tanggung jawab kalau kita ketahuan?" Renjana menekuk bibirnya. Sebagai murid yang baik-baik saja sejak SD hingga sekarang, hal seperti ini tak pernah terjadi di hidupnya sebelumnya. Tentu, ia pun jadi kesulitan menemukan solusi karena ia tak memiliki pengalaman dengan perbuatan yang bisa dikategorikan sebagai membolos itu.


"Tunggu aja sampai apel selesai," tutur Sagara, santai. Ia, bahkan sempat mengunyah permen karet yang entah sejak kapan sudah berada di mulutnya.


"Tanya—oh, gue lupa kalau lo gak ada kawan." Dengan datar, ia menatap Renjana. "Bukan masalah. Sekarang, lo 'udah punya gue sebagai rekan lo," katanya sambil menepuk pelan kepala lawan bicara.


"Gak sopan! Gue lebih tua dua bulan dari lo," sentak gadis berambut sebahu lebih sedikit tersebut. Dengan mood yang benar-benar buruk, dia pun menginjak kaki Sagara yang selalu minim ekspresi itu.


"Rrgh!" Sagara hanya menggeram pelan. Kemudian, ia pun menatap ke belakang Renjana dan berlutut. "Sander? Tentu saja aku baik."


"HAH?!" Renjana tampak kaget ketika melihat pemuda bertubuh jangkung itu, berbicara pada udara yang tidak ada siapa pun di sana.


Renjana merenung, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Matanya yang menyipit, menyorot Sagara dengan menyelidik. Ia menepuk pelan bahu lelaki berambut dark brown itu.

__ADS_1


"Gara? L—lo?"


Sagara pun menoleh sambil melayangkan tatapan dinginnya. Renjana yang merasa kikuk pun menggaruk tengkuk yang bulu-bulu di sekitarnya sudah berdiri itu.


"Teman. Mau lihat?" tanyanya.


Secara spontan, Renjana pun menggelengkan kepalanya. Dari segala tingkah aneh pemuda tersebut selama ini, ia bisa menduga, bahwa seorang Sagara Aksara, ada kemungkinan memiliki kemampuan indra keenam atau indigo.


"Oh—'udah selesai. Kalau mau aman, kita mesti cepat-cepat gabung sama anak-anak yang baru keluar lapangan sebelum ada yang liat kita," ujar Sagara. Renjana pun mengangguk, lalu ketika berada dalam momen yang tepat, mereka pun berhasil melakukan misi mereka.


Renjana dan Sagara, kini berjalan terpisah dalam jarak sekitar dua meter. Mereka berjalan beriringan dengan beberapa anak lain untuk menuju kelas mereka, karena sebenarnya, kedua remaja itu pun merupakan teman satu kelas.


Renjana dan Sagara, sebenarnya hampir mengalami nasib yang sama—yaitu sama-sama dijauhi, sehingga tak bisa memiliki banyak teman. Hanya saja, perlakuan terhadap Renjana terkesan lebih kasar, mengingat gadis itu, dianggap tak memiliki privilese apa pun di sana.


Selain itu, alasannya pun berbeda. Jika Renjana dijauhi karena latar belakangnya, maka Sagara dijauhi karena segala tingkah anehnya. Lagi pun, Sagara terlihat lebih baik daripada Renjana, mengingat laki-laki itu masih memiliki beberapa kawan.


...• • •...


Ketika di kelas, biasanya, Renjana Savita akan selalu fokus ke pelajaran. Namun, kali ini berbeda. Ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Ini mengenai pernyataan Sagara dan status pertemanan mereka.


Renjana sungguh tak mengerti, mengapa Sagara bisa mengatakan, bahwa ia telah terikat dengan neraka—seperti isi mimpinya sendiri. Lalu tak tahu mengapa, mimpi buruk yang selalu dibenci Renjana tiap kali kedatangannya beberapa tahun lalu, kini malah muncul kembali.


Meski tak mengharapkannya, namun, Renjana Savita kerap berpikir, bahwa bunga tidurnya itu adalah sebuah pertanda—pertanda yang diberikan iblis untuknya. Namun, jika benar adanya mengenai kutukan itu, lantas bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa ia bisa terikat dengan neraka?


Lalu, kenapa pula seorang Sagara Aksara, tiba-tiba datang dan ingin menawarkan kerja sama dengannya? Kenapa laki-laki itu berkata, bahwa ia ingin menolongnya untuk lepas dari jerat neraka? Bukankah di sisi lain, ia juga menganggap bahwa Renjana adalah sosok tak penting yang biasanya tak akan mau ia bantu?

__ADS_1


Apa yang sedang terjadi dengan hidup Renjana? Apakah mimpinya ... benar-benar pertanda akan datangnya malapetaka?


__ADS_2