
Tengah hari tengah menghampiri. Terik mentari yang datangnya langsung dari atas kepala, rasanya begitu menyengat. Gadis tersebut pun tercekat sambil menyeka keringat yang mengalir deras melalui dahinya.
Dengan alis yang menukik ke dalam, Renjana pun menendang pelan kuda besinya yang tiba-tiba tak bisa berfungsi semestinya. Rasa sebal menggerogoti jiwanya. Ia tak pernah lupa mengisi bensin motornya, bahkan servis pun rutin dilakukan seminggu sekali. Namun memang karena pada dasarnya benda itu sudah tua, jadi wajar saja jika begini kejadiannya.
Hari ini, Renjana dan murid-murid lainnya, dipulangkan lebih awal dari biasanya—dengan alasan yang begitu klise, yaitu rapat. Mayoritas siswa, tentu menyambut itu dengan penuh suka cita. Namun tidak dengan sosoknya yang justru merasa menyesal, sebab ulangan matematika yang sudah dijadwalkan di hari itu, mesti ditunda kembali untuk yang ke sekian kalinya.
Meski mendapat keuntungan bisa belajar lebih giat lagi, namun bagi seorang Renjana Savita, menunda-nunda sesuatu tetap bukanlah hal yang menyenangkan. Lagi pula, ia juga ingin tahu bagaimana hasil belajarnya selama ini melalui menjawab soal-soal penilaian harian.
Sekarang, ia hanya dapat menghela napasnya panjang. Digaruknya kepala yang sebenarnya tak gatal itu sambil terus mencoba untuk menyalakan mesin motornya yang mogok. Ia tetap berusaha, meski pada akhirnya, hanyalah sia-sia.
Renjana mengedarkan sorotnya ke sekeliling yang mulai sepi. Dari puluhan anak yang berlalu lalang tadi, hampir tak ada peduli meski mereka melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa gadis tersebut sedang mengalami suatu tragedi yang tentunya tak mengenakkan hati.
Apakah mereka sungguh-sungguh menganggap Renjana sebagai roh tak kasat mata?
Renjana mengacak rambutnya frustrasi. Diangkatnya benda pipih dengan empat segi yang layarnya sudah pecah itu. Ia ingin menelepon bundanya, namun tak jadi karena tak ingin merepotkan sosoknya.
Renjana tahu, bengkel terdekat dari posisinya sekarang, jaraknya sekitar satu kilometer. Ia pernah mengalami kejadian serupa, tapi ketika itu lebih beruntung, sebab motornya mogok tepat di hadapan bengkel tersebut.
Oh—semestinya, Renjana meminta nomor ponselnya saja saat itu ....
Bahkan, meski kini kekuatan fisiknya lebih dari mumpuni untuk berlari ke sana, namun Renjana sedang tak ingin melakukannya. Cuaca yang sangat panaslah penyebabnya. Lagi pun, ia sedang kehabisan uang. Baginya, akan sangat memalukan kalau ia harus berutang, meski itu untuk hal yang mendesak seperti ini.
Dalam kekalutannya, suara klakson mengejutkan Renjana. Remaja itu membalikkan tubuhnya, lalu menatap sosok pemuda berkulit cerah yang tampak semakin terang oleh terpaan sinar matahari.
"Say you need me, Dear ...!"
Sontak, Renjana pun mengusap tengkuknya, merasa merinding dengan sapaan yang diberikan sosok itu. Wajah tengilnya pun menampakkan sebuah seringai khas yang sudah sejak lama terasa familier bagi Renjana.
"Sky ...!" desisnya.
__ADS_1
Renjana menatap tajam sang pemuda yang menjadi saingan berat rekan barunya. Sky Gumelar namanya—ia terkenal di seantero sekolah, sebab prestasinya di bidang akademik maupun non-akademik.
Renjana menampakkan wajah tak sukanya, meski sosok Sky terus menampilkan senyum manisnya. Tentu bukan tanpa alasan, sebab apa yang terlihat di luar, memang kerap kali menipu.
Renjana tahu betul, meski Sky memiliki wajah bak jelmaan malaikat nan teramat lembut, namun itu berbanding terbalik dengan sikapnya yang sangat menyebalkan. Ia adalah tipe anak yang sok berkuasa dan menganggap rendah status Renjana yang dianggapnya sebagai saingan.
"Mau apa?" tanya Renjana dengan nada ketus.
"I can help you, but there's a condition."
"Enggak butuh!"
"I don't care. Aku mau bantu kamu, asal kamu mau menjelekkan nilai ulangan kamu di ulangan matematika besok," katanya, tanpa peduli dengan pernyataan Renjana sebelumnya.
"Takut kalah saing?" Renjana menyeringai. Ia menatap dingin sosok pemuda berwajah oriental itu.
"Up to you. Kalau kamu merasa enggak butuh bantuan, ya sudah. Lagi pula, aku yakin kalau kali ini, aku bisa kali lebih baik dari kamu," sanggahnya, yang ditanggapi sebuah dengusan oleh sang lawan bicara.
"No problem. Tapi masih ada kesempatan kalau kamu mau berubah pikiran," desaknya, dengan wajah yang amat tenang.
"Gak ada untungnya buat gue!" desis Renjana. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat. Sebisa mungkin, ia menahan emosinya agar tak lepas dari kendalinya.
"Fine, if that's what you want."
Sky, kemudian menyalakan mesin motornya, membunyikan klaksonnya tiga kali, sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Renjana yang berdiri membelakanginya. Seusainya, gadis tersebut pun mengembuskan napasnya dengan perasaan lega sehabis dibuat dongkol oleh tingkah menyebalkan si genius tadi.
Namun, baru saja Renjana menikmati kedamaiannya, suara klakson kembali menggema. "Mau apa lagi, Sky?" tanyanya, dengan nada yang meninggi.
Renjana membalikkan tubuhnya, lalu menatap sosok yang terduduk di atas motor vespa bergaya klasik itu dengan tercengang. 'Gara?!'
__ADS_1
"Sky Gumelar? Apa hubungan lo sama dia?" tanyanya. Mendengar itu, Renjana pun hanya menggeleng sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa heran dengan pemikiran sosok rekan barunya tersebut.
"Hati-hati dengannya," sambung Sagara, terdengar misterius. Akan tetapi, Renjana hanya menganggukkan kepala, karena ia memang merasa, bahwa Sky ialah sosok yang berbahaya. Terbukti dengan syarat tak masuk akal yang diajukan pemuda itu ketika menawarkan pertolongannya.
"Ada masalah? Mogok?" Pertanyaan itu, dibenarkan oleh Renjana.
Sagara, lalu turun dari kuda besinya dan berdiri di hadapan Renjana yang tingginya beberapa sentimeter lebih rendah darinya. "Jangan lupa untuk berhati-hati," bisiknya, sebelum tiba-tiba, ia menyentuh tangan Renjana.
Suasana hening yang dalam sekelebat telah menyeruak, membuat Renjana bergidik seketika. Ia ingin menarik lengannya, namun buru-buru sosok itu menahannya. "Gue lihat. Lo harus hadapi itu, tapi pantang buat lo untuk kalah," katanya.
"Gue masih gak paham kenapa lo ngelakuin ini," ungkap Renjana. Ia menatap Sagara dengan dalam, mencoba mencari kebenaran dari sorot yang seolah bisa menenggelamkannya itu.
"Ada alasan, tapi belum saatnya untuk lo tau," jelasnya.
Tampak, Renjana Savita pun bergeming di tempatnya. Ia membiarkan Sagara tetap menyentuh lengannya. Dengan raut yang resah ia pun mendesah berat.
"Apa itu nyata? Lo ... punya kemampuan atas hal-hal supranatural?"
"Cuma bisa lihat mereka dan masa depan. Tapi akan lebih akurat kalau sambil 'nyentuh empunya," jawabnya.
"Jadi, lo lagi nerawang masa depan gue?" Renjana mengangkat sebelah alisnya, menyorot penuh tanya ke si lawan bicara. "Kalau iya, apa yang lo lihat?"
Sagara, kemudian menampakkan senyum tipis nan misteriusnya. Ia, kemudian membuka mulutnya, ingin mengutarakan jawabannya. "Renjana Savita, iblis, neraka, dan ... dia."
"Dia? Siapa?" Renjana merasakan bulu kuduknya tengah meremang. Ia merasa jantungnya berdebar dan ia pun ingin menceritakan tentang mimpi buruk yang selalu menghantuinya selama ini.
Kini, entah apa alasannya, namun Renjana sungguh yakin, bahwa remaja laki-laki itu, pasti punya pemahaman—yang walaupun hanya sedikit—mengenai permasalahannya itu.
"Seorang laki-laki dalam kegelapan meski ia berarti kekuatan dari Tuhan." Pernyataan itu, sungguh tak dipahami Renjana. Namun pemuda tersebut, seolah tak ingin menjelaskannya.
__ADS_1
Renjana pikir, Sagara sengaja melakukannya. Ia yakin, ada hal yang tengah disembunyikan sosok itu.