
*Jhon menarik ponsel yang menyusup didalam kantong jasnya, ia melakukan panggilan untuk Jason agar segera menemuinya kembali.
selang beberapa menit orang kepercayaannya datang menghadap, "Ada apa tuan emanuellen memanggil saya?"
"Kau tau dimana Goerge berada sekarang,Jason?" Tanpa morfem bermaksa Jhon secara terang menanyakan hal itu secara langsung, membuat Jason sedikit tidak mengerti.
"Saya tahu tuan. Sekarang Kiniro mempunyai banyak markas di Amerika tepatnya di Los Angeles."
Mata indah gelap seorang Jhon seketika terbelalak menampilkan kesan sulit percaya mengenai apa yang telah ia dengar.
'Sial!' hatinya memekik keras, seolah sedang memikirkan tentang satu cara mengenai taktik George.
Ia tahu betul bagaimana cara berpikir rekannya ini. George adalah pria yang terkesan harmonis, namun Jhon menegakkan kebenaran dalam rasional nya bahwa George bukan rekan yang membutuhkan kepuasan dari sekedar pertemanan.
Seseorang yang terdidik dalam Clan asal Jepang mempunyai perangai buruk, mereka akan melakukan tindakan yang terlalu berani tanpa berfikir keras akan akibatnya.
Bagi George masalah itu adalah makanan nikmat untuk Kiniro Clan. Namun rasa takut tak pernah ada dalam dekapan Jhon, ia harus tetap menciptakan kewaspadaan agar tak mengulangi satu kesalahan fatalnya.
Jhon menatap wajah Jason serta berfikir kuat untuk rencananya ini.
"Siapkan dokumen tentang perjanjian lama itu Jason, cari tau siapa saja yang menempati markas di Amerika. Dan.... " lisannya terhenti untuk memberikan sedikit rasa yakin pada nalurinya, "Aku akan ke Amerika."
Jason mengangkat kepalanya yang masih tertunduk. 'Mengapa?' tanda tanya besar mengenai pernyataan Jhon.
"Apa tuan Emanuelle yakin akan ke Amerika? Bagaiman jika..... "
Mendengar keraguan yang tersirat dari wajah Jason, Jhon tersenyum sinis agar Jason mengurungkan niat untuk melanjutkan keingintahuannya serta meyakinkan kepada jason setiap kemauan dirinya tidak ada yang tidak mungkin dan harus terlaksana.
__ADS_1
Tanpa kata bantahan Jason pergi dengan rasa enggan untuk kedua kalinya memberi pertanyaan.
Jhon kembali menatap ufuk dengan semangat menyertai kemauannya yang membara 'Lizzy,' "aku akan menempati janjiku padamu. Syarat itu akan aku musnahkan dan kembali mendekap tubuhmu dengan erat,."
Saat terlalu indah mengenai semua angannya, Jhon melirik kearah lain yang sedikit mencurigakan perasaannya dan terlihat seorang 'sniper' bersembunyi dibalik tanaman hias diatas gedung lain.
Merasa target telah menyadari keberadaannya, Sniper dengan cepat berusaha menghindari Jhon.
Merasa sering dipermainkan oleh musuh yang tak bisa ia pahami, Jhon membuka panel jendela balkon dan berlari mengejar sniper itu. Ia melompat pada satu titik atap gedung yang lebih rendah serta tatapan beringasnya tidak lepas dari sosok pria berpakaian jas rapi telah melarikan diri.
Kini langkahnya sejajar dengan si sniper yang juga berusaha lebih cepat dengan jejaknya, meski jarak antar gedung terlalu jauh namun otak dari si Rubah berputar dengan cepat agar dapat mencengkram tubuh sniper itu.
Suara tembakan terarah pada tubuhnya namun itu hanya sia-sia dan membuat Jhon semakin geram, dengan sedikit tertunduk menghindari peluru yang melesat ia kembali melompat pada satu gedung yang lebih
tinggi.
Jhon memegang pipa air yang melilit dibagian atap gedung lainnya, menyadari akan pipanya tak mungkin bertahan lama menahan berat, ia mengangkat tubuhnya dengan kekuatan otot lengannya menuju keatas.
Merasa mendapat olokan Jhon menambah kecepatan dan berlari, kini tinggal satu gedung yang memisahkan jaraknya dengan si sniper itu.
Ia berhenti sejenak menatap jarak dalam permeter, memberi aba aba pada otak kanannya agar dapat mencapai gedung tempat singgah sniper itu.
Melihat sniper itu berhenti, Jhon menatap tajam, "Kau seharusnya tetap berlari"
dengan semua triknya Jhon berlari sangat cepat agar kakinya dalat melompat dengan jarak panjang dan menapak dengan sempurna di atas gedung tempat sniper berhenti itu.
Tubuh Jhon sedikit lebih rendah ketika telah mendarat diatas penutup bangunan, ia terus berlari mengejar penembak jitu yang tidak dapat ia tahu apa motifnya
__ADS_1
Jhon mendorong kuduk pria itu hingga ia terjatuh ke depan, Ia meraih laras panjang lelaki itu. merebut dan memukulkan bagian tumpulnya ke kepala pria itu.
Darah dari hasil luka lebam menetes dipelipisnya, ia meronta berusaha terbebas dari jeratan tangan Jhon yang kuat, tapi sekali lagi, cengkraman tangan Si Rubah akan sangat menyakitkan jika mendapat perlawanan berarti.
Pria itu mengepalkan tangannya memukul mukul dasar atap gedung berusaha menahan rasa sakitnya.
"Siapa kau? dan mengapa berani mengarahkan peluru ini kepadaku, hah?! Apa kau tidak tahu siapa aku?" jeratan tangan Jhon sedikit dipudarkan agar tenggorokan pria itu dapat menghasilkan suara dengan frekuensi jelas.
"Aku hanya sedang mencari uang, Lepaskan aku!" sniper itu mencoba merangkum perlawanan.
"Jangan membuat ku marah, aku akan membayar lebih jika kau mau memberitahu siapa yang menyuruhmu." Lengannya kembali mencekal menciptakan rasa sesak ditenggorokan pria itu, matanya membesar melalui pelupuk mata serta suara khas dari cekikan yang tercipta.
Jhon mengarahkan lubang peluru dirongga mulut pria itu dan seketika sang pemiliknya merasa ngeri.
" O...oh... Ja...Jangan tuan, ampunilah saya!"
Jhon menarik pelatuk agar saat telinga nya bosan mendengar rengekan pria itu. Jhon sangat dengan mudah memusnahkan gelombang itu dengan luapan emosi yang memuncak. Pria itu kembali mengulang perkataan basinya.
"B-baik saya akan mengatakan yang sebenarnya." mendapatkan kepuasan dari hasil tawaran ini Jhon mengendurkan pegangan tangannya dileher pria yang hamoir mati olehnya.
"Katakan sekarang! atau peluru ini yang akan menjawabku!!"
Dengan sedikit terbata namun berusaha untuk jelas pria itu mengambil nafas disertai batuk.
"Bersiaplah menyambut kedatangan atas kekalahan Allighiero Company."
Terdengar suara tembakan Jhon menarik pelatuk laras panjang milik pria itu , lelehan darah segar keluar dengan cepat menggenangi dasar atap gedung, lubang luka pada pelipis pria itu membuat Jhon kurang puas karena tak mendapatkan informasi lebih.
__ADS_1
"Jangan menantangku! karena aku akan sangat bersemangat dengan tantangan."
Lutut Jhon berusaha menopang tubuhnya sendiri untuk bangun dan meninggalkan mayat sniper yang tergeletak, ia menunduk sambil melihat kain jasnya yang terkena percikan darah. Langkahnya pelan dengan sedikit perasaan murka atas raut pria itu seakan dirinya telah diancam, bukan! Lebih tepatnya sedang memberikan pengaruh agar ia lalai dalam balutan emosi.