
***
Aku menyuruh pak supir untuk menunggu sebentar,karena terburu-buru mengejar nya aku gak sadar gak bawa uang.Setelah mengucap salam aku meminta tiga ribu rupiah dari paman nya,sedikit berlari ke supir angkot ,takut terlalu lama pak supir menunggu.
Sekali lagi aku mengucap salam,dan langsung masuk.Paman duduk di dalam langsung aku permisi kedalam menjumpai dia,paman tak menjawab hanya anggukan.
Dia berbaring di kamar itu dengan mengotak- atik hp nya,aku langsung menegur nya,tapi respon dingin,hanya melihat sekali saja.Aku terus berusaha bicara kepada nya,tetap gak di respon.Ya Allah sakit sekali hati ini.
"Mas".....
"kenapa Ade mas buat seperti ini?"
"Lihat wajah ade,kenapa dari tadi tak ada respon!"
Dia duduk,tapi tak bicara,menatap ku pun tidak,seolah hanya dia yang ada di kamar itu.
Dia keluar kamar,aku lihat menuju kamar mandi,aku masih di situ menunggu nya.Aku pikir dia kembali ke kamar itu, lah....ternyata tidak.Aku tarik tangan nya,dia berusaha melepas,tapi aku begitu kuat saat itu.Akhirnya dia masuk juga,rasa nya membahas sesuatu lebih nyaman ,walaupun pasti mereka di rumah itu dengar apa yang kami bicarakan.
"Gak ada yang mau di bahas lagi." ucap nya begitu.
Semakin naik darah aku mendengar nya.
"Gak ada...?"
"Aneh mas,harus nya ...ya makin ada."
"Justru itu,terlalu banyak yang harus kita bahas."
"Mas harus pergi."
Sesak dada ku mendengar nya.
"Ada cara lain untuk menyelesaikan."
"Bukan harus pergi,"
Belum ada dia menatap wajah ku sedikit pun,macam jijik atau ketakutan.
"Pandang wajah ade."
"Bukan di biarin gini."
"Kalau mas mau pergi,harusnya banyak yang mas bahas sama Ade."
"Mas laki-laki beristri,sudah bisa ambil keputusan sendiri,bertanggung jawab,bukan nya lari dari masalah."
Aku tanya ke dia,apa masalah nya.Kalau lah mereka malu atas kejadian yang malam itu,yang membuat adik nya berubah,yang ada dukun itu.Aku akan simpan kejadian itu ke diri ku.Itu yang ku ucap kepada nya.
Bertolak dari kenyataan,aku pun berbohong,karena kejadian itu keluarga ku sudah tahu bahkan tetangga kakak ku pun tahu.
"Ade gak mau cerai mas,"
"gak ada dalam pikiran ade kita tu bercerai."
"Sakit nya lah mas ucap kan malam itu."
Dia masih aja cuek,malah asyik bermain dengan hp nya,seakan aku benar tak ada di kamar.
"Sudah mas bilang,kita gak bisa bersama."
__ADS_1
"Banyak yang menjadi korban nanti.'
"Ini demi kebaikan semua."
"Korban apalah,kenapa harus ada korban."
Apa yang udah di buat keluarga mas.Apa ini bagian dari pelaris kalian.....
...
....Maaf !!!
Dia diam ,aku refleks aja bicara begitu,gak enak juga dengar paman nya .
"Dia sakit," ucap nya menjelaskan keadaan adik nya.
"Terus....berobat ke dukun itu?"
"Ade gak percaya kakek itu bisa mengobati."
Sambil aku jelaskan ke dia.kalau berobat ke kakek itu semua jadi masalah. Usaha dia hancur,adik nya tetap begitu,Laris usaha juga semakin tak ada,semakin sepi malah.
Ku lihat dia memegang kepala nya,sambil menjambak rambut nya,mungkin dia pusing.
Lalu di rebahkan nya tubuhnya,berbaring telungkup wajah nya menatap arah dinding.
Ku bangkit dari duduk ku,kulihat wajah nya,mata nya mulai terpejam.Aku pun sebenar nya lelah.Kubiar kan dia begitu.Aku berniat menunggu sampai dia terbangun nanti,jika dia emang tertidur.
Aku keluar dari kamar mendatangi paman nya yang sedang mempersiapkan jualan nya.Usaha yang sama jenis nya dengan keluarga nya.
"Mana dia?" paman nya bertanya.
Paman nya bilang,dia gak pulang ke rumah uda beberapa hari,hanya di kamar aja.Di suruh makan pun gak mau.
"Jadi paman tahu kejadian nya!"
"Apa paman gak bisa nolong kami."
"Paman kan tahu kalau kami baru aja mau merintis usaha baru,ruko pun Uda di sewa."
Paman nya bilang gak bisa nolong.Segini nya nasib,di luar dari bayangan ku.Ada istri paman juga di rumah itu,tak banyak bicara hanya berpura tak tahu masalah nya.
Aku mengerti,tahu pun mereka,salah pun keluarga dia.....!!! apa yang bisa mereka lakukan??.Tak mungkin mereka bisa memberi alasan atau pun nasehat kepada bapak dan mamak mertua,demi menjaga hati mereka.Lagi pula mereka bisa sampai ke kota ini dan punya usaha yang uda lumayan sukses,berkat bantuan dari mertua.
Hampir dua jam aku di rumah paman.Dia ku lihat belum bangun juga.Aku pun sambil bantu-bantu paman dan istri nya,apa yang bisa ku kerjakan,aku kerjakan.Karena gak jauh beda cara kerja usaha di rumah paman dengan mertua.
Ada suara orang di kamar mandi,aku yakin dia.
Senang hati ku,bisa lah ini sambung pembahasan lagi.
Duduk dia di salah satu kursi,tempat biasa para pembeli makan.Sambil menatap ke arah luar,tak menoleh sedikitpun ke aku.Cukup jauh kalau aku memanggilnya.
Aku hanya lihat ke arah dia,terus memandang nya,berharap ada yang di bahas nya dengan ku.Hampir satu jam begitu saja,lelah nya lah aku,perut lapar,kepala ku mulai pusing.Dia tak ada respon sedikit pun.
Emang benar-benar tak mau mengenali ku lagi kah?,segampang ini lah aku berpisah,di talak di kota ku sendiri dengan orang pendatang. Tahu gitu aku gak mau pulang kampung, itu yang ada dalam pikiran ku.
Kulihat dia berdiri,dan mengambil piring untuk makan,tetap tak ada menegur,menoleh ku apalagi menawari ku makan.
Paman dan istri nya menawari aku makan,aku hanya mengiyakan aja.Aku terus menatap nya sampai dia selesai makan.Ya Allah begitu sayang nya lah aku dengan dia,tak ikhlas hati ini untuk berpisah.Rasa nya ingin aku bahas perjalanan hidup aku degan dia dari kota ini..ke kota itu ...kota sana ...ke kota sana.. .... bahkan kembali lagi ke kota ini.Mana tahu kebuka pikiran nya,mengingat kembali bahagia nya hidup kami dulu.
__ADS_1
Dengan santai nya dia duduk di sana sampai selesai makan,sedikit pun tak menyapa aku.Bagi dia yang tidur tadi selesai lah sudah pembicaraan kami.padahal banyak sekali yang mau aku bahas lagi dengan nya.
Tak sabar juga aku di buat seperti itu,aku panggil dia beberapa kali,masih gak menoleh.Dan akhirnya menoleh juga dia.Ku datangi dia,aku bicara lembut agar tak ada yang dengar.Aku bilang kepada nya kalau aku mau ngomong,tapi gak di ruangan ini.Enggan sekali dia menurut.
Aku Uda duduk di samping nya,aku Blang kepada nya....
"Segampang ini kalian melepas anak orang."
"Cak mas istighfar,tatap wajah ku,"
"kenapa mas takut,apa takut kembali kepadaku?"
....
"Apa karena kasihan kepadaku."
Dia seakan mau bicara kepada ku..tapi di urungkan nya.Aku kembali bicara.
"Kalau mas gak mau lagi sama ku karena keputusan mas dan ada alasan yang jelas,mungkin aku bisa terima."
"Mas ambil keputusan ini ,karena keterpaksaan,aku gak terima."
"Apa ada bapak atau keluarga mas,bicara ke keluarga aku,atau ke aku secara baik-baik,
gak kan...????"
"Kalau mas emang mau cerai sama aku,cak mas sholat dulu."
"Bisa gak!"
Dia berdiri,dan berlari ke luar.Aku masih duduk.
Kulihat dia mulai menjauh dari rumah paman,kearah jalan menuju angkot.Aku lari keluar sambil permisi sama paman dan istri nya.
Aku kejar dia,aku berjalan di belakang nya.Dia terus berjalan aku terus mengikuti nya,terserah lah orang-orang melihat kami.Terasa.juga lelah kaki ini berjalan,di stop nya angkutan umum,ya Allah naik dia ke angkot itu,di tinggal nya aku sendiri.
Lemas lutut aku saat itu, tak sanggup aku bendung air mata ku,di tepi jalan begitu ramai nya orang berlalu lalang,begitu bising nya suara kendaraan,aku jongkok menangis tertunduk.Mungkin pun dia lihat aku begitu dari dalam angkot.
Aku bangkit,aku lanjutkan perjalanan ku,jalan lurus saja sambil menangis,aku tahu aku dimana,tak ada niat aku untuk naik angkot juga.
Hanya mengikuti langkah kaki ku saja,begitu jauhnya lah arah pulang ke rumah kakak ku,tapi aku masih kuat.Rasa nya puas menangis sambil jalan sambil menghayal,sambil mengingat-ingat kejadian tadi,terlalu pilu di tinggal begitu saja.
Aku lihat ke arah depan.Ku hentikan langkah ku,aku merasa mengenali tempat di mana aku berdiri,pas didepan rumah teman ku,aku mundur mencari tempat untuk nyaman berdiri.Tiba-tiba datang rasa malu aku,jika dia melihat keadaan ku saat itu.Aku berusaha lagi mencari tempat nyaman untuk duduk.Di depan ruko yang tutup aku duduk di sana,sambil melamun dan berfikir apa rencana selanjut nya.
Masih jauh rumah kakak ku,mau jalan takut ada yang melihat dan bertanya.Berusaha menunggu angkutan tujuan rumah kakak,biar lah bayar nya nanti aja pas sudah sampai,itu niat ku seperti aku lakukan tadi ke rumah paman nya.
...
.....
Sambil menunggu...
Dari jauh kulihat dia menaiki sepeda motornya,tapi aku gak yakin,kalau dia mau jumpai aku.Aku diam pandangan ke depan,seolah aku yang tak mengenal nya,mungkin aku sudah mulai kuat di tinggal kan nya,terlalu sakit perlakuan nya hari ini kepadaku.
Dia berhenti pas di depan ku,tak bicara sedikit pun.Tapi menggerakkan kepala nya,kode menyuruh aku naik ke sepeda motor nya.Aku naik,duduk ku pun miring seolah orang lain menumpang.Sepanjang jalan kami tak ada bicara,sampai didepan gang rumah kakak ku,sepeda motornya berhenti hanya beberapa detik aku mengerti,dia menyuruh aku turun dan pulang.
Aku turun......
Dan dia pun langsung pergi*....
__ADS_1