
What!? istri orang dikasih uang dan dibayarin belanjanya tapi untuk istri dan anak sendiri di suruh berhemat. Ini maksudnya apa ya?.
Kenapa bisa jadi begini?, sambil ku coba memejamkan mata, namun hati ini gelisah bolak-balik aku membalikan badan mencari posisi nyaman. Namun mata ini malah semakin seger tidak mau terpejam.
Akhirnya aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu menunaikan sholat sunah.
Aku mengadu kepada Allah SWT mohon petunjuk yang terbaik buat aku dan anakku. Aku hanya memasrahkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
***×***
Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku, namaku Kirana Larasati berumur 23 tahun, hobiku memasak, lari, kalau sebelum menikah dulu suka main basket, silat, mendaki gunung. Aku mempunyai anak yang bernama Rafiq Hamzah berumur 2 tahun dari suamiku yang bernama Tomy Suhendar 26 tahun.
Selama 3 th pernikahan ini,kami hidup berbahagia dan berkecukupan.
Awalnya orang tuaku tidak menyetujui pernikahan kami, setelah Rafiq lahir hati mereka menjadi luluh.
Kami pertama kali bertemu karena sama -sama kuliah di Universitas Negeri di kota P. Mas Tomy kuliah Tekhnik Sipil semester akhir yang sedang di sibukkan tugas skripsi, sedangkan aku baru selesai dari KKN. Aku yang mencari dosen kami untuk menyerahkan laporan kegiatan kami selama di lokasi.
Sedangkan mas Tomy lagi sibuk menemui pembimbing akademik untuk konsultasi skripsi.
Kami berjalan berlawanan arah dan terburu-buru. Tepat di depan pintu perpustakaan kami tidak sengaja bertabrakan.
Gedebug. Kami memegang bahu masing masing sambil meringis kesakitan, laporan dan kertas berserakakan di lantai.
Kami langsung mengumpulkan laporan yang terjatuh. Sejenak kami bertatapan dan saling memberikan senyuman. Senyuman manis terukir di wajahnya membuat jantung ini bekerja tidak normal. Kami berdua salah tingkah. Ku lihat pipinya memerah, tatapan matanya gelisah, ujung bibirnya di gigit , nafasnya memburu, keringat membasahi dahinya, sambil terbata-bata.
"Maaf aku tidak sengaja, mau buru-buru tadi jadi ngak lihat jalan, "
"Kamu tidak apa-apa?"
"Apakah ada yang sakit?"
"Ngak ada yang sakit, maaf ya aku juga buru-buru tadi. Jadi ngak perhatiin jalan," jawabku sambil memungut laporanku yang jatuh.
"Sama-sama aku juga minta maaf ya. Kamu anak mana? Bukan jurusan sini ya? " tanya Tomy.
"Oh, iya aku jurusan Administrasi Negara. Aku mau mencari ruangannya Pak Ali dosen Teknik Sipil di sebelah mana ya?" tanyaku.
"Dari sini kamu lurus aja sampai di ujung belok kanan ruangan yang pertama, itu ruanganny. Mau menyerahkan laporan KKN Ya?" tanya Tomy.
"Iya, kok tau?" tanyaku.
__ADS_1
"Ngak sengaja terbaca dari sampul buku yang di pegang," jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih banyak." kataku
"Sama-sama. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu mau konsultasi dengan dosen,"pamitnya.
"Iya silakan, saya juga mau menyerahkan laporan ini " jawabku.
Kami pun berpisah, berjalan berlawanan arah menuju masing-masing tujuan.
Ku lanjutkan jalanku yang sedikit lemas.
Muka kuyuh , mata sayu , badan letih pinginnya langsung tidur, tapi laporan harus diserahkan batas akhir hari ini kalo tidak diserahkan akan dikurangi nilai.
Semestinya aku bersama sepupuku Indah yang akan menemui dosennya.
" Ran, nanti siang kamu sendirian aja ya nyerahin laporannya ke dosennya. Aku mau pulang, mandi badanku sudah lengket banget , baunya sudah berubah rasa," kata Indah. Kepalanya di tolehkan ke kanan ke arah ketiak sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Hmm masih enak baunya,"
"Issh, jorok ndah, sudah tau bau dicium lagi", kataku.
Kebiasaan Indahkan agak nyeleneh suka nyiumi ketek hampir sama dengan artis Prilly Latuconsina suka nyium ketek orang. Bedanya indah suka nyium ketek sendiri.
"In Sha Allah", jawabku.
"Terlambat datang kuenya dihabisin bang Andre,"
"Bang Andre sudah pulang? Kapan? Kamu kok ngak bilang sih", cecarku ke pada Indah.
"Bang Andre datang tadi pagi, karena masih jetlag ,nyampe rumah ketemu mama-papa langsung nyari kasur-bantal bobo cantik deh," jelas Indah.
"Eh ngomong-ngomong siapa tuh yang ngobrol denganmu tadi?" tanya Indah. "Anak mana?"
"Ohh, dia anak Tekhnik Sipil lagi nyusun skripsi. Tadi ngak sengaja ketabrak, namanya aku belum tau tadi buru-buru," jawabku.
Bang Andreas atau dipanggil bang Andre, kakak sulung Indah. Bang Andre orangnya periang, ramah, gesit, ahli bela diri taekwondo, karate, dan silat.
Kami berdua di latih oleh bang Andre ilmu bela diri silat untuk menjaga diri kami dimanapun kami berada. Karena kalo bang Andre tidak di samping kami, dia merasa was-was.
Adiknya Indah seumuran denganku, orangnya tomboy, suka pake pakaian kebangsaannya kemeja dan jeans belel, sepatu kets. penampilan sederhana, riasan muka tipis.
__ADS_1
Sifat dan tingkah laku kami berdua hampir sama bahkan kami mendapat sebutan si kembar dari kecil.
Apabila ada terjadi sesuatu di antara kami, maka yang satunya akan mendapatkan firasat yang tidak enak.
Setelah pertemuan pertama itu, kami bertemu kembali di toko buku.
"Hai, ketemu lagi. Masih ingat dengan aku?" sapa Tomy.
"Eh, iya situ yang tabrak di depan perpustakaan itu kan?" kataku.
"Syukurlah ingat, boleh kenalan ngak?, Siapa namanya? Namaku Tomy Suhendar," sapa Tomy.
"Namaku Kirana Larasati," jawabku. Kami ngobrol dengan berbagai topik pembicaran karena dia, orang yang mudah bergaul. Hubungan pun berlanjut via telpon dan pertemuan selanjutnya. Kami mulai menjalin hubungan yang lebih serius.
Seminggu selepas Mas Tomy wisuda, dia melamarku. Kami menikah tidak disetujui oleh mama-papaku,om-tante orang tua dari bang Andre dan Indah.
Mereka ingin aku menyelesaikan kuliahku terlebih dahulu.Karena aku sudah mengajukan judul skripsi.
Skripsi berhasil ku selesaikan dalam waktu tiga bulan. Selesai wisuda aku fokus bekerja dan mengurus rumah tangga.
Aku sudah bekerja sebagai staf admin dari kuliah semester empat. Mas Tomy juga selagi menunggu pekerjaan yang sesuai keahliannya bekerja serabutan sebagai tukang ojek, kadang sebagai mandor bangunan yang dia dapat dari temannya yang mendapat proyek pembangunan perumahan, yang penting halal demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Aku berangkat kerja di antar mas Tomy, lanjut dia pergi ke tempat kerjanya. Begitu juga sore harinya, aku pulang kerja di jemput mas Tomy.
Empat bulan usia pernikahan kami, aku hamil. Selama masa kehamilanku, aku tidak mengalami morning sicknes sehingga aku tetap bekerja sampai aku melahirkan.
Pemikiran dan pembicaraan ini terjadi menjelang dua bulan cuti melahirkan ketika aku harus kembali bekerja.
"Aku ngak tahu kapan bisa ninggalin Rafiq untuk bekerja, kalau aku bekerja dia sama siapa, aku....."
Aku tidak sanggup meneruskan kalimatku. Aku bingung, gugup, sedih dan mulai terisak saat mengatakan ini kepada suamiku. Dia kemudian memeluk dan mengusap-usap punggungku untuk menenangkanku.
"Tarik nafas lalu hembuskan. Kamu masih punya waktu untuk memikirkannya. Tidak usah buru-buru".
"Jangan sedih kalau sedih kasian anak kita, dia kan masih menyusui jadi dia akan ikut merasakan perasaan yang dialami ibunya."
" Ya perusahaan itukan bukan punya papaku mau seenak udel kapan mau masuk. Masa cuti habis harus mulai bekerja, mana bisa menunggu lagi." jawabku lirih.
Kami sama -sama diam dan tertegun.
"Jadi kamu mau resign? "tannya mas Tomy.
__ADS_1
Pertanyaan mas Tomy menyentakkan aku kembali ke dunia nyata. Bayangan kebersamaan aku dan si bayi yang sedang lucu-lucunya sepanjang hari terganti dengan gambar tagihan listrik, tagihan air, biaya makan sehari-hari kalau hanya mengandalkan dari pendapatan mas Tomy aja tidak cukup.