PETAKA STRUK BELANJA

PETAKA STRUK BELANJA
Bab. 3. Kembali Kerja Atau Resign


__ADS_3

Tidak seorangpun yang pernah bilang kepada aku betapa susahnya jadi ibu. Bahkan mamaku pun tidak pernah bercerita.


Tiidak seorang pun dulu yang mengatakan kepada aku betapa melahirkan itu sakit. Sakitnya datang berulang kali. Sebentar sembuh sebentar sakit lagi sampai bisa melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa.


Tidak ada yang bilang kepada aku bahwa menyusui itu perih dan melelahkan. Kalau aku tidak rajin makan makanan yang bergizi nanti air susunya tidak banyak. Waktu tidur menjadi berkurang dan tidak teratur.


Ya, meski aku memgatakan siap menghadapi keadaan yang akan terjadi, tetap saja aku merasa takut.


Aku takut akan gagal melewati proses persalinan untuk berjumpa dengan mu. Padahal sudah berbagai buku panduan kubaca, berbagai teori pun sudah kuhafal, tetap saja aku merasakan kedua tangan ini berkeringat dingin saat akan segera bertemu denganmu.


Jangan berpikir kalau ibumu ini tidak berani menghadapi sakit. Ibumu ini pelari, pemain basket dan pendaki gunung. Banyak duri, halangan aral melintang menghadang yang aku dapati. Selama ini walau keterpurukan yang dihadapi, namun ibumu akan mencoba berdiri lagi lalu berhasil berjalan hingga ke tujuan.


Namun saat mulai hadirnya dirimu di dalam rahimku semuanya berubah. Petualanganku, kegiatanku, kisah hidupku semuanya hanya terpusat padamu.


Mamaku pernah bilang begini," Jadi seorang ibu adalah hal yang paling membahagiakan. Kamu akan jadi jalan lahir bagi manusia lain dan sekaligus kamu bertanggung jawab untuk membentuk manusia itu jadi baik. Makanya tanggung jawabnya sangat besar. Jadi seorang ibu bukan hanya melahirkan dan membesarkan seorang anak, tapi lebih dari itu. Nanti kamu akan merasakannya sendiri." Nasihat mamaku secara singkat yang sangat membingungkan bukannya menenangkan. Maksudnya apa ya?.


Ah ! itu nanti dulu, yang penting sekarang menghadapi kehamilan plus ketakutan luar biasa akan proses melahirkan. Ketakutan akan sakit yang luar biasa saat proses melahirkan menjadi porsi yang utama di dalam otakku menjelang hari-hari akhir menjelang persalinan.


Setelah sembilan bulan lebih si bayi yang berada di perutku, kemanapun aku melangkah selalu bersamanya, usia yang matang dan siap dilahirkan.


Banyak tip dan nasihat yang diberikan menurutku sangat membantu dan memberi semangat. Tapi ada juga kalimat-kalimat yang membuat menjadi kurang percaya diri dan membuatku frustasi.


Saat ini yang menjadi fokus utamaku adalah menyambut kelahiran bayiku yang kami beri nama Rafiq Hamzah.


Semuanya masih terasa asing bagiku. Badan terasa nyeri, linu dan pegal-pegal. Belum lagi harus menyusuinya. Perjuangan memberikan ASI kepada Rafiq, sungguh ini tidaklah mudah bagiku.

__ADS_1


Hari pertama pasca melahirkan air susuku keluarnya hanya sedikit sekali. Hari kedua aku makan makanan yang dapat memicu bertambahnya air susu.


Melihat air susuku yang keluarnya hanya sedikit membuat diriku frustasi. Nasihat-nasihat yang keluargaku berikan karena mengkhawatirkanku menjadi beban bagiku, membuatku kurang percaya diri. Aku menangis tersedu-sedu melihat anakku minum ASI nya hanya dapat sedikit. Tampak dari gestur tubuhnya yang gelisah, mulutnya mencari ke sana kemari karena masih merasa lapar.


Lantas, aku ingat bahwa ASI bisa diproduksi dengan lancar bila ibunya tenang dan percaya diri.


Teringat tentang cara kerja produksi ASI itu, aku berusaha menjadi tenang, pikiranku menjadi lebih logis tidak mudah emosi. Eh, ternyata setelah itu air susuku menjadi deras, pemberian ASI kepada anakku menjadi lebih lancar. Baby blues yang kualami pasca melahirkan menghilang.


Sebelum menjadi ibu, aku ini termasuk orang yang mempertanyakan ,bahkan kadang mencibir keputusan beberapa perempuan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan kantoran mereka, terutama bila posisi mereka sudah tinggi dan gaji ... tak perlu ditanya lagi.


Menurut aku sangat nggak logis banget rasanya meninggalkan semua kenyamanan demi mengurus anak.


Bukankah gaji yang besar bisa dipakai untuk membayar baby sitter. Lagi pula ibu berkerja buat siapa sih? Kalau bukan untuk anak. Ibu yang resign atau mengundurkan diri dari pekerjaanya bagiku sangat tidak masuk akal.


Secara teori aku benar.


Sejak mendapat dua garis pada test pack prinsip aku berubah, prioritas utamaku berubah.


Aku menganggap serius semua nasihat dari yang sudah berpengalaman seperti orang tua, om-tante, dan yang sudah bekerluarga lainnya yaitu: makan makanan yang bergizi, banyak istirahat dan banyak tertawa karena a happy mommy makes a happy babby'.


Dari ketiga nasihat itulah, yang selalu ternigang di kepalaku yaitu aku harus banyak istirahat membuatku mulai ingin istirahat kerja mulai fokus mengurus anak. Ada satu hal yang berkelebat di kepalaku hanya orang gila yang nggak punya hati meninggalkan bayi selucu ini di rumah untuk bekerja.


Tak terasa, sudah satu bulan lebih aku berada di rumah. Setiap hari selama 24 jam aku terus berada di sisi si kecil. Tak tahu kapan matahari terbit, kapan matahari terbenam. Pakaian yang aku kenakan pun hanya daster yang nyaman berkancing depan. Karena daster yang model seperti itu yang nyaman dipakai, untuk tidur-tiduran terutama memyusui.


Suatu malam, tiba-tiba suamiku berkata," Kamu kayaknya perlu keluar dan penyegaran".

__ADS_1


"Mukamu sudah mulai pucat dan matamu mata panda karena kurang tidur dan kurang kena sinar matahari. Pakaianmu sudah bau minyak telon," ucapnya.


"Siapa yang jaga Rafiq kalau aku keluar rumah?"


" Kalau dia lapar haus ingin ASI ,siapa yang ngasih?" jawab keberatan dipisahkan dari si kecil. Aku pergi ke warung dekat rumah tidak lama sudah kangen, sedih, tidak betah. Apalagi pergi agak jauh yang tentunya akan lama . Aku tidak tega untuk meninggalkan si kecil lama.


"Rafiq kan bisa kita titip sama ibu. Kita mampir sebentar ke rumah ibu. Baru kita pergi jalan-jalan." kata mas Tomy. Rumah mertuaku hanya berjarak beberapa meter dari sini. Kami berjalan kaki saja memelukan waktu sepuluh menit.


"Kita mau kemana?" tanyaku.


"Kemana aja kamu mau. Kamu punya keinginan mengunjungi suatu tempat?," tanya mas Tomy.


Kemudian aku teringat pada undangan pernikahan temanku Susan. " Kita pergi ke acara pernikahan Susan aja hari Minggu besok," jawabku.


Walau merasa tak tega, aku akhirnya menitipkan si kecil kepada ibu mertuaku. Akupun menguatkan hati dan pamit sama Rafiq. "Nak, kami pamit keluar sebentar ya."


Seakan ia mengerti mau kami tinggalkan, sehabis pamit Rafiq langsung menangis kencang sekali.


"Tuh kan ma, Rafiq ngak mau ditinggal," kataku pada mertua.


"Itu sih maunya kamu aja yang ngak rela ninggalin Rafiq, ngak usah drama sudah pergi sana". Kami mulai terbiasa pergi walau sebentar.


Masa cuti melahirkanku sudah habis, mau tak mau aku mulai masuk kerja. Aku mulai bekerja meninggalkan anakku di bawah asuhan baby sitter dan mama mertuaku.


Walau tampaknya biasa aja. Namun dalam hatiku bergejolak seakan menolak meninggalkan Rafiq jauh dariku. Aku merasa tidak rela ketinggalan tumbuh kembang anakku.

__ADS_1


Pada suatu malam badan anakku demam panas tinggi hingga kami bawa ke rumah sakit. Rafiq di rawat selama tiga hari baru dinyatakan sembuh dan sudah boleh pulang.


Kepulangan Rafiq membuatku memutuskan untuk resign dari kantor. Aku ingin fokus mengasuh anakku. Aku tidak mau nantinya akan menjadi penyesalan karena menelantarkan anakku.


__ADS_2