PETAKA STRUK BELANJA

PETAKA STRUK BELANJA
Bab. 4. Baby Sitter


__ADS_3

Keputusanku untuk resign dari kantor yang menjadi alasan utama yaitu ingin fokus mengasuh anak, mengikuti tumbuh kembang anak sehingga tidak akan menjadi penyesalan karena menelantarkan anak.


Sebetulnya aku mempunyai alasan lain yang menguatkanku untuk fokus di rumah mengasuh anak, aku mencemaskan baby sitterku.


Awal dia masuk aku biasa aja, karena dia sopan, rajin, tepat waktu. Namanya Dian berumur 25 tahun. Kami menerimanya dari yayasan penyalur tenaga kerja.


Kring ... kring ... kring ... , bunyi dering ponselku.


"Assalamualaikum, apakah benar ini nomor ibu Kirana" tanya si penelpon.


"Ya benar ada apa ya?" tanyaku.


"Kami dari yayasan penyalur tenaga kerja Mega Utama mau memberi tahu bahwa baby sitter yang sesuai ibu inginkan sudah ada"jawabnya.


"Kalau gitu bisa suruh langsung ke alamat yang kami berikan ibu" kataku.


"Baiklah ibu" jawab si penelpon lalu telpon ditutup. Hanya butuh waktu setengah jam mereka telah sampai.


Tok ... tok ... tok ....


"Assalamualaikum".


"Walaikumsalam" jawabku. Pintu depan ku buka, ternyata orang yang menelpon tadi bersama baby sitter yang akan bekerja di rumah kami.


"Nama saya Dian, umur saya 25 tahun. Saya berasal dari daerah Oki, di sini tinggal di daerah Kemang Manis ngekost. Pengalaman kerja saya dua tahun. Ini kartu identitas dan juga surat keterangan pengalaman kerja saya." katanya secara panjang lebar.


Ku terima ktp dan surat pengalaman kerjanya, lalu ku baca sejenak yang asli dan ku ambil foto copyannya.


"Ibu mulai kerja dari jam 7 pagi selesai jam setengah 5 sore. Karena saya mulai bekerja jam 8, kita bisa bicarakan kebutuhan Rafiq. Stok ASI disimpan di frezeer sudah ada tanggalnya, masa on job trainning anda 3 bulan, kalau memuaskan bisa langsung kontrak" jelasku.


" Baik bu" kata Dian.


"Apakah sudah jelas, tidak ada yang mau ditanyakan?" tanyaku.

__ADS_1


" Untuk saat ini tidak ada" jawabnya.


Hari itu juga Dian langsung bekerja dengan memakai seragam baby sitternya yang rapi dan sopan, rambut di gulung ke atas, memakai make up tipis tidak menyolok.


Sudah 2 bulan Dian bekerja dengan cukup memuaskanku. Aku senang dan tidak perlu mengkhawatirkan anakku lagi.


Pandemi melanda di seluruh penjuru dunia. Masyarakat tidak diperbolehkan keluar dengan bebas seperti biasa. Keluar harus memakai masker untuk mencegah tertularnya virus covid-19.


Ini berdampak pada banyaknya pekerja yang di rumahkan, apalagi pekerjaan suamiku yang serabutan ada orderan ojek jadi tukang ojek, ada tawaran untuk membuat denah rumah ayo, semua yang bisa menghasilkan uang yang halal dikerjakan.


Pengeluaran yang semakin besar berbanding terbalik dengan pemasukan. Besar pasak daripada tiang. Kita harus mengencangkan ikat pinggang. Mas Tomy lebih sering berada di rumah karena ngak ada kerjaan.


Dian mulai datang lebih pagi, biar ngak terkena macet katanya. Pakaiannya kok berubah, baju atasannya yang sempit banget kita yang liat kayak sesak nafas. Roknya semakin pendek kurang bahan kali ya. Pernah terlihat pas suami lagi sarapan di dapur, Dian lagi panasin ASI nyanyi-nyanyi mendayu sambil joget-joget goyangin pinggul kayak bebek. Kalo aku ngak ada di rumah kayaknya kancing bajunya atas di buka dua kancing, badan agak dicondongin maksudnya biar akan terexpose bola bekelnya. Ini ketangkep basah olehku dua kali.


Wah ini orang mau mencari masalah. Aku diemin dulu mau menglihat reaksi mas Tomy. Apakah ada gelagat yang aneh.


" Mas, hari ini ngak usah di anter ke kantor, karena hari ini mau nemenin bu Ina ke lapangan mau survey nyari tempat buat cabang baru"kataku.


" Loh, kenapa harus sama kamu, bukannya sekretaris ada ya?" tanya suamiku.


"Emang kamu mau buat apa?" tanya mas Tomy.


"Kebutuhan kita sudah semakin banyak, sedangkan pemasukan kita sedikit," jawabku.


"Kita pangkas pengeluaran yang ngak urgen, terus menurutku kita lagi ngak butuh baby sitter. Kalo mas lagi ngak ada kerja kan bisa ngurus Rafiq. Kalo kebetulan mas lagi kerja kita titipin dulu Rafiq di rumah mama," kata mas Tomy.


Aku terkejut mendengar usulan mas Tomy. Kupikir dia akan tergoda dengan perubahan Dian yang merangsang. Karena mama mertua menasihati untuk berhati-hati.


" Na, kamu harus pantau baby sittermu, mama kemaren mampir ke rumahmu kok penampilannya berubah jadi semakin seksi, make upnya tambah menor udah kayak jablay aja itu."


"Maksud mama datang ke rumahmu mau main sama cucu kok jadi ngak srek liatnya," lanjut mama.


"Iya ma, aku juga kepikiran gitu. Kok Dian semakin berani ya mengundang sahwat kayak itu kita aja risih liatnya," jelasku.

__ADS_1


" Untung Tomy ngak tergoda, mama bukan membela anak mama loh,"kata mama.


"Lebih baik masa kerjanya ngak usah diperpanjang lagi daripada ada masalah di belakangnya,"sahutnya lagi.


Ternyata hati dan pikiran kita masih sama. Usulan mas Tomy dan mama menjadi alasan kuat untuk ngak melanjutkan kerjanya. Apalagi sekarang lagi heboh majikan nikah sama baby sitter, istri di ceraikan. Amit-amit cabang bayi jangan sampe itu terjadi di keluarga kami.


Tepat tiga bulan masa kerjanya, kupanggil Dian ke ruang tengah.


"Dian tampaknya masa kerja kamu ngak bisa diperpanjang lagi," kataku.


"Kenapa bu? Apa kerjaku kurang muaskan?"tanya Dian.


" Bukan, kerjamu bagus tapi maaf ibu ngak bisa nyambung lagi. Karena kami ngak sanggup bayar, uangnya ngak cukup," jawabku.


"Oh gitu, ya sudah mau gimana lagi," jawabnya dengan mimik muka kecewa.


"Ini uang gajimu bulan ini. Ibu mohon maaf kalo ada salah kata yang tidak menyenangkan."


"Iya bu, Dian juga minta maaf kalo ada salah kata dan perbuatan, "jawabnya dengan muka kesal, tangannya mengepal, rahangnya mengeras.


Dia kesal karena tidak berhasil menggoda mas Tomy kali. Untung aku cepat bertindak, bisa hancur rumah tangga kalau dibiarkan berlarut-larut.


Kami mulai mengasuh Rafiq berdua, kalau kepepet kami minta tolong mama mertua. Penghasilanku tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga.


Aku putar otak untuk mengatur kebutuhan rumah tangga. Aku juga kasihan liat mas Tomy ngak kerja.


" Mas, kita ngak bisa kalo terus-terusan kayak gini. Bisa-bisa kita ngak makan," kataku.


"Rejeki itu Allah yang ngatur kita bertawaqal padaNya."


"Memang rejeki Allah yang ngatur tapi kita sebagai manusia harus berikhtiar," jawabku.


"Ya terus maksud kamu mau gimana?"tanya mas Tomy.

__ADS_1


"Gimana kalo aku resign dari kantor. Di kantor nampaknya mau ada pengurangan pegawai daripada aku diberhentikan mending aku resign lumayan dapat pesangon," kataku.


Mas Tomy terdiam sejenak sambil menghela nafas secara perlahan.


__ADS_2