PEWARIS ILMU HITAM

PEWARIS ILMU HITAM
MALAM TARGET PEMBUNUHAN


__ADS_3

Tepat jam dua belas malam seorang laki-laki paruh baya bertubuh kurus tinggi dengan pakaian rapih bagai pekerja kantor mengetuk pelan pintu rumah Ayah.


Di dalam rumah ini hanya ada aku , Ibu dan tentunya Ayah. Kami hanya bertiga saja karena aku anak tunggal mereka.


Tok..tok..tok.


Suara ketukan pintu semakin terdengar jelas diiringi suara jangkrik, katak yang saling membalas satu sama lain. Karena rumah ini ada ditengah pesawahan dan pesawahan ini sebagian besar milik Ayah. Ya, kami hidup di dalam rumah yang dikelilingi pesawahan.


Walau rumah yang dibangun oleh Ayah tidak megah dan hanya satu lantai tapi Ayah terkenal sebagai saudagar kaya di kampung ini.


Bahkan semua orang pun tahu kalau Ayah seorang dukun sakti namun tidak ada satupun yang berani bertanding kepadanya apa lagi memancing emosional Ayah yang membuat Ayah naik pitam.


Mungkin karena Ayah sangat ramah dan sering berbagi lahan pesawahan untuk warga yang kurang mampu, memberikan lahanya walau tidak cuma-cuma tapi setidaknya warga senang memliki penghasilan yang tidak pernah dimintai kongsi oleh Ayah. Justru warga sendiri lah yang datang dengan senang hati mengantarkan sedikit hasil panen mereka kepada Ayah.


Ayah dan Ibu memang sangat baik kepada banyak orang sisekitarnya tapi Ayah dan Ibu mampu "membunuh" atau "melumpuhkan" siapa pun yang menjadi sasarannya.


Sebenarnya malam ini aku sudah tidur lelap tapi karena suara ketukan pintu yang semakin keras akhirnya aku terbangun. Meski tubuhku tidak bergegas menghampirinya tapi pendengaranku seolah terjaga dari kebisingan diluar kamar.


Ayah yang segera membukakan pintu rumahnya kemudian melihat sosok laki-laki yang sudah bisa Ayah ditebak apa maunya.


"Silahkan masuk Pak," ajak Ayah mempersilahkannya masuk


Pria itu masuk dengan pandangan liarnya melihat seiisi ruang tamu yang tampak biasa saja tidak seperti rumah "orang pintar" yang penuh dengan gambar dan benda mistis.


"Silahkan duduk Pak," ucap Ayah lagi.


Pria itu pun mengikuti maunya Ayah, dia duduk melantai sedikit berjarak namun tepat dihadapan Ayah.


Dalam bersamaan Ibu datang tanpa bicara dan ikut duduk melantai beralaskan tikar pandan kering menghadap pria itu tepat disamping Ayah.


Di rumah ini tidak ada bangku atau sofa, semua tamu duduk melantai. Ayah pernah bilang kalau duduk melantai itu lebih terasa akrab kepada tamunya.


Belum juga laki-laki itu bicara tapi Ayah sudah lebih dulu membahasnya.


"Jadi, memangnya wanita mana yang anda mau bunuh ?" tanya Ayah


Sontak saja laki-laki itu terbelalak


"Hah, kok Bapak tahu kalau saya....,"


"Iya Pak saya sudah lebih dulu tahu permasalahan anda," ucap Ayah dengan santai


Sejenak suasana hening tak bergeming.


Kemudian Ayah melanjutkan pembicaraannya lagi


"Anda sakit hati kepada seorang wanita yang anda suka tapi wanita itu malah dengan sengaja memamerkan laki-laki lain dihadapan anda padahal wanita itu tahu kalau anda suka sekali kepadanya," ucap Ayah lagi

__ADS_1


Laki-laki itu kembali terkejut "Hah, benar sekali Pak,"


Ayah tersenyum "Dari wajah anda, auranya sudah terpancar kebencian. Aura anda gelap,"


Mendengar penjelasan Ayah, laki-laki itu diam. Dia seperti tertampar karena disingung wajahnya penuh kebencian tapi mirisnya laki-laki itu seolah tidak menggubrisnya dan tetap merasa paling tersakiti


Kemudian Ayah memberikan pilihan terlebih dulu kepada laki-laki itu sebelum benar-benar Ayah mengikuti kemauan pasiennya yang jauh-jauh datang dari Jakarta ke desa yang sebagian penuh bukit dan hutan ini.


"Jadi begini Pak, saya bisa saja mau menuruti kemauan anda untuk membunuh wanita itu tapi...,"


"Berapa pun uangnya saya akan bayar Pak !" potong laki-laki itu dengan cepat


Ayah menggelengkan kepala "Oh, Bukan. Bukan itu yang saya maksud. Masalah biaya akan dibicarakan setelah anda dan saya sudah yakin mengeksekusinya,"


Laki-laki itu terdiam


Kemudian Ayah kembali bicara "Saya mau anda berpikir dulu, apakah anda yakin si wanita itu mati atau si wanita itu jatuh hati kepada anda ?"


Pria itu menjawab dengan suara lantang "Saya mau wanita itu mati saja Pak !"


Ayah mengangguk-angguk pelan "Mmmm, apakah anda yakin ?" tanya Ayah lagi


Laki-laki itu mengangguk dengan yakin dengan raut wajah yang dipenuhi dengan amarah kebencian


"Saya mau si wanita itu dibuat menderita dan lama-lama mati,"


Laki-laki itu mengangguk "Iya,"


"Baiklah kalau itu yang anda mau," terima Ayah.


"Ya, saya mau dia lumpuh tidak bisa melakukan aktifitas sampai tubuhnya mengering dan semakin lama semakin habis tenaganya lalu mati," pintanya


Ayah mengangguk "Baiklah, saya bisa lakukan itu. Paling tidak bebarapa bulan kedepan nanti dia akan mati perlahan,"


Laki-laki itu tersenyum puas, dia seperti menemukan udara segar yang menyejukkan dadanya.


"Bagus Pak, saya senang mendengarnya. Lalu berapa maharnya ?" tanyanya


"Biasanya kalau untuk target berat seperti ini minimal mahar seratus juta karena berurusan dengan nyawa," jawab Ayah.


Tanpa sedikitpun merasa kerebatan, laki-laki itu langsung saja membayar Ayah dengan cek yang langsung dia tulis didepan Ayah.


"Ini uangnya Pak, saya kasih cek,"


Ayah senang menerimanya meski pun raut wajahnya tidak menggambarkan gembira. Mungkin karena Ayah sudah terbiasa menerima uang sebanyak itu.


"Baik lah, saya akan lakukan ritualnya minggu depan dimalam jumat kliwon. Saya harap anda datang membawa foto, nama, dan tanggal lahir si target," pinta Ayah

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum lepas tanpa mengingat dosa yang sudah menghampirinya


"Baik Pak, saya akan datang lagi nanti," ucapnya sembari menyodorkan tangannya untuk bersalaman kepada Ayah.


Setelah laki-laki itu pergi dan suasana diluar kamar pun sudah hening. Kini aku yang justru tidak bisa tidur kembali padahal besok aku harus bangun tepat waktu untuk sekolah. Ya, aku masih duduk dikelas tiga SMA. Dua bulan lagi aku akan mengikuti ujian kelulusan sekolah. Aku bersekolah di sekolah swasta yang cukup bunafit yang dimana manusianya tidak ada kecendrungan mengurusi hidup orang lain. Semua yang ada disitu datang hanya untuk belajar itu sebabnya Ayah sengaja memilih sekolah di kota supaya mereka juga tidak tahu pasti apa pekerjaan utama Ayah. Oleh sebab itu semua guru, staff beserta jajarannya hanya tahu kalau Ayah seorang petani sukses.


Padahal aku sudah berusaha memejamkan kedua mata, juga mengarahkan pikiranku ke arah ketenangan tapi rupanya aku benar-benar tidak bisa tidur karena pikiranku tiba-tiba saja gelisah seperti ada yang menggangguku tapi dia tidak terlihat.


Malam semakin larut semakin sunyi dan senyap hanya ada suara jangkrik yang terdengar jauh ditelinga, diiringi oleh suara detik jam dinding yang terus berputar tanpa lelah sampai akhirnya jarum pendek Jam dinding menunjukkan jam lima pagi. Karena rumah ini jauh dari penduduk setiap shubuh tidak pernah terdengar suara Adzan.


Rumah ini serasa terisolasi dari pemukiman warga.


Langsung saja aku bergegas bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.


Kira-kira setengah enam pagi aku sudah siap sarapan dan akan langsung berangkat ke sekolah dan seperti pagi sebelumnya aku keluar dari kamarku kemudian menghampiri Ayah dan Ibu yang sudah duduk melantai untuk makan pagi bersama.


Ini adalah kebiasaan kami dipagi hari


Ibu menolehku dengan wajah heran karena melihatku yang sudah berseragam lengkap


"Loh, kamu sudah mandi ya biasanya kamu makan pagi dulu setelah itu mandi," ucapnya sembari menata makanan yang sudah dia masak dari semalam.


Jadi, semalaman masakannya Ibu simpan di lemari pendingin kemudian setiap pagi dia panaskan kembali.


Aku hanya tersenyum "Iya, Bu. Semalam aku tidak bisa tidur," ucapku sembari duduk mengacak lalu mengambil piring berisi makanan yang sudah disajikan untukku.


Saat aku bicara seperti itu, Ayah mendehem sekali "Ehem."


Kemudian Ibu melirik Ayah lalu melemparkan lirikannya kepadaku.


Dari situ aku tahu Ayah ingin bicara suatu hal yang serius kepadaku "Ada apa Ayah ?" tanyaku langsung


"Ayah mau bilang kalau sebaiknya mulai dari sekarang kamu harus mempersiapkan diri untuk meneruskan ilmu Ayah," terangnya


Mendengar ucapan Ayah begitu, seketika saja nasi yang aku kunyah terasa hambar.


Rasanya aku ingin dengan tegas menolaknya tapi aku hanya bisa mengangguk pelan


"Iya, Pak,"


Kemudian Ibu melanjutkan alasannya kepadaku "Karena dua bulan lagi umur kamu tepat tujuh belas tahun. Kamu harus siap mental untuk mengetahui dunia lain. Karena nantinya kamu akan bisa melihat dunia lain yang bukan hanya dunia ini saja," jelas Ibu


Mendengarnya aku semakin tidak napsu makan tapi apa boleh buat aku tidak bisa melawan mereka, naluri ku seolah harus tunduk kepada mereka karena mereka orang tua ku.


Aku hanya mengangguk saja walau sebenarnya hati menolak keras "Iya Bu,"


Beberapa menit makan pagi bersama akhirnya Ayah mengantarkan aku dengan mobil hitamnya. Meski pun rumah ditengah sawah tapi Ayah membuat lintasan mobil ke arah rumahnya yang terhubung dengan jalan raya yang biasa dipakai pengendara ke arah yang mereka mau. Itu sebabnya banyak tamu Ayah yang tidak sulit masuk ke area rumah Ayah.

__ADS_1


Ayah sangat posesif kepadaku, Ayah juga tidak pernah memperbolehkan aku bergaul dengan warga sekitar desa ini dan kepada siapa pun itu. Itulah sebabnya sampai hari ini aku tidak memiliki teman dan sampai hari ini juga aku selalu diantar jemput oleh Ayah kemana pun aku pergi.


__ADS_2