
Malam sudah tiba tepat jam sepuluh. Tapi aku lebih memilih mengunci diri di dalam kamar.
Aku tidak mau ikut melakukan penyiksaan itu.
Aku sangat gelisah.
Aku hanya diam memeluk lutut disamping tempat tidur, pintu jendela pun sengaja aku buka untuk menikmati angin malam yang semilir mengibas lembut rambut hitamku yang sudah sepunggung. Didalam benak ku, aku hanya berharap Ayah dan Ibu melupakan ku untuk ikut bersama mereka.
Tapi disela-sela kegelisahanku, tiba-tiba saja sosok bayangan hitam besar menghampiriku. Dia melayang pelan dari arah pintu kamar seolah ingin menyapaku.
Wajahnya memang tidak terlihat karena seluruh tubuhnya hanyalah bayangan hitam tapi meskipun begitu aku tetap merasa ngeri
Sontak saja aku ketakutan kemudian menghindar walau tidak sanggup berdiri.
Aku terus menggeser tubuhku dalam posisi masih duduk sampai akhirnya tubuhku berhenti disudut tembok tepat dibawah dijendela
Aku sangat ketakutan karena baru pertama kali ini aku melihat sosok hitam yang mengerikan dari bayangan manusia.
Tapi dengan cepat bayangan hitam itu pergi entah kemana saat suara Ibu memanggilku dari balik pintu sembari mengetuk pintu
"Tia !"
Tapi aku masih belum bisa merespon Ibu karena napasku terengah-engah, jantungku berdetak lebih kenjang dan seluruh tubuhku menjadi dingin sejenak.
"Tia !" panggil Ibu lagi
"Tia !"
Aku menoleh pintu yang terus digedor Ibu kemudian menarik napas pelan-pelan lalu menjawab Ibu
"Iya Bu !"
"Buka pintunya, sekarang juga kamu keluar dari kamar. Kita akan mulai ritual !"
Mendengarnya tubuhku semakin lemas. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat, sebab aku tidak akan pernah mau.
Tapi didalam benakku tersirat kalau bayangan hitam yang baru saja menemuiku mungkin saja ulah sang ratu yang marah kepadaku. Tapi apa salahku kepadanya, bukankah aku bicara yang benar saat itu kepada Ibu.
Karena aku terlalu lama merespon Ibu, akhirnya Ibu memanggilku dengan suara tinggi yang seolah membentak sembari masih mengedor daun pintu yang terkunci rapat
"Tia !"
Aku hanya menoleh ke arah pintu tanpa menjawabnya.
"Tia !"
Ibu masih saja terus memanggilku tapi aku merasa semakin terpojokkan dengan suara Ibu yang terus menerus seakan memaksaku. Pikiranku menjadi semakin tidak tenang, akhirnya aku mencoba menutup kedua mataku berusaha berpikir berniat untuk melarikan diri saja dari tempat ini tapi sayangnya aku tidak tahu harus kemana.
Sementara suara Ibu semakin mengusik mentalku.
"Buka pintunya Tia !"
Tapi aku tetap diam memeluk lutut yang kini bersandarkan pada tembok.
Sampai akhirnya suara terdengar lebih tinggi dari Ibu. Suara Ayah yang sangar seolah merobek pertahananku untuk menolaknya
"Tia, sekarang juga kamu keluar atau Ayah akan menghukum mu !" ancamnya
Aku benci sekali mendengar ancaman itu sebab jika Ayah sudah mengancam siapa pun itu, dia tidak main-main.
Sambil bangkit berdiri aku meluapkan kekesalan lalu melempar bantal ke arah tembok dengan penuh amarah yang tidak bisa aku tunjukkan kepada mereka. Sebuah pelampiasan emosi yang selama ini aku lakukan tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati aku bergegas membuka pintu dan melihat wajah mereka yang sangat kesal namun mereka berusaha menahan amarahnya
Tanpa bicara apa-apa lagi, Ayah dan Ibu membalikkan tubuhnya yang seakan mengarahkan aku untuk mengikutinya dari belakang.
Akhirnya dengan berat hati aku melangkah ke ruang ritual bersama dengan Ayah dan Ibu.
Rupanya di dalam ruang ritual sudah ada pria yang seminggu lalu datang ingin menyiksa mantan pacarnya. Dia sudah duduk bersila diatas lantai yang tanpa alas sehelai kain pun, dengan gagah dan sangat percaya diri akan keberhasilan ritual malam ini, dia duduk menghadap meja.
Sebelum aku duduk bersama dengan yang lainnya, aku dan dia sempat saling bertatapan muka, tapi entah kenapa aku sangat membencinya. Bagiku dia bukan pria yang gentelmen. Dia hanyalah pria pecundang yang selalu merasa benar.
Kemudian Ayah yang juga bertubuh tinggi kurus itu duduk berhadapan dengan pria itu.
Mereka sangat terlihat serius.
Suasana dalam ruang pun sangat hening tidak seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Apa lagi aku yang hanya diam saja duduk disamping Ibu yang sudah duduk disamping diantara Ayah dan pria itu.
Ayah lah yang menjadi pempimpin ritual. Dia pula yang memulai pembicaraan.
"Apakah data yang saya minta sudah ada ?" pinta Ayah
Pria itu merogok saku kemejanya kemudian menyodorkan foto dan selembar kertas kecil bertuliskan nama dan tanggal lahir sasaran.
"Ini Pak,"
Ayah menerimanya dengan sangat serius kemudian membaca kertas dan melihat foto yang diberikan kepadanya sebentar.
Dengan gerakan perlahan Ayah mengangguk-angguk
Tanpa bicara panjang lebar langsung saja Ayah melegalkan aksinya.
Ditangannya dia sudah genggam data si wanita sasarannya. Ayah mengambil jarum, paku dan silet kemudian dia genggam bersama dengan foto dan kertas kecil lalu dia letakkan didekat tungku tanah liat yang hanya berasap bau kemenyan yang selalu menyala diatas meja ritual
Disaat mulut Ayah komat kamit seperti berbicara kepada makhluk gaib yang hanya dia saja yang bisa lihat. Suasana ruang semakin sangat mencekam tiba-tiba juga terasa sangat dingin dan seperti ada didalam dimensi lain.
Bahasa Ayah sangat asing terdengar seolah sedang berbicara serius dengan yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata
Setelah itu, lalu Ayah mengambil kendi tanah liat yang bertutup lalu memasukkan foto dan kertasnya ke dalam. Tidak ketinggalan Ayah juga memasukkan jarum, silet dan paku yang sudah diasiapkan.
Beberapa saat berjalan Ayah berbicara kepada roh halus yang rupanya itu lah ratu yang dia sembah selama ini.
Terdengar jelas dari mulut Ayah saat ungkapan penutupnya memakai bahasa yang semua orang di negri ini pasti mengerti.
Sembari bersujud dihadapan meja ritual, Ayah lanjut mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada sang ratu.
"Terimakasih wahai ratu ku. Aku akan mengabdi selalu kepadamu. Dengan segala perjanjian yang kita sepakati,"
Setelah beberapa saat Ayah dalam posisi bersujud diikuti oleh aku dan Ibu, suasana ruang ritual seolah kembali seperti berada didalam bumi. Aku sampai merasa dejafu. Momen ini sangat mengacaukan akal sehatku.
Ayah kembali berdiri kemudian membiarkan kendi santet itu diatas meja.
Aku dan Ibu pun kembali dalam posisi duduk.
Kini Ayah sudah kembali duduk bersila menghadap pria itu.
Lalu Ayah bicara kepadanya.
"Apakah saya bisa tahu nama dan umur anda ?"
Pria itu mengangguk "Iya, saya Bram umur saya dua puluh lima tahun,"
"Baik lah, Bapak Bram. Ritual kita sudah selesai",
__ADS_1
Mendengarnya Bram itu terlihat lega, namun dia masih penasaran akan hasilnya
"Lalu, bagaiman hasilnya ?"
Ayah tersenyum kecil.
"Tenang saja, malam ini juga dia sedang bermimpi buruk. Dia sudah diganggu dan besok pagi dia sudah mulai menderita sakit,"
"Sakit yang seperti apa ?"
"Sakit lemah tidak berdaya dan semakin lama dia akan kurus kering lalu mati. Begitulah cara dia menderita,"
Mendengar penjelasan Ayah, Bram tersenyum sangat puas.
"Terimakasih,"
"Ya, tapi ada satu hal yang membuat dia tetap bertahan hidup dalam waktu yang cukup lama meskipun dalam oengaruh santet,"
Bram menatap mata Ayah dalam-dalam seolah merasa kalau sihir yang dikirimkan Ayah malah setengah-setengah.
"Kenapa bisa begitu ?"
"Karena, sang ratu berkata. Pihak keluargannya cukup agamis,"
Bram diam tapi akhirnya tidak permasalahkan hal yang diucapkan Ayah barusan
"Baiklah, yang penting dia menderita kalau pun dalam jangka lebih lama yang penting dia menderita dan mati,"
Ayah mengangguk-angguk pelan.
"Baiklah,"
Tapi Bram menanyakan kembali sesuatu yang membuatnya penasaran juga.
"Lalu, apakah wanita itu bisa sembuh ?"
Ayah mengangguk pelan.
"Bisa saja,"
"Kenapa bisa, dengan cara apa ?"
"Yang paling cepat, menghancurkan lalu membakar kendi yang berisi data si wanita itu sambil dibacakan doa keagamaan,"
Bram tersenyum, dia paham kalau mantan pacarnya tidak akan mungkin menghancurkannya sampai ke ruang ini. Tapi Bram masih saja penasaran.
"Apa mungkin ada yang lain yang bisa menyembuhkannya ?"
Ayah mengangguk
"Ada,"
"Apa itu ?"
"Jika kekuatan keagamaanya setiap hari semakin kuat, itu juga akan bisa menghancurkan santet,"
Bram terdiam seolah mengingat sesuatu, kemudian tersenyum kecil.
"Saya rasa dia tidak akan sanggup dalam imannya karena saya tahu siapa dia,"
"Ya, yang lebih utama itu iman dari dirinya sendiri yang semakin cepat membuatnya sembuh. Jika orang lain yang mendoakannya belum tentu bisa menyembuhkannya. Karena doa akan terpental jauh jika jiwa yang harus menerimanya menolak dengan keras,"
__ADS_1
Bram semakin tersenyum lega seolah dia sangat tahu bagaimana si wanita itu beragama selama ini.
"Baik lah kalau begitu," pungkasnya