PEWARIS ILMU HITAM

PEWARIS ILMU HITAM
RITUAL SESAT


__ADS_3

Seberapa kuat aku menolak perintah mereka disitulah dayaku semakin tidak berdaya sampai akhirnya malam lah yang menjadi penentu nasipku. Jujur saja aku sangat takut dengan ritual setan ini. Jika boleh memilih, lebih baik aku tenggelam dalam kulit bumi saja, hilang dari semua mata yang melihatku, hilang dari semua pikiran yang mengenalku dan aku sudah tidak peduli dengan semua itu, dengan semua lidah manis yang menjanjikan kehidupan yang kekal abadi dan bahagia yang tidak pernah ada putusnya. Semua itu semu ! Palsu dan tidak akan pernah kekal ditanganku.


Namun, ini adalah pembohongan yang tidak bisa aku pungkiri tapi juga tidak bisa aku hindari.


Langit semakin gelap, kali ini tidak ada bintang. Tidak sehangat kemarin.


Kali ini aku merasakan dingin dalam jiwaku, seolah layu karena tahu akan hal yang musrik.


Dulu, sewaktu kecil aku memang selalu bersama mereka, tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan karena tidak pernah mengerti mengapa setiap hari banyak orang asing datang silih berganti. Sampai akhirnya setelah menginjak sekolah SMA lambat laun jiwaku seolah membelah diri dari jiwa mereka. Aku seperti bukan aku yang mereka mau. Aku berrusaha memisah diri dari ajaran mereka, ingin hidup normal seperti anak remaja lainnya. Berkumpul dengan teman, menghabiskan waktu menonton televisi, bermain bersama teman, menyapa orang lain, memberikan senyuman ramah kepada khalayak ramai. Tapi faktanya, aku bagai ayam yang terkurung dalam kandang yang hanya bisa melakukan makan tidur dan buang kotoran di dalam kandangnya sendiri. Ya, bahkan aku tidak berbeda dengan unggas peliharaanya tapi mereka tidak pernah menyadari itu.


Setelah aku bertemu dengan Ibu di dapur, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dalam kamarku kembali.


Aku buka kembali jendela kamarku, aku buka lebar-lebar sampai mataku puas memandang gelapnya hidupku. pandangan hitam meluas menyelimuti pesawahan dan hutan yang jauh dari pelupuk mata.


Angin malam tidak berhenti mengibas rambutku yang panjang terurai tanpa aku sadari air mataku tiba-tiba saja menetes. Butirannya jatuh begitu saja, air mata yang sudah lama tersimpan berrlaur-larut lamanya.


Tapi disini aku tidak mau rapuh, aku tidak mau berdiam saja. Aku haru pergi dari rumah ini malam ini juga.


Aku melihat kebawah jendela, melihat keluar untuk mengukur seberapa tinggi jarak kamar ku dengan tanah, memperkirakan saja supaya saat aku melompat tidak menimbulkan cidera.


Tapi sayangnya rasa ingin pergi itu terpatahkan saat Ibu masuk ke dalam kamarku. Dia sontak mengalihkan pikiranku.


Lantas aku menoleh ke belakang, melihat Ibu membawakan kain putih ditangannya


Ibu juga menyodorkannya kepadaku


"Pakai ini !'


Aku hanya melihat saja, belum mau meraih kain yang sudah ada dihadapanku.


Ibu kembali menyuruhku

__ADS_1


"Pakai ini !'


Tapi aku masih diam, bukan mematung tapi sengaja membuatnya jengkel


Tapi lagi-lagi Ibu tetap menyuruhku


"Pakai ini !"


Itu adalah ucapannya yang ketiga kali yang akhirnya membuat dia geram.


"Apa kamu sudah tidak peduli dengan orang tuamu ?" marahnya


Karena aku juga sudah tidak tahu harus menolak seperti apa lagi akhirnya aku menerima kain putih yang lebih tepatnya adalah kafan.


Melihat aku menerimanya,akhirnya emosi Ibu kembali tenang. Dia kembali berbicara dengan nada yang tenang kepadaku


"Pakai itu sepeerti kamu memakai handuk,"


Ibu mengangguk sambil berbalik badan untuk pergi meninggalkanku " Iya,"


"Segeralah pakai, karena aku dan Ayah menunggumu dibawah" pungkasnya


Meski Ibu sudah pergi tapi aku masih saja berdiri memandangi kain kafan yang akan menjadi busanaku dalam ritual malam ini. Dan aku tidak tahu akan terjadi apa nanti. Aku berharap ada keajaiban yang datang kepadaku, membawaku pergi jauh dari sini. Dari kehidupan yang tidak pernah aku mengerti.


Beberapa menit mematung, akhirnya aku ganti pakaian dengan kafan sesuai perintah Ibu.


Kemudian turun berniat menemui Ayah dan Ibu namun berpapasan dengan Ibu disaat aku sudah mengakhiri anak tangga terakhir, rupanya dia hendak menjemputku dari dalam kamar.


"Lama sekali kamu !" kesalnya, wajahnya merah menahan amarah


Tapi aku hanya diam saja.

__ADS_1


Ibu tidak melanjutkan amarahnya, tapi dia langsung membalikkan badannya yang seolah mengajakku pergi dan mengikutinya dari balik punggungnya.


Perjalanan yang tidak jauh hanya beberapa tapak dari rumah, tempat yang tepat dibelakang rumah yang gelap gulita, hanya ada satu lilin putih yang menjadi penerang. Lilin yang diberikan alas piring yang diletakkan dekat sumur tua yang sudah ada jauh sebelum Ayah membangun rumah.


Jadi, singkat cerita. Aku masih ingat disaat umurku empat tahun, aku pernah tinggal di gubuk tua ditengah pesawahan ini. Gubuk kecil yang dibuat oleh Ayah sendiri dari batang pepohonan yang dia tebang sendiri. Tidak ada seorangpun yang peduli kepadanya mungkin karena kami orang miskin yang bagai terbuang.


Dan sumur inilah yang menjadi satu-satunya sumber air bagi kami, mencuci, masak, minum, mandi. Karena airnya bening dan tidak pernah kering meskipun dalam kemarau panjang sekalipun, sumur ini seolah menjadi tanda kalau Ayah masih punya harapan untuk menghidupkan keluarga kecilnya.


Seiring berjalannya waktu, tahun mengubah umurku menjadi delapan tahun. Ayah mengaku kalau seorang ratu yang cantik menawan datang kedalam mimpinya disaat Ayah lelap di malam hari. Ratu berkata kalau dia adalah pemilik sumur ajaib ini, itu sebabnya sumur ini seolah ada yang mengendalikan airnya supaya isi airnya tetap stabil.


Ayah sangat percaya akan hal itu, dia percaya kalau kembang tidurnya adalah suatu pertanda baik baginya. Dari situ lah Ayah mengagumi sumur ini.


Seiring berjalannya waktu, Ayah pun selalu diberikan pertanda dalam mimpinya. Setiap mimpinya selalu ada maknanya, itu yang Ayah pelajari dari maksud dan tujuan dalam mimpinya hingga sampai akhirnya sampailah sampai sekarang ini.


Saat aku kecil aku memang tidak tahu apa-apa, saat itu aku merasa kalau apa yang Ayah dan Ibu lakukan adalah hal yang sewajarnya orang lain lakukan. Karena aku juga tidak ada orang lain yang menjadi pembanding.


Tapi semakin aku beranjak dewasa, apa lagi Ayah menyekolahkan ku, akhirnya aku ada pembanding antara orang tuaku dengan orang lain. Dari situlah aku belajar ada yang tidak beres dari keluargaku meskipun pada kenyataannya aku tidak punya teman seorangpun karena memang aku tidak berani untuk berteman, aku malu dan gugup. Aku terbiasa hidup menyendiri dan lebih nyaman sendirian tanpa orang lain disisiku meskipun pada kenyataanya hati kecilku ingin seperti mereka yang berkumpul bersama, bernyanyi, bercanda, saling tukar cerita dan lainnya. Tapi sekali lagi aku bukan introvert tapi aku memang memilih untuk memisah diri.


Angin malam semakin menusuk kulitku, berhembus kencang membelai tubuhku. Sesekali aku menggigil kedinginan karena kini tubuhku hanya dilapisi kain yang hanya menutupi bagian dada sampai paha ku saja.


Ayah dan Ibu sudah menyiapkan perlengkapan ritualnya. Ada banyak bunga yang rupa-rupa macamnya. Wangi bunga dengan tambahan pewangi extra melati membuat kepalaku menjadi sedikit pusing karena harumnya sangat menyengat tajam.


Entah jam berapa sudah, yang pasti malam ini sangat dingin dan sangat mencekam. Ayah mengambil air sumur yang sudah dia campurkan dengan bunga-bunga kemudian tanpa aba-aba lantas menyirami tubuhku yang tetap berdiri tegak menghadap wajahnya.


Burrrrh


Aku menggigil sangat kuat. Menekuk tubuh bagai kucing yang tengah kedinginan


Tapi Ayah tidak peduli itu, dia tetap terus menyirami tubuhku sambil mulutnya berbahasa lain yang hanya dia yang tahu artinya.


Sementara aku tidak bisa berontak , hanya bisa diam menerima apa yang menjadi harapan mereka. Lagi pula, bagaimana mungkin aku bisa berbicara sementara gigiku saja sudah saling menggertak karena menahan dingin yang sangat parah.

__ADS_1


__ADS_2