PEWARIS ILMU HITAM

PEWARIS ILMU HITAM
GENAP TUJUH BELAS TAHUN


__ADS_3

Dua minggu lagi aku akan lulus sekolah, aku meminta kepada Ayah kalau aku ingin kuliah di Jakarta saja. Itu adalah permintaanku supaya aku tidak berhubungan dengan pekerjaan Ayah dan Ibu. Tapi sampai sekarang Ayah hanya diam saja, sudah pasti dia tidak tertarik dengan tawaranku. Siang ini aku tidak merasa lapar sama sekali bahkan aku tidak terrtarik untuk keluar kamar sekedar bertemu Ayah dan Ibu seperti biasanya. Sejak tadi sepulang sekolah aku hanya diam saja lalu masuk ke dalam kamar kemudian membuka jendela kamar. Menikmati tiupan angin laut yang menyapa jiwaku yang kali ini terasa kosong. Sesekali aku menghela napas sembari memandangi lautan padi yang hijau, daunnya seolah menggulung diterpa angin seakan juga memberikan isyarat kalau aku harus sekuat mereka. Ah, sial. sama sekali aku tidak bisa berpikir jernih siang ini. Pikiranku kacau, tanganku gemetar dan tubuhku lemah. Bukan karena aku lapar tapi karena sangat takut kalau hari ini umurku genap tujuh belas tahun.


Tiba-tiba saja dari balik punggungku terdengar suara pintu dibuka


kreeek


tapi aku tidak menolehnya sama sekali, aku tahu yang masuk ke dalam kamarku kalau bukan Ayah ya pastinya Ibu. Aku hanya diam terpaku memandang luar jendela membiarkan angin mengibaskan rambut panjangku. Aku juga membiarkan suara tapak kaki yang berjalan pelan menghampiriku. Tapi aku tetap tidak mau menolehnya karena hari ini aku sangat galau.


Aku tetap tidak peduli siapa pun diantara mereka yang datang sampai akhirnya tangan lembut menyentuh pundakku dari balik badanku.


Saat itulah aku membiarkan diriku menoleh kebelakang.


Rupanya tidak ada siapa-siapa selain aku. Dan bahkan pintu kamar pun masih tertutup rapat.


Sontak saja aku merinding merasa aneh dan semakin gemetar. Suasana kamar pun semakin hening dan terasa lebih dingin dari sebelumnya.


Beberapa detik kemudian muncul suara misterius ditelinga kiri, suara berbisik tapi tidak jelas dia bicara apa. Suara yang terdengar menakutkan membuat pikiranku semakin kacau balau.


Aku tidak tahan dengan suara misterius itu akhirnya aku meluapkan emosiku, aku marah kepadanya yang tidak terlihat keberadaannya. Aku berbicara kepada siapa pun dia sambil melihat ke segala sisi di kamar ku. Aku berharap dia takut kepadaku


"Kalian ini hanya peliharaan Ayah dan Ibuku, kalian tidak lebih tinggi derajatnya dari aku bahkan hewan sekalipun. Siapa pun kamu siapa pun kalian aku tidak pernah takut !"


Saat aku berkata seperti itu, angin masuk ke dalam kamar cukup kencang tapi tidak sampai merobohkan tubuhku.

__ADS_1


Disitulah aku melihat sosok wanita dewasa berdiri di depanku, dia sangat cantik kulitnya putih bersih berpakaian kain kuning dengan hiasan bunga-bunga segar dikepalanya. Dia menatapku dengan tatapan tajam dan tersenyum sinis seolah ingin menghakimi. kakinya tidak menapak pada lantai namun dia melayang dengan selendang kuning yang melilit dibahu tangannya yang melambai karena tiupan angin yang sudah kembali tenang


Jujur, sebenarnya aku sangat takut dan rasanya ingin teriak untuk meminta pertolongan Ayah dan Ibu tapi aku gengsi dan aku juga merasa kalau inilah saatnya aku bicara kepadanya supaya dia tahu kalau aku tidak pernah mau menuruti segala permintaan mereka.


"Apakah kamu adalah ratu yang dimaksud Ayah dan Ibu ?' tanyaku


Tapi dia hanya tetap menatapku dan tetap tersenyum sinis.


Tapi aku tetap bicara kepadanya, aku harus memberanikan diri


"Mungkin memang benar kalau kamu lah ratu yang selama ini mereka puja. Tapi jangan pernah berharap banyak kepadaku karena aku tidak pernah mau melakukannya karena aku manusia normal bukan manusia dari golongan kalian,"


Saat aku bicara seperti itu, angin kembali kencang namun beberapa detik kemudian kembali tenang.


Disituah ratu mulai bicara kepadaku "Kamu tidak akan pernah bisa kemana-mana, karena Ayahmu sudah melakukan perjanjian kepadaku. Aku sudah memberikan banyak sekali apa yang Ayah dan Ibumu minta. Jadi, bicaralah sesuai apa yang seharusnya kamu lakukan,"


Ratu tersenyum mendengar perkataanku kemudian kembali bicara santai kepadaku "Ingatlah, kemana pun kamu pergi !" tutupnya


Saat dia bicara seperti itu kemudian pelan-pelan tubuhnya menghilang.


Saat itu juga aku membuka kedua mataku yang terasa mengantuk berat. Aku tersadar kalau sejak tadi aku tertidur dibawah jendela. Tubuhku menggigil dan sangat lemas.


Pelan-pelan aku bangkit berdiri lalu memandang luar jendela yang sudah memberikan pemandangan langit senja. Guratan-guratan cahaya jingga menandakan kalau sekarang sudah saatnya.

__ADS_1


Aku duduk diatas kasur menatap langit yang semakin gelap, aku tahu kalau tadi itu bukan lah mimpi omong kosong tapi pasti itu adalah suatu pertanda kalau aku harus terikat dengan urusan mereka. Ini juga pertanda kode keras dari dalam jiwaku supaya aku harus melarikan diri dari rumah ini tapi sampai saat ini aku belum tahu bagaimana caranya.


Sumpah, jika aku bisa memilih kepada siapa aku hidup, maka aku akan memilih hidup sendirian saja.


Sebenarnya aku tidak mau turun ke dapur untuk sekedar makan karena aku takut nanti akan bertemu dengan Ayah dan Ibu tapi karena aku sangat lapar bahkan sampai mengigil akhirnya aku putuskan juga untuk kebawah dengan segala resiko yang akan aku hadapi.


Saat aku menuruni anak tangga bau kemenyan yang dibakar lantas menyambutku, aromanya sangatlah kuat dan aura magis nya sangat lah tajam menusuk dadaku.


Suasana ruang bawah rupanya sepi meski cahaya lampu sangatlah terang. Aku tidak tahu Ayah dan Ibu berada dimana. Tapi aku tidak peduli mereka ada dimana, kali ini aku hanya ingin makan dan terus mengikuti langkah kaki yang mengarah ke dapur.


Tapi sialnya, tidak ada makanan sedikitpun bahkan tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak. Semua lemari makanan kosong seperti dapur yang baru dibuat.


Tapi meski begitu aku tetap saja mencari-cari makanan apa saja itu yang setidaknya bisa mengganjal perut, meskipun lemari yang sudah aku cek berkali-kali aku lihat tidak ada makanan secuil pun.


"Kamu cari apa ?" suara Ibu mengagetkanku


Lantas saja aku menolehnnya dan menjawabnya "Makanan,"


Ibu tersenyum dia kembali menjawabku "Makanan apa yang kamu cari ? Bukankah hari ini harus kamu puasa ?"


Mendengarnya aku terdiam dan kembali mengingat kalau tadi pagi aku memang tidak makan pagi lalu di sekolah pun aku tidak napsu jajan dan sampai detik ini aku tidak makan sama sekali, minum pun tidak. Bahkan itu pun tidak aku sadari. Aku pikir aku hanya terlalu stres memikirkan perkara ini tapi ternyata diam-diam mereka sudah menyeting mentalku.


"Apa ini semua perbuatan Ibu ?" Tanyaku pelan

__ADS_1


"Bukan Ibu tapi Ayahmu"


Aku diam tidak tahu harus bicara apa lagi dan seketika saja rasa laparku hilang meskipun aku tidak merasa kenyang.


__ADS_2