PEWARIS ILMU HITAM

PEWARIS ILMU HITAM
MALAM JUMAT KLIWON


__ADS_3

Siang ini sepulang sekolah tepat jam tiga. Ibu mengajakku ke ruang praktek yang selama ini lantainya belum pernah aku injak. Karena dipantangkan bagiku sebelum umurku cukup.


"Ayok masuk, kita harus mempersiapkan untuk ritual nanti malam,"


Saat mendengarnya aku teringat kepada sosok pria yang datang seminggu lalu dan akan datang kembali ke sini untuk melancarkan niat busuknya.


Karena hari ini tepat malam jumat kliwon, malam yang selalu membuat Ayah dan Ibu sibuk dengan segala rupa ritualnya. Disetiap menjelang malam jumat kliwon ada banyak yang mereka kerjakan dan sampai hari ini aku tidak tahu ritual macam apa yang akan mereka lakukan karena persyaratannya sebelum umurku tepat tujuh belas tahun aku tidak diperbolehkan tahu segala hal tentang perdukunan mereka.


Tapi pikiran kepada pria itu hanya sekelibatan saja dan lebih fokus kepada seisi ruangan yang terasa mencekam. Ruangan memang cukup luas tapi hanya ada satu meja kayu panjang cukup lebar dengan banyak kendi dan patung aneh berjejer, harum dupa dan bunga berbagai rupa yang sangat menyengat seolah menyambut kedatanganku yang perdana.


Bukan hanya itu saja, ruangan ini pun auranya sangat terasa menyedihkan entah kenapa aku bisa merasakannya sampai kedalam dada seolah banyak tangisan kesedihan yang mendalam yang sudah lama terjebak diruang ini. Itu lah yang membuat detak jantungku mendadak berdenyut lebih cepat dari sebelumnya.


Rupanya Ibu menyadari akan sikapku yang hanya plonga-plongo tanpa bergeming.


Kemudian telapak tangan Ibu mendarat lembut dipundakku, dia menepuk beberapa kali sampai aku tersadar kalau aku tengah bersamanya.


"Heh," ucapnya sembari menatap dalam kedua mataku.


"Iya Bu," jawabku.


Tapi Ibu tidak ambil pusing dengan sikapku barusan, justru dia memulai penjelasan apa saja yang terjadi dalam ilmu perdukunannya.


Sembari dia melangkah pelan ke arah meja persembahyangannya, Ibu bicara dengan santai kepadaku. Bagai seorang guru profesional yang hendak menjelaskan reaksi kimia atau ilmu fisika.


"Tia, kemari lah," ajak Ibu supaya aku begegas menghampirinya.


Aku melangkah ke arahnya sesuai maunya.


Kini aku dan Ibu saling berhadapan didepan meja ritual yang seakan-akan aku merasakan kalau meja ini ada banyak tersimpan roh jahat yang bersemayam.


Tapi itu mungkin hanya perasaanku saja.


Kini Ibu mulai bicara sangat serius kepadaku meski selama ini dia selalu bicara dan bernada serius kepadaku tapi ini adalah momen yang paling baku.


"Tia, Sekarang kamu harus tahu apa saja yang ada di meja ini," ucap Ibu seraya mengarahkan pandanganku ke arah meja


Tapi aku hanya melihatnya sebentar kemudian kembali menoleh wajah Ibu dan tidak banyak bicara, aku tetap diam dan berusaha tenang walau sebenarnya didalam hati aku sangat ketakutan.


Ibu tersenyum kemudian menjelaskan dengan suara pelan namun tegas terdengar sembari menunjukkan bunga mawar dan melati bercampur kantil dalam satu wadah bulat.


"Tia, Ini adalah bunga-bunga kesukaan ratu,"


Aku mengernyitkan dahi "Ratu, ratu siapa Bu ?"


Ibu tersenyum misterius kali ini sorot kedua matanya terasa kosong.


"Ratu yang selama ini melindungi kita dan memberikan kita kekuatan untuk keberhasilan ritual Ayah selama ini. Kalau tidak ada beliau kita tidak akan menjadi siapa-siapa,"


Mendengar penjelasannya sontak saja aku terkejut, sampai-sampai bulu kuduk ku bergidik.


Aku kaget sampai terperangah menatap wajah Ibu yang amat santai dan terlihat sumringah menyebut kata ratu. Entah siapa sebenarnya ratu itu aku pun tidak tahu.


"Hah !"


Ibu masih terlihat tanpa beban menjelaskannya, seolah memang benar kalau sumber kehidupan kami berasal dari sang ratu.


"Iya benar itu lah gambaran kebaikan dari sang ratu, nanti malam dia akan datang karena kita akan panggil dia. Dan nanti malam kamu sudah harus ikut untuk mempelajarinya,"

__ADS_1


Mendengar penjelasan Ibu yang semakin membuat aku bingung akhirnya aku hanya bisa terus mempertanyakannya.


"Aku masih belum paham, Bu."


Ibu tersenyum kepadaku seolah dia tidak begitu memaksakan kehendaknya tapi disisi lain dia inginkan aku menjadi pewarisnya.


"Untuk saat ini kamu hanya diberi kesempatan untuk memahami dulu ritme ritualnya supaya jika nanti umurmu tepat tujuh belas tahun kamu sudah bisa ritual secara resmi dan kamu harus melakukannya karena jika tidak maka...,"


"Maka apa Bu ?"


Ibu diam sejenak kemudian dia melanjutkan ucapannya lagi.


"Maka, akan ada celaka yang akan merenggut nyawa,"


"Nyawa siapa ?"


"Nanti juga kamu akan tahu," tutupnya


Tapi aku tetap memaksa Ibu untuk menjawabnya


"Tapi aku mau tahu sekarang juga. Nyawa siapa Bu ?"


"Kita," jawabnya


"Hah !"


Ibu mengangguk.


"Ya, Kita akan mati jika kita menodai perjanjian kepada sang ratu yang sudah memberikan segala kebaikannya kepada kita,"


"Hah !"


"Bagaimana mungkin makhluk gaib bisa menyelamatkan manusia, Bu ?"


Melihat sikapku yang terus terperangah kemudian Ibu menatapku sangat dalam meski nada suaranya masih pelan tapi kalimatnya cukup tajam.


"Kamu ini kenapa sih, seperti merendahkan sang ratu. Kamu tidak boleh menyepelekan beliau ?"


Mendengarnya aku semakin muak dan harus bisa memberanikan diri untuk menolaknya.


"Tapi aku tidak bisa melakukannya, Bu."


Ibu terdiam tapi kedua matanya terus menatapku.


Pada akhirnya aku hanya diam seolah menerima kesalahan yang entah kesalahan apa yang aku perbuat kepada sang ratu.


Ibu masih tetap mengarahkan aku untuk ikut memuja sang ratunya.


"Kamu harus tahu diri apa bagian kamu di sini. Ayah dan Ibu sangat ingin kamu menjadi pewaris,"


Mendengarnya aku semakin berusaha menolaknya namun disisi lain aku sangat kecewa dan terasa putus asa kalau penolakan aku tidak akan pernah membuahkan hasil.


"Kalau aku harus jadi pewaris, mengapa aku disekolahkan. Kenapa aku tidak dipasung saja, Bu,"


"Karena kamu harus punya kegiatan selama menunggu tujuh belas tahun,"


Aku semakin kesal mendengar jawaban yang tidak ada bobotnya.

__ADS_1


"Kegiatan macam apa ?" tegasku "Belajar di sekolah kah yang Ibu maksud ?" sambungku.


"Iya, itu benar sekali. Tapi rupanya sekolah menjadikan kamu peluru bagi kami,"


Aku terdiam namun Ibu masih saja bicara.


"Ibu dan Ayah sudah memperhatikan kamu, sampai hari kamu semakin menjadi orang lain. Tidak bisa kami genggam,"


Aku menjawabnya dengan tenang.


"Ayah dan Ibu terlalu menginginkan aku untuk masuk ke dalam lembah hitam kalian, sementara aku selama ini terbiasa bermain dengan bayanganku sendiri. Bertanya dan meratap bersamanya. Ibu dan Ayah lupa kah kalau selama ini Ibu dan Ayah tidak pernah ada bersamaku. Jadi, apa yang salah dari aku ?"


Mendengar ucapanku begitu Ibu mulai marah kepadaku, perasaan kesalnya terpancar dimatanya dan raut wajahnya yang muram seolah tidak membenarkan perkataanku.


"Tutup mulutmu. Dan segerahlah mengakui kesalahanmu kepada kami orang tua mu terlebih kepada ratu,"


"Jika aku tahu apa kesalahanku, aku mau berlutut dikakinya,"


Plakkk !


Tamparan keras mendarat dipipi kananku.


Ibu sangat murka disitu.


"Kamu yang sudah Ibu lahirkan dan Ibu besarkan tega sekali kamu membantah orang tuamu !"


Aku hanya diam berusaha untuk tidak menangis dihadapannya.


"Ibu dan Ayah akan tetap membawamu menjadi pewaris kami. Kamu harus tahu itu,"


Kali ini aku menjawabnya lagi.


"Jika pilihannya adalah kematian bagiku, maka aku lebih baik mati ditangan Ibu dan Ayah,"


Mendengarnya Ibu semakin marah tapi dia tidak menamparku lagi, dia berusaha menahan amarahnya terlihat jelas dari kedua matanya yang membendung air mata kemarahan.


"Apakah sekolah mengajarkan mu untuk melawan orang tua mu ?"


Aku menggelengkan kepala "Tidak"


"Lalu kenapa kamu bisa melawan kami ?"


"Sekolah hanya mengajari kami tentang adab kemanusiaan, tentang berbagi tentang toleransi tentang moral dan tentang menghormati orang tua,"


Ibu mengangguk pelan.


"Jika menghormati orang tua juga ada dalam pelajaranmu kenapa kamu tidak menghormati kami ?"


"Karena Ibu dan Ayah tidak ada dalam pelajaran adab kemanusiaan,"


Ibu semakin kesal mendengarnya, napasnya terengah-engah seolah terus berusaha menahan amarahnya.


Tapi Ibu masih mau bicara kepadaku.


"Jika kamu menganggap Ibu dan Ayah tidak ada adab kemanusiaan tapi kenapa kamu hidup sebaik ini ?"


"Karena Ibu dan Ayah punya agenda untukku"

__ADS_1


Ibu tersenyum kemudian dia menghela napasnya lalu menatapku dengan kedua mata yang masih merah berair


"Rupanya kamu tidak tahu kepada siapa kamu berhadapan. Tia."


__ADS_2