
Dunia itu sangat luas
dunia itu begitu indah
dunia juga begitu menyenangkan.
Untuk mereka yang terlahir dengan keberuntungan.
Dan bagi mereka yang mampu untuk melihat, mendengar,dan merasakan kenikmatan itu.
Tapi untukku, hanya keringat, Luka, Darah, Air Mata, Hinaan, dan Kata Kata kasar. Hanya itu yang bisa ku lihat, Kudengar, dan Kurasakan selama ini.
Dunia yang begitu terang bagi mereka, justru sangat gelap bagiku. Ingin rasanya aku menyerah,dan mencoba untuk mengakhiri segalanya.
Namun aku tak bisa, saat ini masih ada satu cahaya, yang masih memberiku penerangan, di dalam hidupku yang begitu gelap.
Ali Bagus, Nama anak itu. Yang memiliki nasib begitu malang, bahkan sebelum mulutnya bisa mengucapkan sebuah kalimat. Dan kini di usianya yang masih begitu rapuh, Yang masih membutuhkan kasih sayang, bimbingan, dan perhatian, dari orang tua.
Justru sudah menghadapi pahit dan kekejaman dunia. hanya agar bisa bertahan hidup bersama dengan neneknya.
Tangannya kasar, baju nya lusuh, dan kumal. Tubuhnya kurus, terlihat dari tulang tulang selangkanya yang begitu jelas. tubuhnya nya begitu kecil. Dia begitu terlihat menyedihkan.
hari ini ali sedang bekerja, pekerjaan apapun akan dia lakukan selain meminta minta, karena nenek ny tak pernah mengizinkan itu. asalkan iya bisa pulang dengan membawa makanan untuk nenek nya, ali akan melakukan apapun Yang orang orang perintah.
**********
" Ali.....gawat nenekmu, dia.....dia tadi pingsan" ucap buk jumi salah satu tetangga dekat ali, dengan suaranya yang masih tersegat segat karena berlari.
" Nenek.....? pingsan...? " dengan wajah terkejut.
" iya warga sudah membantu membawa nenek sari, sekarang nenek sari lagi ada di puskesmas dekat balai desa "jelas buk jumi.
Dengan segala ketakutan yang ada dalam dirinya , ali langsung berlari menuju puskesmas yang bu jumi katakan.
Sejak kecil, hanya neneknya lah yang merawat dan selalu ada di samping ali, hingga saat ini. Dan yang menjadi satu satunya harapan dan alasan baginya untuk tetap berusaha dan bertahan.
Nenek Sari , dia lah nenek ali , ibu dari ayah nya ali. Satu satunya penerang bagi kehidupan ali, yang begitu suram dan gelap.
" Nenek jangan tinggalkan ali, ali takut nek...." ucap ali dalam hati, sambil berlari dengan sekuat tenaganya.
Tak terasa air mata sudah bercucuran dari matanya, iya takut ditinggalkan oleh nenek sari, satu-satunya keluarga yang iya miliki.
sesampainya ali di puskesmas, ali langsung memasuki puskesmas, dan mencari keberadaan nenek nya. Lalu ia pun melihat pak Jaya, orang yang membantu membawa neneknya.
" pak Jaya.....nenek dimana..? " tanya ali dengan raut wajah yang sangat khawatir.
__ADS_1
" untung kamu sudah datang, tadinya saya berniat mencari kamu, " ucap pak Jaya, dengan wajah cemas.
" iya tadi buk jumi memberi tahu saya " ucap ali.
" ya sudah, ayo cepat dari tadi nenekmu manggil manggil nama kamu terus " ucap pak Jaya, lalu menarik tangan ali dan membawanya kedalam ruangan nenek sari di rawat.
Di dalam ruangan nenek sari, " Nenek....,nenek kenapa..? apa yang sakit....? nenek maafin ali....., ali janji nggak akan ninggalin nenek lama lama lagi..." ucap ali dengan mengeluarkan air matanya, iya menangis sambil memeluk neneknya.
Tiba tiba sebuah tangan yang begitu lemah, dan terpasangkan selang infus, mengelus kepala ali.
" Ali....., cucu nenek...., jangan nangis....., " ucap nenek sari dengan lemah.
" Nenek......" Ali mengucapkannya dengan berderai air mata.
"Nenek jangan tinggalin ali ya....nenek kan udah janji sama ali, mau makan makanan enak sama ali nanti, sekarang ali lagi cari uang, supaya nenek bisa makan enak sama beli obat."ucap ali dengan wajah polosnya dan suara nya yang terbata bata karena menangis.
sesederhana itu keinginannya, keinginan dari bocah kecil itu.
"Ali.....ali harus jadi anak yang kuat ya...., cucu nenek kan sudah besar, sekarang waktu nenek tinggal sedikit, kalau nenek pergi, ali jangan nangis ya...." ucap nenek sari masih dengan suara nya yang lemah.
Ali menganggukkan kepalanya " Ali janji bakalan jadi anak yang kuat buat nenek, ali nggak akan nangis lagi, tapi nenek cepet sembuh, nanti ali pijitin kaki nenek di rumah setiap hari. " ucap ali masih dengan wajah polosnya.
sejujur nya ali masih belum memahami kondisi neneknya saat ini, dia hanya mengira neneknya hanya pingsan,dan akan sembuh dengan istirahat.
Nenek ali sebenarnya sudah mengidap penyakit komplikasi, seperti gula darah yang tidak stabil, diabetes, bahkan satu ginjalnya pun sudah rusak. karena selama ini nenek ali berusaha bekerja keras seorang diri. Dia ingin memberikan kehidupan yang layak untuk ali.
" maafkan nenek ya ali...., karena nenek nggak bisa temenin ali lagi "ucap nenek sari
" kenapa...," tanya ali
"karena nenek harus pergi...." ucap nenek sari.
" pegi kemana..? " tanya ali masih dengan wajah nya yang polos.
"Nenek nggak pergi jauh ko, karena nenek akan selalu ada disini" menunjuk dada ali
"ha...ah, nenek bisa masuk ke dada ali..." tanya ali.
Nenek Sari hanya bisa tersenyum sambil memejamkan kedua matanya, Kini iya sudah benar bener tidak memiliki tenaga lagi.
" Ali....tolong bantu nenek, tuntutan nenek untuk mengucapkan kalimat syahadat " ucap pak ustad.
walaupun tidak pernah bersekolah, ali selalu belajar Mengenai agama setiap malam, di musholla yang berada dekat dengan rumah nya, tentu saja itu juga atas perintah nenek sari. Karena itu adalah hal yang penting. dan karena nenek sari ingin ali yang menjadi orang yang akan menuntun nya di saat saat akhir hayatnya.
Ali memandang neneknya, dia bingung kenapa dia harus melakukan itu, Tapi ia tak menanyakan nya, dan menuruti kata kata pak ustad, lalu sambil menggenggam tangan neneknya.
__ADS_1
" Nenek ikutin kata kata ali ya......," ucap ali.
Ali menuntun nenek nya untuk menucapkan kalimat syahadat untuk Yang terakhir kalinya, Dan nenek sari pun mengikuti suara ali, dengan nada yang tersegat segat, sambil berusaha mempertahankan nafasnya. Dan kini nenek ali pun meninggal dunia, dan pergi dengan senyum diwajah nya.
" Nenek....." melihat nenek nya menutup mata dan tangan yang sedari tadi ali genggam sudah lemas, ali merasa lebih khawatir, iya mengguncangkan tubuh neneknya.
" Nenek bangun...jangan tunggalin ali...., Nenek bangun nek....." kini ruangan itu hanya di penuhi oleh suara tangisan ali.
Semua orang yang melihat nya pun ikut menangis, kinih bocah itu benar benar sendirian, walaupun kedua orang tuanya masih hidup, mereka tidak pernah sekalipun menjenguk ali dan nenek sari. sudah tujuh tahun lamanya.
*********
Di rumah nenek sari kini sudah sepi, hanya tinggal ali dan beberapa tetangga dekat nya dan pak ustad.
tiba tiba seorang lelaki yang memakai setelan jas masuk dengan tergesa gesa
" Ali.....cepat kemasi barang barang kamu, ikut dengan papah. " Orang yang tidak pernah datang selama tujuh tahun, kini tiba tiba datang dan meminta ali ikut pergi bersamanya. Orang itu ada lah andi wijaya, ayah kandung ali , dan tak lain anak dari nenek sri.
Bahkan ia tidak menanyakan mengenai alasan kenapa ibunya meninggal, tidak ada kecemasan dan rasa sedih sedikit pun dari wajahnya.
semua orang terkejut dengan kedatangannya, dan Kata kata nya yang tiba tiba mengajak ali pergi.
Bukan tanpa alasan, dulu sebelum ali di urus oleh nenek sari. Ali pernah di asuh oleh ayahnya, saat itu usia ali masih 3 tahun.
Ali sering mendapatkan kekerasan dari ayahnya, ayah ali menikah kembali setelah bercerai dengan ibu nya yang bernama ayu putri kusuma.
begitu pun dengan ibu ayu ibu kandung ali. Dia menikah kembali dan memiliki seorang putra.
sedangkan ayahnya ali dengan istri barunya, mereka belum di karuniai anak sampai sekarang.
Walau begitu ayahnya tidak pernah memberikan perhatian kepadanya walau hanya sedikit.
*********
" pak andi, nenek sari baru saja meninggal dunia, dan anda tidak ikut pergi kepemakaman nya tadi, apakah anda sudah kesana..? " tanya salah seorang tetangga ali, yang masih berada di rumah nenek sari.
" nanti saja aku sibuk, ali cepat kita tidak punya banyak waktu " suruh pak andi, ayah ali.
tiba tiba seorang wanita datang,
" tunggu......, kamu nggak berhak membawanya. "ucap wanita itu sambil berteriak dari depan pintu.
__ADS_1
Bersambung..........